Kades di Kediri bayar Rp 3,5 juta uang pribadi bikin tugu patung macan putih, warga awalnya curiga

Ringkasan Berita:

  • Patung macan putih di Desa Balongjeruk Kediri menjadi perbincangan lantaran tidak proporsional
  • Kepala Desa setempat mengungkapkan cerita dibalik pembuatannya
  • Kades mengatakan anggaran berasal dari kantongnya sendiri

 

Bacaan Lainnya

Sebuah patung di Desa Balongjeruk, Kediri sedang menjadi sorotan di media sosial karena penampakannya.

Patung yang menjadi tugu atau monumen di Desa Balongjeruk itu dicurigai banyak netizen.

Mulai dari penampilannya yang tidak menarik hingga anggaran yang dikeluarkan.

Menjawab rasa penasaran netizen, Kepala Desa setempat mengungkapkan proses pembuatan patung tugu Macan Putih tersebut.

Awalnya bikin warga khawatir

Patung macan itu berwarna hitam putih yang coraknya mirip zebra.

Sorotan kemudian mengarah pada anggaran biaya pembuatannya.

Masyarakat, terutama dunia maya, merasa khawatir dengan wujud patung yang tidak proporsional dengan wujud asli macan itu memakan biaya yang tinggi.

Terkait ini, Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i memastikan, seluruh biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan patung selama 18 hari itu tidak menggunakan anggaran negara maupun dana desa.

“Anggarannya bersumber dari kantong pribadi saya sendiri. Sebab, saya yang menginisiasi pembuatan patungnya,” ujar Safi’i pada Kompas.com, Sabtu (27/12/2025), dikutip , Minggu (28/12/2025).

Untuk pembuatan patung dengan ukuran panjang 1,5 meter, lebar 1 meter, serta tinggi keseluruhan termasuk fondasi tumpuan 2,5 meter itu, dia mengeluarkan anggaran sebesar Rp 3,5 juta.

Jumlah tersebut sudah lengkap untuk keperluan pembelian material bangunan maupun ongkos pematungnya.

Kepala desa mengaku sengaja tidak menggunakan uang pemerintah karena penggunaan dana desa hanya diperbolehkan untuk orientasi pada ketahanan pangan.

Namun ternyata, hasil akhir pembuatan yang memakan waktu 18 hari itu jauh dari harapan, bahkan melenceng dari rencana awal gambaran patungnya.

“Tapi hasil jadinya seperti yang sedang viral itu,” kata dia.

Patung tidak proporsional

Keberadaan sebuah patung macan di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur menyita perhatian publik, terutama di dunia maya.

Bentuk patung macan hitam putih berukuran panjang 1,5 meter, lebar 1 meter, serta tinggi keseluruhan termasuk pondasi tumpuan 2,5 meter itu menjadi sorotan. 

Bentuk patung yang baru saja selesai pembangunan tersebut dianggap gagal menghadirkan sosok harimau karena tidak mewakili penampakan sebagaimana wujud realita harimau pada umumnya.

Selain itu, bentuknya juga tidak proporsional.

Lebih mirip gabungan dari hewan kuda nil, zebra, dan tapir.

Pandangan seniman

Namun demikian, tak sedikit yang mempunyai sudut pandang berbeda bahkan mengapresiasinya.

Kubu ini memandangnya sebagai sebuah luapan ekspresi seni.

“Kalau aliran surealis, ya suka-suka seniman pematungnya. Juga ada ekspresionisme, yang enggak melulu meniru alam,” ujar M Prastiyo, seorang pelaku seni, Minggu (18/12/2025).

Oleh sebab itu, pria yang akrab dengan sapaan Cak Mad ini mengatakan, perlu ditinjau latar belakang dan fungsi pembuatan patung tersebut untuk mengetahui kejelasannya.

“Makanya perlu dicek latarbelakang dan fungsi maupun kesepakatan awal pembangunan patung tersebut,” ucap Cak Mad.

Penjelasan kepala desa

Sementara itu, Kepala Desa Balongjeruk, Safii mengatakan, pembuatan patung tersebut merupakan inisiatifnya yang sebelumnya telah mendapatkan persetujuan melalui sejumlah rapat desa.

“Tujuannya adalah untuk mengangkat legenda desa sebagai ikon desa. Kebetulan desa kami ada legenda macan putih,” ujar Safi’i pada Kompas.com, Sabtu (27/12/2025).

Safi’i mengatakan, niatan awal pembangunan patung tersebut cukup mulia karena untuk menjunjung tinggi legenda desa yang selama ini terpelihara secara turun temurun melalui tutur lisan.

Untuk itu, dia berupaya mengangkatnya menjadi ikon desa supaya mempertegas cerita tersebut sekaligus sebagai pengingat bagi generasi selanjutnya.

Atas niatan itu pula, dirinya mulai mencari pembuat patung.

Kebetulan terdapat warga setempat yang juga selama ini dikenal sebagai pembuat patung.

Patung yang terbuat dari campuran besi dan semen tersebut mulai dikerjakan bulan lalu dan berhasil selesai dalam tenggat waktu 18 hari.

“Namun ternyata setelah selesai, banyak mendapatkan respons dari masyarakat,” ujar Safi’i.

Dia juga merasa kaget dengan hasil pembuat patung tersebut yang ternyata wujudnya jauh dari perencanaan awal.

“Ternyata hasilnya seperti yang kita ketahui itu,” ujar dia.

Meski demikian, dalam menyikapi viralnya patung tersebut, pihaknya tidak lantas gerah apalagi memarahi pembuat patungnya.

Ia menganggap semuanya adalah masukan untuk pengembangan kemajuan desanya.

“Semuanya kita tampung karena kritik dan saran itu sangat penting bagi kemajuan bersama,” kata Safi’i. 

Berita viral lainnya

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews

Pos terkait