Kasus Anak SD Diduga Bunuh Ibu di Medan: Pelaku Tak Terluka, Suami Korban Berbohong

Kejanggalan dalam Kasus Pembunuhan Ibu oleh Anak SD

Kasus kematian Faizah Soraya (42), seorang ibu rumah tangga yang ditemukan tewas di rumahnya di Jalan Dwikora, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, Sumatra Utara, mulai menghadirkan banyak pertanyaan. Putri bungsu Faizah, SAS alias Al, yang masih duduk di kelas 6 Sekolah Dasar (SD), mengaku sebagai pelaku tunggal pembunuhan tersebut. Namun, keluarga besar korban merasa ada beberapa kejanggalan yang tidak bisa diabaikan.

Salah satu anggota keluarga, Dimas, memberanikan diri untuk membeberkan fakta-fakta yang menurutnya janggal dan tidak wajar. Menurutnya, keluarga meragukan pengakuan Al sebagai pelaku tunggal. Mereka mempertanyakan logika dari peristiwa tersebut, terutama karena banyak hal yang tidak sesuai dengan kronologi yang diberikan.

Bacaan Lainnya

Waktu dan Lokasi Kejadian

Menurut informasi yang diterima keluarga, penikaman terjadi pada pukul 03.00 WIB. Pada saat itu, Al disebut sedang tidur bersama kakaknya di kamar lantai bawah, sementara sang ibu juga berada di kamar tersebut. Sementara itu, suami korban diketahui berada di kamar lantai atas. Namun, Dimas mempertanyakan mengapa Faizah tidak berteriak atau meminta pertolongan meskipun diserang puluhan kali.

Kondisi Korban Saat Ditemukan

Kejanggalan lain muncul setelah warga mengetahui bahwa Faizah diduga ditusuk hingga 20 kali. Menurut keterangan sopir ambulans, kondisi korban saat ditemukan masih bernapas dan menunjukkan tanda-tanda hidup. Namun, ambulans menolak membawa korban karena adanya miskomunikasi soal penyebab luka. Hal ini membuat keluarga bertanya-tanya mengapa tidak ada upaya meminta bantuan warga sekitar selama waktu antara pukul 03.00 WIB hingga ambulans datang.

Permintaan Terakhir Korban

Kejanggalan ketiga yang diungkap Dimas adalah tentang permintaan terakhir korban. Saat masih hidup, Faizah sempat meminta diambilkan minum. Warga yang mendengar permintaan tersebut kemudian melaporkan kejadian tersebut ke pihak berwajib. Namun, polisi baru tiba di lokasi kejadian sekitar pukul 05.00 WIB.

Jumlah Luka Tikaman

Dimas juga meragukan apakah Al, yang masih duduk di kelas 6 SD, benar-benar mampu menusuk ibunya sebanyak 20 kali. Menurut logika, jika korban tidak dibekap, ia pasti akan berteriak atau mencoba melawan. Selain itu, jumlah luka tikaman di tubuh Faizah sangat banyak, termasuk di bagian punggung, perut, tangan, kaki, dan kepala.

Tidak Ada Luka pada Pelaku

Kejanggalan kelima yang diungkap Dimas adalah tidak adanya luka pada tangan Al, pelaku. Malahan, yang memiliki luka adalah kakaknya. Hal ini semakin memperkuat keraguan keluarga terhadap pengakuan Al sebagai pelaku tunggal.

Perkembangan Kasus

Polisi telah melakukan rekonstruksi di tempat kejadian perkara (TKP) dengan menghadirkan Al, kakaknya, dan ayah korban. Al didampingi oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) serta keluarga. Penyidik Polresta Medan masih menjalani proses pendalaman dan pemeriksaan lebih lanjut.

Kehidupan Keluarga Korban

Dari pengamatan warga sekitar, keluarga Faizah dikenal tertutup dan jarang bersosialisasi. Faizah dan keluarga tinggal di kompleks Jalan Dwikora selama sekitar 20 tahun. Hubungan mereka dengan tetangga terbatas, hanya sekadar menyapa tanpa berbincang lama.

Faizah sering terlihat bersama kedua anaknya, Shamikha dan Al, baik saat mengantar ke sekolah maupun berjalan-jalan. Namun, warga jarang melihatnya bersama suaminya, Alham Humala Siagian. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa pasangan tersebut sudah lama pisah ranjang. Faizah tidur bersama kedua anaknya di lantai bawah, sementara sang suami menempati kamar di lantai atas.

Warga juga pernah mendengar suara pertengkaran dari dalam rumah, termasuk suara barang yang dibanting. Faizah juga sering memarahi putri sulungnya, Shamikha, hingga suaranya terdengar ke luar rumah. Sementara itu, Alham sering bepergian ke luar kota untuk bekerja, sehingga jarang berada di rumah.

Pos terkait