SURABAYA, Perusahaan Kalbe Farma Tbk (KLBF) melalui anak perusahaannya, yaitu PT Global Onkolab Farma (GOF), menyalurkan dana investasi sebesar Rp 200 miliar untuk pengadaan alat pemeriksaan kanker menggunakan radioisotop dan radiofarmaka.
Radioisotop dan obat radioaktif, khususnya Fluorodeoxyglucose (FDG), diproduksi oleh GOF di Sidoarjo, Jawa Timur. Fasilitas ini merupakan tempat produksi kedua setelah Jakarta untuk produk tersebut.
Pengadaan ini mengatasi keterbatasan alat deteksi kanker di rumah sakit di Indonesia yang selama ini ada.
Pengadaan radioisotop dan obat radioaktif dapat dilakukan dengan pengawasan yang sangat ketat.
“Jakarta kita sudah diproduksi dan disuplai, sudah banyak digunakan oleh rumah sakit untuk pasien,” ujar Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Mulia Lie, Senin (15/12/2025).
Dari total 282 juta penduduk di Indonesia, terdapat sekitar 433.000 kasus kanker baru yang dilaporkan setiap tahun. Dari jumlah ini, lebih dari 60 persen pasien meninggal dalam waktu lima tahun.
Di sisi lain, hanya terdapat tiga rumah sakit di Indonesia yang memiliki fasilitas pemeriksaan kanker yang memadai, yaitu Rumah Sakit Kanker Dharmais, Rumah Sakit MRCC Siloam, dan Rumah Sakit Umum Gading Pluit.
“Mereka memproduksi isotop dan farmasi sendiri, di rumah sakit sendiri tidak boleh digunakan untuk tempat lain,” jelasnya.
Dengan inovasi ini, Lie berharap mampu memenuhi kebutuhan rumah sakit di Indonesia khususnya wilayah Timur seperti Bali, NTB, NTT, Sulawesi, Kalimantan, dan sebagainya.
“Setiap pagi pukul 2 harus dibuat dan pada jam tersebut sudah harus dikirim, harus dikirim semua. PT-scan untuk mengetahui kanker sudah menyebar ke bagian mana sering kita mengandalkan tiga rumah sakit tersebut saat ini,” jelasnya.
Dipandu oleh Kemenkes, BPOM, dan Bapeten, Kalbe akan mengirimkan radioisotop serta radiofarmaka ke rumah sakit yang memerlukan dengan jaminan keselamatan dan pengawasan yang sangat ketat.
“Maka rumah sakit tidak perlu melakukan investasi tambahan, selanjutnya akan ada pengawasan dari Bapeten, nanti ada pemeriksaan fisiknya, bukan hanya memproduksi obat seperti antibiotik. Jadi produksinya sangat ketat,” ujarnya.
Bahkan mengatakan, di sebuah pabrik yang memproduksi radioisotop dan obat radioaktif, nilai investasinya mencapai Rp 200 miliar.
“Nilai investasinya hampir Rp 200 miliar per pabrik. Jika ditanya, kami akan mulai produksi untuk Jawa Timur pada Januari,” jelasnya.
Sementara untuk kapasitas produksi akan disesuaikan sesuai kebutuhan rumah sakit. Kalbe berkomitmen menyediakan dengan bantuan dari pemerintah.
“Dengan produksi dalam negeri, dengan harga yang lebih murah. Tentu saja biaya awal investasi pasti mahal, tetapi di masa depan dalam jangka panjang kita pasti akan lebih hemat dan tentu kita tidak lagi bergantung pada dana luar negeri,” tutupnya.
