Ringkasan Berita:
- Parpol yang telah bertarung habis-habisan dalam Pemilu 2024 di Sulut kini memasuki fase pemulihan
- Olly Dondokambey kembali memegang tampuk pimpinan DPD PDIP Sulut
- Mor Bastian come back, langsung jadi ketua definitif
– Jika 2024 adalah tahun perang total, maka 2025 layak disebut sebagai tahun konsolidasi.
Partai politik (Parpol) yang telah bertarung habis-habisan dalam Pemilu 2024 di Sulawesi Utara (Sulut) kini memasuki fase pemulihan.
Mereka menata kembali struktur sekaligus menyusun kekuatan untuk kontestasi politik selanjutnya.
Mengutip Sun Tzu, ahli strategi perang asal Cina, perang selalu membawa dampak menghancurkan, bukan hanya bagi yang kalah, tapi juga bagi pemenang.
Itulah mengapa tema konsolidasi menjadi begitu sentral di tahun 2025.
Jika parpol abai melakukan pembenahan di tahun ini, mereka berisiko kalah start dan kehilangan momentum di masa depan.
Fenomena menarik dalam konsolidasi kali ini adalah kembalinya kendali ke tangan para politisi senior.
Meski sebelumnya publik berharap politisi muda akan mengambil alih kemudi menuju panggung 2030, hasil konsolidasi 2025 menegaskan bahwa para kader muda masih harus menepi sejenak.
Jagat politik Sulut nyatanya tetap dikuasai oleh para “sepuh”.
Nah, yang menarik adalah konsolidasi sejumlah parpol mainstream yang agak-agak konservatif.
Sebelumnya publik berharap para politisi muda bakal pegang kendali di parpol dan 2030 adalah panggung mereka.
Tapi hasil konsolidasi di 2025 menegaskan mereka musti menepi dulu untuk sementara.
Jagad politik Sulut tetap dikuasai para politisi sepuh.
Hasil Konferda dan Konfercab PDIP Sulut di Hotel Yama, 23 Desember 2025 sudah kita tahu bersama.
Olly Dondokambey kembali memegang tampuk pimpinan DPD PDIP Sulut.
Ini adalah kejutan sekaligus bukan kejutan.
Dikatakan kejutan karena sebelumnya diisukan pucuk pimpinan PDIP Sulut bakal jatuh ke tangan Rio Dondokambey atau Steven Kandouw.
Sebelumnya Olly sudah mundur karena terganjal aturan rangkap jabatan pengurus DPP PDIP.
Namun Rakerda berlangsung antiklimaks.
Olly terpilih dan ini juga berarti bukan kejutan.
Melihat dinamika terkini di luar dan dalam PDIP, pilihan pada Olly rasanya paling afdol.
Daripada berjudi dengan figur baru, paling aman bila Olly yang pegang kendali PDIP Sulut.
Olly bak bangunan kokoh anti gempa politik bagi infrastruktur PDIP yang begitu luas di Sulut.
Keadaan kurang lebih sama terjadi di partai Demokrat.
Bahkan lebih heboh karena ada bumbu drama.
Berawal dari penunjukan Elly Lasut sebagai Komisaris PT Angkasa Pura.
Elly pergi, masuk sang anak Hillary Lasut.
Ia menjabat Plt Ketua Demokrat Sulut.
Publik mengira Hillary akan dipatenkan.
Namun kejutan terjadi.
Mor Bastian come back.
Langsung jadi ketua definitif.
Sedang Hillary ke DPP.
Mor adalah politisi kenyang pengalaman.
Ia pernah memegang jabatan strategis di Partai Demokrat, salah satunya Plt Ketua Demokrat Sulut.
Ini jadi bekalnya mengadakan konsolidasi di Sulut.
Tantangannya adalah bisakah ia melakukannya dengan pengaruh yang minim dari “Lasut effect”.
Tak dapat dipungkiri, Elly Lasut dan putrinya Hillary Lasut menjadi vote getter bagi partai Demokrat Sulut.
Sementara partai Golkar Sulut belum kunjung menggelar Musda.
Semula Musda dijadwalkan pada 7 Desember 2025.
Tapi undur.
Nama Tetty Paruntu diisukan masih kuat.
Jika isu itu benar Golkar bakal mirip PDIP dan Demokrat; mode kembali ke laptop.
Sementara PKB telah menggelar Muswil dan dari situ muncul tiga nama calon Ketua yang akan diputuskan DPP.
Petahana Yusra Alhabsy menguat.
Mungkin hanya PSI yang berani melakukan terobosan baru.
Partai berlambang gajah ini menunjuk Tatong Bara sebagai Ketua DPD PSI Sulut.
PSI pun giat berkonsolidasi.
Rakorwil PSI pada akhir November 2025 mendatangkan Ahmad Ali.
Ketua Harian PSI ini membeber peta jalan partai tersebut.
Salah satu yang menarik adalah kiat PSI menjadikan Jokowi sebagai vote getter.
Menurut Hatta, PSI berpeluang leading di Sulut karena mayoritas masyarakatnya cinta Jokowi.
PSI reborn bakal menambah alot persaingan para partai nasionalis mendulang suara di Sulut yang dikenal sebagai kantong nasionalis.
PAN juga sudah berbenah.
Muswil PAN 2025 menetapkan Ashabul Kahfi sebagai Ketua DPW PAN Sulut.
Sementara Partai Gerindra satu-satunya yang tidak melakukan suksesi di 2025.
Namun partai ini tidak tinggal diam.
Di bawah kepemimpinan Yulius Selvanus, gerak partai ini senyap tapi meyakinkan.
Faktor kepemimpinan nasional di tangan Prabowo Subianto yang merupakan Ketua Gerindra dan Sulut di bawah pimpinan Yulius Selvanus membuat Gerindra kian berotot.
Remote kini di tangan mereka.
Pada akhirnya, 2025 menjadi babak krusial bagi peta politik Sulawesi Utara.
Pilihan untuk kembali ke figur senior menunjukkan bahwa di tengah ambisi regenerasi, stabilitas tetap menjadi prioritas utama parpol.
Siapa yang paling rapi menata barisan di tahun konsolidasi ini, dialah yang akan memegang kendali di medan tempur selanjutnya.
(/Arthur Rompis)
Baca Berita Tribun Manado di Google News
WhatsApp :KLIK
