Jurus XLSmart (EXCL) pacu pertumbuhan pendapatan 2026

, JAKARTA— PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL) menargetkan pertumbuhan pendapatan yang sehat dan berkelanjutan pada 2026, sejalan dengan kinerja positif yang telah dicapai perusahaan hingga saat ini.

Head of External Communications XLSMART Henry Wijayanto mengatakan bahwa berdasarkan laporan keuangan kuartal III/2025, perusahaan mencatat pertumbuhan pendapatan dua digit secara tahunan. Kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan kuat layanan data dan digital, perbaikan average revenue per user (ARPU), serta peningkatan pengalaman pelanggan.

Bacaan Lainnya

“Saat ini dan ke depan, upaya pertumbuhan XLSMART difokuskan pada mendukung market reparation,” kata Henry kepada Bisnis, Minggu (28/12/2024).

Henry menjelaskan bahwa strategi tersebut dijalankan melalui penguatan kualitas jaringan dan pengalaman pelanggan, sekaligus mendorong peningkatan ARPU melalui monetisasi pelanggan eksisting serta penawaran produk yang lebih relevan. Selain itu, XLSMART juga mempercepat digitalisasi pelanggan, baik pada segmen ritel maupun korporasi, melalui pengembangan layanan digital dan solusi enterprise.

“Serta ekspansi layanan home broadband sebagai sumber pertumbuhan baru,” katanya.

Dari sisi kinerja keuangan, XLSMART membukukan total pendapatan sebesar Rp11,47 triliun pada kuartal III/2025, meningkat 38% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY). Secara kumulatif, total pendapatan hingga akhir September 2025 mencapai Rp30,57 triliun.

Kinerja tersebut turut mendorong pertumbuhan normalized EBITDA sebesar 24% YoY menjadi Rp5,40 triliun, dengan normalized EBITDA margin mencapai 47%. Sementara itu, laba bersih yang dinormalisasi (normalized PAT) melonjak 288% YoY menjadi Rp1,15 triliun. Kontribusi pendapatan dari layanan data dan digital tercatat lebih dari 89,7% terhadap total pendapatan.

Di sisi lain, peningkatan pendapatan diikuti oleh naiknya beban operasional seiring proses integrasi dan ekspansi kegiatan usaha pascamerger. Biaya penjualan dan pemasaran meningkat akibat naiknya komisi penjualan, meski beban iklan dan promosi mengalami penurunan.

Sejumlah komponen biaya lain juga meningkat secara tahunan, antara lain biaya infrastruktur, interkoneksi, serta pengeluaran langsung lainnya, termasuk biaya regulasi. Secara keseluruhan, kenaikan beban operasional pada kuartal ini selaras dengan biaya tambahan yang timbul dari proses integrasi menjadi entitas baru XLSMART.

Hingga kuartal III/2025, XLSMART mencatat total 79,6 juta pelanggan, dengan ARPU campuran (blended) sekitar Rp39.000. Angka tersebut meningkat dua digit dibandingkan kuartal sebelumnya, yang merupakan fase awal pascamerger.

Dari sisi struktur permodalan, utang kotor tercatat sebesar Rp22,50 triliun dengan rasio net debt to EBITDA (termasuk finance lease) sebesar 3,27x. Utang bersih mencapai Rp21,14 triliun. Perusahaan tidak memiliki utang berdenominasi dolar AS. Dari total pinjaman, sekitar 84% memiliki suku bunga mengambang (floating) dan 16% bersuku bunga tetap.

Free cash flow (FCF) meningkat 23% menjadi Rp9,41 triliun, mencerminkan kondisi arus kas yang solid. Hingga akhir September 2025, belanja modal (capex) tercatat sebesar Rp4,26 triliun. Proses integrasi jaringan berjalan dengan baik dan menghasilkan peningkatan signifikan pada kualitas layanan.

Melalui jaringan terpadu, kecepatan unduh pelanggan meningkat hingga 71%, sementara cakupan populasi pengguna Smartfren tumbuh 38%. Ekspansi jaringan juga dipercepat melalui inisiatif National Roaming dan multi-operator core network (MOCN), yang menghubungkan jaringan legacy XL dan Smartfren.

Hingga akhir kuartal III/2025, tambahan jaringan mencakup sekitar 192 kota atau area baru di Indonesia. XLSMART juga mengintegrasikan pengelolaan jaringan melalui Customer Experience & Service Operation Center (CESOC) serta melakukan konsolidasi dengan mitra jaringan utama seperti ZTE dan Huawei.

Total jumlah base transceiver station (BTS) XLSMART mencapai lebih dari 209.000 unit, meningkat 27% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sekitar 15.000 objek jaringan telah terintegrasi. Sementara itu, trafik layanan tumbuh 53% YoY menjadi 3.903 petabyte.

_______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Pos terkait