Isi Artikel
Ringkasan Berita:
- Letjen Widi terseret sebagai saksi dalam kasus korupsi pembelian lahan oleh BUMD PT Cilacap Segara Artha (CSA) senilai Rp 237 miliar.
- Hingga Desember 2025, Letjen Widi telah memenuhi panggilan pemeriksaan Kejati Jateng sebanyak dua kali.
- Di tengah proses hukum yang berjalan, Widi kini dimutasi menjadi Staf Khusus Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).
, –Sosok Letnan Jenderal (Letjen) TNI Widi Prasetijono kini tengah menjadi pusat perhatian publik setelah namanya terseret dalam pemeriksaan kasus dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah (Kejati Jateng).
Mantan ajudan kepercayaan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), ini dipanggil sebagai saksi terkait korupsi pembelian lahan BUMD PT Cilacap Segara Artha (CSA) senilai miliaran rupiah.
Di tengah bergulirnya kasus hukum tersebut, Panglima TNI resmi memutasi Letjen Widi ke posisi non-komando sebagai Staf Khusus KSAD.
Dengan posisinya tersebut, rasa penasaran publik terhadap rekam jejak karier militer hingga rincian harta kekayaan jenderal bintang tiga ini menguap.
Berikut rangkuman jejak Letjen Widi Prasetijono dari karier, kasus yang membayangi hingga mutasi jabatan:
1. Kasus Pencucian Uang Jual Beli Lahan
Kasus yang diduga menyeret Letjen Widi bermula saat jual beli tanah 700 seluas hektare seharga Rp 237 miliar.
Pihak pembelinya adalah PT Cilacap Segara Artha selaku BUMD Pemkab Cilacap, sedangkan penjualnya PT Rumpun Sari Antan.
PT Cilacap Segara Artha membayar lunas untuk mendapatkan tanah berstatus hak guna usaha (HGU).
Usai membayar, ternyata tanah tersebut tidak bisa diserahkan karena ternyata di bawah kuasa Kodam IV/Diponegoro.
Kasus ini kemudian didalami Kejati Jateng dengan hasil 3 orang sudah diadili, mereka adalah:
– Mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Cilacap, Awaluddin Muuri
– Mantan Komisaris PT Cilacap Segara Artha, Iskandar Zulkarnain
– Mantan Direktur PT Rumpun Sari Antan, Andhi Nur Huda.
Pedalaman kasus terus dilakukan hingga muncul nama praktisi pengobatan tradisional Ahmad Yazid (AY) alias Gus Yazid Basayba, yang diduga menerima uang Rp20 miliar dari kerabat Letjen Widi Prasetijono.
Pada Rabu (24/12/2025) kemarin, Kejati Jateng menetapkan Gus Yazid sebagai jadi tersangka dan resmi menahannya.
Kasi Penyidikan Bidang Pidana Khusus Kejati Jateng, Eri Wibowo mengatakan, aliran dana tersebut diterima langsung oleh tersangka tanpa melalui perantara.
“Kita tunggu fakta persidangan (apakah ada tersangka lain),” kata Eri, Jumat (26/12/2025).
Menurut Eri, penyidik masih mendalami penggunaan dana tersebut sekaligus menelusuri kemungkinan keterlibatan pihak lain, dan status Letjen Widi Prasetijono adalah saksi.
“Sementara tersangka sudah dua. (Widi Prasetijono) statusnya saksi,” lanjutnya Eri.
2. Pemeriksaan Terhadap Widi Prasetijono
Letjen TNI Widi Prasetijono menjalani pemeriksaan oleh Kejati Jateng sebagai saksi dalam kasus dugaan TPPU terkait kasus korupsi pembelian lahan milik BUMD PT Cilacap Segara Artha (CSA).
Kepala Kejati Jateng, Siswanto mengatakan, pemanggilan sebagai saksi tersebut sudah dilakukan untuk kedua kalinya.
Pemanggilan tersebut untuk mengulik informasi adanya tindak pidana pencucian uang dalam kasus tersebut.
Dalam penelusuran TPPU, kasus ini juga berkaitan dengan Novita Permatasari, istri dari Widi Prasetijono.
Namun Kajati belum mengetahui apakah pasangan suami istri tersebut dipanggil sebagai saksi dalam satu tempat.
“Belum (tahu) karena istrinya itu masih proses persidangan (sebagai saksi),” katanya di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Senin (1/12/2025).
3. Mutasi Jabatan Widi Prasetijono
Kemudian, Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto melakukan rotasi dan mutasi terhadap 187 Perwira Tinggi (Pati) TNI.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/1664/XII/2025 tanggal 15 Desember 2025 tentang pemberhentian dari dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan TNI.
Salah satu perwira tinggi yang dimutasi adalah Letnan Jenderal TNI Widi Prasetijono, mantan ajudan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Sebelumnya, Letjen Widi menjabat sebagai dosen Universitas Pertahanan (Unhan). Kini, ia dimutasi menjadi Staf Khusus Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).
Dengan penempatan tersebut, Letjen Widi tidak lagi memegang komando pasukan maupun kewenangan operasional, sebab jabatan staf khusus merupakan posisi nonkomando di lingkungan TNI AD.
TNI menegaskan, mutasi Letjen Widi Prasetijono merupakan bagian dari mekanisme rutin organisasi dan tidak berkaitan langsung dengan proses hukum yang sedang berjalan.
Prinsip praduga tak bersalah tetap dikedepankan selama belum ada putusan hukum yang berkekuatan tetap.
Mutasi besar-besaran ini sekaligus menunjukkan dinamika regenerasi dan penyegaran di tubuh TNI, seiring tuntutan profesionalisme dan adaptasi terhadap tantangan strategis ke depan.
4. Latar Belakang Widi Prasetijono
Letnan Jenderal (Letjen) TNI Widi Prasetijono lahir di Trenggalek, Jawa Timur, pada 4 Juni 1971 berusia 54 tahun, dan menikah dengan Novita Permatasari.
Lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1993 ini mengawali karier militernya di kesatuan Infanteri Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Saat ini, Widi Prasetijono menyandang pangkat Letnan Jenderal, yakni pangkat perwira tinggi TNI yang berada satu tingkat di bawah Jenderal dan satu tingkat di atas Mayor Jenderal.
Dalam struktur TNI, pangkat Letjen setara dengan bintang tiga dan umumnya menduduki jabatan strategis, seperti panglima komando utama, kepala badan, atau jabatan staf di tingkat pusat.
Selama berkarier, Letjen Widi Prasetijono pernah menduduki jabatan strategis, di antaranya sebagai berikut:
– Perwira Menengah Pertama Pusat Kesenjataan Infanteri (Pussenif) tahun 1993
– Komandan Unit (Danunit) Grup 2 Kopassus (1995)
– Komandan Unit Batalyon (Danunit Yon) 22 Grup 2 Kopassus (1996)
– Komandan Sub Tim (Dansubtim Yon) 22 Grup 2 Kopassus (1998)
– Komandan Tim (Dantim) Yon 22 Grup 2 Kopassus (2000)
– Kepala Seksi Logistik (Kasilog) Grup 1 Kopassus (2003)
– Wakil Komandan Batalyon (Wadanyon) 11 Grup 1 Kopassus (2006)
– Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) 400/Raider (2009—2010)
– Perwira Pembantu Madya Operasi (Pabandya Ops) Staf Operasi Kodam (Sopsdam) IV/Diponegoro (2010—2011).
5. Jejak Karier Sebagai Ajudan Jokowi
Karier Widi Prasetijono semakin melejit tatkala dipercaya mengemban jabatan sebagai Komandan Distrik Militer (Dandim) 0735/Surakarta pada tahun 2011.
Pada tahun itu, Jokowi masih menjabat sebagai Wali Kota Solo.
Kedekatan antara Widi dan Jokowi terus terjalin setelah mantan Gubernur DKI Jakarta itu menjadi Presiden hasil Pilpres 2014.
Widi Prasetijono pun diberikan kepercayaan menjadi ajudan Jokowi saat masih berpangkat kolonel.
Setelah bertugas sebagai ajudan presiden, Widi lantas mengemban jabatan sebagai Komandan Resimen Induk Daerah Militer (Rindam) III/Siliwangi.
Tak berselang lama, peraih Brevet Kualifikasi Penanggulangan Teror (Gultor) itu kemudian diangkat menjadi Komandan Resor Militer/Danrem 074/Warastratama pada 2017.
Pada 2018, Widi akhirnya berhasil pecah bintang dengan menyandang pangkat Brigjen.
Kala itu, Widi yang pernah ikut serta dalam Operasi Seroja Timor Timur dan Operasi Pemulihan Keamanan Papua didapuk menjadi Danrem 091/Aji Surya Natakesuma.
Pada 2020, Widi kemudian dimutasi menjadi Kepala Staf Komando Daerah Militer (Kasdam) IV/Diponegoro.
Tak butuh waktu lama untuk naik pangkat menjadi bintang 2, Widi sukses menyandang pangkat Mayor Jenderal atau Mayjen pada tahun 2022.
Widi lantas diutus untuk mengisi kursi jabatan posisi sebagai Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Di tahun yang sama, Widi kemudian dipercaya untuk menduduki posisi sebagai Panglima Kodam (Pangdam) IV/Diponegoro menggantikan Letjen TNI Rudianto.
Puncak karier Widi sebagai prajurit TNI berhasil diraihnya ketika ia akhirnya naik pangkat menjadi Letjen pada 2023.
Kala itu, Letjen Widi Prasetijono diangkat menjadi Komandan Komando Pembina Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Darat (Dankodiklatad).
Dankodiklatad merupakan perwira tinggi TNI AD yang bertanggung jawab atas pembinaan doktrin, pendidikan, serta latihan seluruh prajurit TNI AD.
Barulah di tahun 2024, Widi ditugaskan menjadi dosen Unhan hingga yang terkini, ia dimutasi menjadi Stafsus KSAD.
Widi juga sering mendapat kepercayaan untuk penugasan di sejumlah negara di luar negeri seperti Singapura, China, Myanmar, Australia, Malaysia, Turki dan Amerika Serikat.
6. Harta Kekayaan Widi Prasetijono
Selama bertugas di TNI AD, Letjen Widi Prasetijono terpantau dua kali melaporkan harta kekayaannya kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Melansir laman elhkpn.kpk.go.id, paling terbaru saat Widi menjabat sebagai Dankodiklatad pada 13 Februari 2024.
Dalam laporan tersebut, total harta kekayaan Widi mencapai Rp 16,4 miliar, tepatnya Rp 16.483.000.000.
Widi tercatat mempunyai 7 bidang tanah dan bangunan yang berada di Semarang, Boyolali, Surakarta, dan Tangerang Selatan senilai Rp 13,7 miliar.
Di garasinya, ada tiga unit mobil dengan kendaraan yang paling mahal adalah Toyota Alphard dengan nilai Rp 900 juta.
Aset lain yang dipunyainya adalah kas dan setara kas sebesar Rp 1,18 miliar serta tanpa utang sepeser pun.
(Tribunnews.com/TribunJateng.com/Kompas.com)
Ikuti saluran SURYA MALANG di >>>>> WhatsApp
