Ringkasan Berita:
- Amal Said, Dosen UIM terancam kehilangan kariernya usai ludahi Ningsih (21), pegawai kasir swalayan di Makassar
- Meski mengakui tindakannya meludahi korban adalah kesalahan, Amal juga meminta korban Ningsih (21) untuk turut mengakui kesalahan.
- Amal membantah tudingan bahwa dirinya menyerobot antrean, ia merasa cara kasir menegurnya tidak menghargainya
Karier dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar (UIM), Amal Said kini berada di ujung tanduk setelah aksi tak terpujinya meludahi seorang kasir swalayan viral di media sosial.
Tak hanya sanksi sosial, statusnya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) yang telah dijalaninya selama puluhan tahun kini terancam tamat hanya karena emosi sesaat.
Meski mengakui tindakannya meludahi korban adalah kesalahan, Amal memberikan pembelaan terkait pemicu kejadian tersebut.
Ia membantah tudingan bahwa dirinya menyerobot antrean.
Kini, setelah kasus tersebut dilaporkan ke pihak kepolisian, Amal Said berharap ada celah untuk penyelesaian secara kekeluargaan.
Namun, ia juga melontarkan pernyataan yang cukup kontroversial dengan meminta korban Ningsih (21) untuk turut mengakui kesalahan.
“Harapan saya, orang itu juga harus sadar, mengakui juga dirinya punya kekhilafan, kita kan manusia bisa saling khilaf dalam kondisi tertentu. Saya tidak mau kasih panjang masalah, kalau bisa diselesaikan baik-baik saja, dosa-dosa saya tanggung sendiri,” ujar Amal melansir dari kompas.com, Minggu (28/12/2025).
Dalam keterangannya, Amal Said mengungkapkan rasa penyesalan yang mendalam.
Ia merasa pengabdiannya selama 33 tahun sebagai pengajar dan pembimbing ribuan mahasiswa seolah sirna dalam sekejap akibat insiden di meja kasir tersebut.
“Sekarang ini sudah rusak nama saya, bahkan mungkin juga berakibat ke tempat kerja saya. Rusak sekali saya ini. Satu detik saya berbuat itu, 33 tahun saya pegawai, mengajar, ribuan mahasiswa saya selesaikan, masa sedetik itu rusak segalanya. Tidak sebanding,” keluh Amal.
Menurutnya, saat itu ia sedang mengantre untuk membayar camilan.
Melihat ada satu meja kasir yang kosong tanpa antrean, ia memutuskan untuk pindah ke sana agar proses pembayaran lebih cepat.
“Awalnya memang saya singgah untuk membeli cemilan, setelah saya ambil belanjaan, turunlah saya ke kasir, saya antre disitu, saya sama sekali tidak menyerobot, saya ikut antrean,” ucap Amal.
Namun, teguran yang dilayangkan oleh kasir berinisial N (21) dianggapnya tidak sopan dan melukai harga dirinya.
“Saya anggap cara menegurnya tidak menghargai saya. Akhirnya saya tersinggung dan secara spontan (meludahi) karena emosi,” jelasnya.
Amal juga mengaku tidak secara langsung meludahi wajah petugas wanita tersebut.
“Setelah saya bayar belanjaan, saya emosi sekali di situ. Saya ludahi bajunya, tidak benar itu saya ludahi mukanya, kesal sekali saya diperlakukan seperti itu, kayaknya tidak ada sekali harga diri saya,” tutur dia.
Amal juga mengeklaim bahwa dirinya sama sekali tidak melanggar aturan.
Dia hanya berpindah antrean kasir yang sudah kosong.
“Kan tidak melanggar kalau pindah antrean, kalau memang sudah kosong kan. Tidak ada larangan, wajar saya pindah kan. Itu juga tidak terlalu ramai saat itu,” ucap dia.
Terancam Disanksi Kampus
Sementara itu, Rektor UIM, Prof Dr Muammar Bakry, membenarkan status AS sebagai dosen di kampus tersebut.
Selama ini Amal diperbantukan sebagai tenaga pengajar di Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian.
“Sebenarnya itu dosen negeri yang diperbantukan di kampus, bukan dosen yayasan. Jadi nanti kita akan bicarakan seperti apa presodurnya,” ujar dia.
Sementara terkait aksi viral Amal, Muammar memastikan akan memberikan sanksi tegas.
Sebab kata dia, apa yang terekam dalam video viral tersebut tidaklah manusiawi.
Muammar yang juga Sekretaris MUI Sulsel, mengaku menyayangkan adanya kejadian itu.
“Iya (disayangkan). Pasti akan kita berikan sanksi akademik sesuai aturan yang ada di kampus,” tegasnya.
Menurutnya, tindakan Amal tidaklah manusiawi.
“Kita harus tabayyun dulu sama yang bersangkutan toh. Yang pasti di video itu kan ndak bagus lah, ndak manusiawi kalau itu kejadian,” ujarnya, dikutip dari TribunTimur.
Muammar memastikan akan memberikan sanksi tegas.
Sebab kata dia, apa yang terekam dalam video viral tersebut tidaklah manusiawi.
Korban Kena Mental
Ningsih (21), pegawai kasir swalayan di jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar hingga kini masih mengalami tekanan mental pasca insiden diludahi oleh seorang pembeli bernama Amal Said.
Tindakan Amal Said yang sekaligus seorang ASN dosen Universitas Islam Makassar (UIM) meludahi pegawai terjadi di swalayan jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar, Kamis (25/12/2025)
Ningsih mengaku mengaku syok saat wajah diludahi oleh pelaku hanya karena masalah antrean.
Kejadian bermula saat situasi toko sedang cukup ramai.
Ningsih, yang saat itu sedang bertugas, meminta pelaku untuk bersabar menunggu antrean pembeli lainnya.
Namun, teguran tersebut justru direspons dengan makian dan perbuatan tak manusiawi.
“Kurang ajar kau itu caramu melayani! Saya ini juga mau membayar, kenapa begitu caramu?” ujar Ningsih menirukan bentakan pelaku, dikutip dari tayangan TvOneNews, Senin, (29/12/2025).
Ningsih sempat berusaha memberikan penjelasan dengan tenang agar pelaku mengerti kondisi antrean saat itu.
Alih-alih mendapat pengertian, Ni justru menerima perlakuan yang merendahkan martabatnya sebagai manusia.
“Saya bilang, ‘Maaf Pak, tadi karena ada antrean di belakang jadi harus mengantre’. Tapi belum sempat saya selesai bicara, dia langsung meludah ke muka saya dan kena jilbab saya,” tuturnya dengan suara bergetar.
Hinaan fisik tersebut membuat Ningsih terguncang hebat. Air ludah pelaku mengenai area wajah hingga jilbabnya.
Dalam kondisi syok dan “kena mental”, Ningsih langsung meninggalkan meja kasir untuk membersihkan diri.
“Saya syok sekali. Langsung lari ke WC cuci muka karena ludahnya kena muka,” ungkapnya.
Ironisnya, setelah melakukan tindakan tidak etis tersebut, pelaku dikabarkan tidak menunjukkan penyesalan.
Ia justru menekan korban untuk meminta maaf dan membawa-bawa nama atasan korban sebagai bentuk ancaman.
Karena merasa takut dan terintimidasi, Ningsih terpaksa mengalah meski dirinya adalah korban.
“Saya minta maaf karena takut kalau dilawan masalahnya tambah panjang. Temanku juga cuma diam karena takut,” ungkapnya.
Usai melancarkan aksi penghinaan tersebut, sang dosen langsung meninggalkan lokasi.
Dukungan keluarga dan pihak manajemen swalayan akhirnya menguatkan langkahnya untuk menempuh jalur hukum.
Pada Rabu malam, Ni resmi melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Tamalanrea.
Ia menegaskan bahwa keluarga tidak menerima perlakuan tersebut dan berharap ada keadilan.
Kanit Reskrim Polsek Tamalanrea, Iptu Sangkala, membenarkan adanya laporan N tersebut.
“Sudah, melaporkan di Polsek Tamalanrea dengan laporan penghinaan dan dilakukan proses penyelidikan,” kata Iptu Sangkala via pesan WhatsApp, ke tribun.
Sangkala mengaku akan memanggil saksi-saksi yang ada untuk dimintai keterangan.
“Tindak lanjut mengundang saksi mencari info terhadap terlapor dan memanggil dan mengumpulkan barang bukti,” tegasnya.
(*)
Baca berita lainnya di Google News
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp
