Jejak Katolik di Pendidikan Wanita Jepang



Bisnis, JAKARTA — Meskipun agama Katolik bukanlah agama mayoritas di Jepang, jejak sejarah dan pengaruhnya masih terasa hingga saat ini. Salah satu contohnya adalah Fuji Women’s University di Sapporo, Prefektur Hokkaido. Universitas ini merayakan 100 tahun kehadirannya pada tahun ini, yang merupakan perjalanan panjang dari awal pendirian sebagai lembaga pendidikan khusus untuk perempuan.

Saya berkesempatan mengunjungi universitas tersebut pada Jumat (5/12/2025) sebagai bagian dari agenda Jenesys Exchange Program 2025. Program ini diikuti oleh belasan jurnalis dari negara-negara ASEAN pada 2–9 Desember 2025 lalu. Jenesys merupakan inisiatif Pemerintah Jepang, khususnya Kementerian Luar Negerinya, untuk memperkuat hubungan persahabatan dengan negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara.

Fuji Women’s University adalah universitas khusus untuk mahasiswi. Awalnya, universitas ini didirikan karena keprihatinan Gereja Katolik terhadap akses pendidikan bagi perempuan Jepang pada awal abad ke-20. Jejak awalnya dapat ditelusuri ke tahun 1920, ketika tiga suster Katolik asal Jerman, yakni Sr. M. Jeanne Berchmans Salomon, Sr. M. Xavera Lehme, dan Sr. M. Candida von der Haar, tiba di Sapporo.

Kehadiran mereka di Sapporo dilatarbelakangi oleh visi seorang imam Fransiskan asal Jerman, Wenseslaus Kinold, yang kemudian menjadi uskup pertama di sana. Kinold meyakini bahwa pendidikan perempuan adalah kunci masa depan Hokkaido, sehingga dia mengajukan permohonan kepada Gereja di Jerman untuk mengirim pendidik.

Langkah awal yang diambil cukup sederhana. Pada 1925, ketiga suster tersebut mendirikan Fuji Girls’ High School, sekolah menengah khusus perempuan dengan masa belajar lima tahun. Dari sinilah cikal bakal Fuji Women’s University berkembang secara bertahap, sesuai dengan perubahan sistem pendidikan Jepang dan kebutuhan masyarakat.

Setelah Perang Dunia II, lembaga ini bertransformasi. Pada 1947, dibuka Fuji Women’s Technical College, yang kemudian direorganisasi menjadi Fuji Women’s Junior College pada 1950. Pada 1961, Fuji Women’s College resmi dibuka sebagai perguruan tinggi empat tahun dengan pendirian Fakultas Humaniora, yang mencakup Sastra Inggris dan Sastra Jepang.

Perkembangan kampus terus berlanjut. Pada 1992, Fuji Women’s College membuka Kampus Hanakawa, yang menjadi basis bagi studi-studi yang lebih aplikatif seperti ilmu kehidupan, nutrisi, dan kesejahteraan keluarga. Seiring waktu, lembaga ini berkembang menjadi Fuji Women’s University, lengkap dengan program pascasarjana yang dibuka pada 2002.

Memasuki abad ke-21, universitas ini terus menyesuaikan diri dengan perubahan sosial. Pada 2025, bertepatan dengan usia satu abad, Fuji Women’s University merombak sejumlah nama fakultas dan program studi. Tujuannya adalah untuk menegaskan fokus pada isu well-being, kesejahteraan regional, dan lingkungan pangan, yang relevan dengan tantangan masyarakat Jepang yang menua.

UNIVERSITAS SEKULER

Meski berakar dari tradisi Katolik, Fuji Women’s University kini bersifat relatif sekuler. Mayoritas mahasiswi dan dosennya bukan penganut Katolik. Namun, nilai-nilai dasar seperti penghormatan terhadap martabat manusia, pendidikan sebagai sarana pembebasan, dan perhatian pada kelompok rentan tetap menjadi roh institusi.

Universitas ini tetap terhubung dengan jejaring universitas Katolik di Asia dan Pasifik melalui Association of Southeast and East Asian Catholic Universities (ASEACU). Tahun depan, pertemuan jejaring tersebut dijadwalkan berlangsung di Indonesia.

“Kami adalah universitas Katolik, tetapi juga universitas perempuan. Fokus kami adalah memberdayakan perempuan agar menemukan suaranya sendiri,” kata Jeremy Redlich, Wakil Presiden Fuji Women’s University.

Ia menilai universitas perempuan masih memiliki relevansi di Jepang, meski popularitasnya menurun seiring berkurangnya jumlah penduduk usia muda. Menurutnya, model pendidikan ini memberi ruang penting bagi mahasiswi untuk memberdayakan diri, menemukan suara mereka sendiri, dan memahami siapa diri mereka.

AGAMA JEPANG

Dalam kunjungan ke universitas tersebut, saya juga sempat mengikuti kelas budaya Jepang, yang dibawakan oleh salah satu dosen, Mila Tillonen. Dia berasal dari Finlandia, tetapi telah 10 tahun tinggal di Jepang dan mendalami budaya Asia Timur.

Agama bukanlah topik bahasan publik yang umum di Jepang. Posisi agama dalam kehidupan sosial kemasyarakatan pun tidak begitu kuat. Shinto dan Buddha mendominasi Jepang. Berdasarkan data Badan Urusan Budaya Jepang 2023, pemeluk Shinto mencapai 48% penduduk, sedangkan Buddha 47%. Di sisi lain, Katolik dan Protestan hanya sekitar 1%, sedangkan Islam dan agama-agama lainnya 4%.

Shinto adalah agama asli Jepang, yang bersifat politeistik. Agama ini sangat berorientasi pada tempat dan praktik, tanpa pendiri atau kitab suci. Buddha, di sisi lain, berasal dari Tiongkok ke Jepang, dan telah dipraktikkan sejak abad ke-6. Di Jepang, Buddhisme berkembang menjadi berbagai sekte dengan doktrin dan ajaran masing-masing.

Orang Jepang sering kali tidak memilih salah satu agama secara eksklusif. Keduanya memiliki waktu dan tempat dalam kehidupan seseorang. Shinto berkaitan dengan peristiwa kehidupan, seperti kelahiran, pernikahan, dan upacara-upacara tertentu. Buddha memiliki peran tradisional dalam mengurus upacara pemakaman.

Di tengah masyarakat Jepang yang kerap mengaku “tidak beragama”, keberadaan Fuji Women’s University menjadi penanda bahwa jejak Katolik di Jepang tidak hadir dalam bentuk dominasi iman. Sebaliknya, Katolik hadir dalam bentuk kontribusi nyata di bidang pendidikan, khususnya pendidikan perempuan, yang terus bertahan selama satu abad.

Pos terkait