Isi Artikel
Ringkasan Berita:
- Jolly Craft di Pasar Gintung menawarkan tas anyaman plastik daur ulang sekaligus wisata kreatif belajar menganyam.
- Mayoritas pelanggan warga Jepang, termasuk kelas private untuk mengenal proses anyaman Indonesia.
- Memberdayakan ibu rumah tangga Tangsel dengan omzet sekitar Rp35 juta per bulan dan harga produk Rp25 ribu–Rp300 ribu.
Laporan Wartawan
, Ikhwana Mutuah Mico
, CIPUTAT TIMUR– Bagi sebagian orang, berbelanja hanyalah soal memilih barang dan membawanya pulang.
Namun di sebuah sudut Pasar Gintung, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan pengalaman itu berubah menjadi perjalanan mengenal tradisi.
Di balik gulungan tali plastik berwarna dan tangan-tangan terampil yang sibuk menganyam, pengunjung tak hanya menemukan tas unik, tetapi juga cerita tentang warisan keluarga, kreativitas, dan semangat pemberdayaan warga lokal.
Destinasi Wisata Kreatif
Di tempat inilah Jolly Craft hadir sebagai destinasi wisata kreatif, menawarkan pengalaman berbelanja sekaligus belajar langsung proses anyaman khas Indonesia di Tangsel.
Pemilik Jolly Craft, Yuliani, membuka ceritanya memperkenalkan diri dan usaha yang telah dirintisnya hampir tiga tahun terakhir di Pasar Gintung.
“Jolly Craft menyediakan tas anyaman plastik dan gulungan yang memiliki tekstur tebal, halus, washable, durable, dan pastinya fashionable. Toko kami ada di Pasar Gintung, pusat oleh-oleh Tangsel, dan di sini sudah hampir tiga tahun,” ujar Yuliani kepada , Jumat (2/2/2026).
Yuliani menuturkan, keterampilan menganyam bukanlah hal baru dalam hidupnya. Keahlian tersebut ia pelajari sejak kecil dari lingkungan keluarga.
“Saya mulai belajar menganyam itu tahun 2017, tapi sebenarnya dasarnya sudah dari kecil karena keluarga kami tukang anyam. Dulu di kampung halaman, kami nganyam bambu untuk peralatan masak. Waktu kecil sering lihat nenek dan keluarga nganyam,” ucap wanita berhijab itu.
Saat dewasa dan bekerja di Jakarta, Yuliani melihat peluang besar untuk mengembangkan anyaman menjadi produk yang lebih modern.
“Saya lihat potensi anyaman itu bagus di Jakarta. Akhirnya saya berpikir, gimana caranya produk anyaman ini bisa lebih modern, lebih awet, dan durable. Dari situ saya coba berinovasi bikin tas dari anyaman,” jelasnya sambil tersenyum.
Diminati Warga Asing
Tanpa disangka, produk Jolly Craft justru banyak diminati warga negara asing, khususnya Jepang yang tinggal di Jakarta.
“Alhamdulillah market-nya ada. Sekitar 80 persen customer kami itu warga negara Jepang yang tinggal di Jakarta. Awalnya kami ikut bazar komunitas mereka, dari situ mereka kenal dan terus berhubungan dengan kami,” tutur Yuliani.
Tak hanya membeli produk, para pelanggan asing juga tertarik mempelajari proses pembuatannya.
“Selain pesan tas, mereka juga mau belajar cara membuatnya. Akhirnya kami buka kelas private. Kadang kami diundang ke rumah mereka supaya mereka tahu proses pembuatannya, jadi mereka lebih menghargai produk anyaman asli Indonesia,” ucapnya.
Bahan dari Limbah plastik
Menariknya, bahan baku anyaman Jolly Craft berasal dari dalam negeri dan ramah lingkungan.
“Bahannya 100 persen dari Indonesia. Kami ambil dari pabrik daur ulang di Pulau Jawa. Dari sampah plastik diolah jadi tali, sudah diberi pewarna, jadi kami beli dalam bentuk gulungan dan tinggal dianyam,” jelas Yuliani.
Dalam membangun usahanya, Yuliani mengaku menggunakan modal pribadi setelah memutuskan berhenti bekerja.
“Modal awal itu modal pribadi, kurang lebih sekitar Rp50 juta. Namanya bisnis, apalagi kemarin sempat pandemi, produk craft itu benar-benar terpukul. Tapi di situ kita nggak boleh patah semangat, harus terus berinovasi,” ujarnya.
Kini, Jolly Craft mampu mencatat omzet yang cukup stabil.
“Alhamdulillah sampai sekarang omzet sekitar Rp35 juta per bulan. Kuncinya harus punya semangat, inovasi, dan keunikan supaya customer tetap setia,” katanya.
Selain itu, Jolly Craft juga membuka kelas menganyam untuk masyarakat umum, anak muda, hingga wisatawan asing.
“Sekarang anak muda suka coba hal baru. Di sini ada kelas menganyam, hasilnya bisa dibawa pulang. Biasanya kelas sekitar tiga jam dan kita pastikan jadi,” ujarnya.
Buka Kelas Mengayam
Pendaftaran kelas bisa dilakukan melalui media sosial.
“Bisa hubungi Instagram kami di @jollycraft_byyuliani. Kita juga bisa datang ke rumah, selama wilayah Jakarta dan sekitarnya,” tambahnya.
Produk Jolly Craft dibanderol dengan harga beragam, mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah.
“Ada gantungan tas Rp25 ribu, pouch kecil Rp35 ribu sampai Rp45 ribu. Untuk bahan premium yang lebih rumit bisa sampai Rp250 ribu hingga Rp300 ribu,” ungkap Yuliani.
Menurutnya, tingkat kerumitan sangat memengaruhi waktu pengerjaan.
“Yang paling rumit bisa sampai satu minggu pengerjaannya. Tapi ini awet, bisa dilipat, dicuci, dan tahan lama,” katanya.
Jolly Craft juga berperan dalam pemberdayaan masyarakat lokal.
“Penganyam kami rata-rata ibu rumah tangga di Tangsel. Di sini ada sekitar tujuh orang, ditambah dari kampung halaman saya sekitar 20 orang freelance,” jelas Yuliani.
Ia juga pernah bekerja sama dengan pemerintah daerah Tangsel.
“Kami pernah kerja sama dengan Disperindag Provinsi Banten dan Dekranasda, mengajar ibu-ibu di beberapa desa. Alhamdulillah sampai sekarang mereka bisa berpenghasilan dari keterampilan itu,” katanya.
Dengan lokasi strategis dan konsep wisata kreatif, Jolly Craft kini menjadi salah satu alternatif oleh-oleh khas Kota Tangerang Selatan.
“Silakan datang ke Pusat Oleh-oleh Pasar Gintung, kios nomor 18. Di sini bisa custom ukuran, warna, dan motif. Bisa untuk hampers, hadiah, atau dipakai sendiri,” tutup Yuliani. (m30)
Dapatkan Informasi lain dari via saluran Whatsapp di sini
Baca berita lainnya di Google News
