Isi Artikel
Oleh; Dr. Ainal Mardhiah, S.Ag, M.Ag
Fenomena saya lihat, saya dengar di setiap bencana alam yang terjadi. Baik itu bencana alam dengan sebab tangan-tangan manusia serakah seperti banjir bandang Aceh 2025, atau bencana dengan sebab ujian yang Allah berikan seperti tsunami dan gempa bumi lainnnya.
Ada satu fenomena yang saya lihat dan itu tidak dianjurkan oleh Rasulullah SAW, yaitu pilih kasih (Ashabiyah) dalam menolong korban bencana.
Saya lihat dalam menolong korban yang tertimpa musibah, baik itu dengan dana pribadi, dana lembaga, atau sumbangan orang secara pribadi atau kolektif, dalam menyampaikan bantuan, terlihat ada perlakuan pilih kasih (ashabiyah) dalam membantu korban. Ini fenomena yang tidak patut, tidak baik menurut pandangan syari’at Islam. Yang dibantu saudara sendiri, keluarga sendiri, komunitas sendiri, orang kantor sendiri, orang partai sendiri.
Bagaimana nasib orang-orang, yang mereka tidak punya siapa-siapa, mereka yang tidak mampu? Seorang muslim tidak diajarkan pilih kasih (ashabiyah) dalam membantu orang, tapi diajarkan ukhuwah Islamiyah (bantulah semua orang yang membutuhkan) siapapun dia, apapun latar belakang dan pekerjaan, bantulah setiap orang yang butuh karena sesama muslim itu bersaudara.
Hindari Ashabiyah Dalam Membantu Korban Banjir Bandang, Yang Dapat Memecah Belah Ukhuwah Islamiyah Umat Islam
Ashabiyah artinya solidaritas kelompok, semangat kesukuan, atau fanatisme kelompok yang menekankan kesetiaan buta pada kaum, keluarga, atau golongan, sering kali sampai membela yang zalim, sebuah konsep penting dalam teori Ibnu Khaldun tentang naik turunnya peradaban, namun dalam Islam dilarang karena dianggap penyakit yang menutup kebenaran dan merusak persaudaraan.
‘ashabah berasal dari bahasa Arab; yang berarti kerabat atau kaum, berkembang menjadi semangat golongan atau partai. Ibnu Khaldun: Mengartikannya sebagai “perasaan kelompok” atau “kohesi sosial” yang menjadi kekuatan pendorong sejarah, paling kuat di awal peradaban nomaden dan melemah seiring berkembangnya peradaban.
“ashabah” Secara Istilah, Solidaritas kuat berdasarkan pertalian darah, kebangsaan, atau kesamaan, mendorong pembelaan membabi-buta terhadap kelompok, tanpa memedulikan benar atau salah.
Bukan berarti dilarang mencintai keluarga atau bangsa, tetapi ashabiyah menjadi haram ketika menempatkan loyalitas kelompok di atas kebenaran, keadilan, atau akidah Islam, apalagi sampai merusak ukhuwah Islamiyah Umat Islam di tengah bencana banjir bandang
Keutamaan Saling Membantu Sesama Muslim
Pertama, setiap kebaikan akan Allah balas dengan 700 ganjarannya.
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 261)
Kedua, Akan Allah hilangkan kesulitan orang yang membantu menghilangkan kesulitan saudaranya.
“Barangsiapa menghilangkan satu kesulitan dari seorang mukmin ketika di dunia, maka Allah akan menghilangkan darinya satu kesulitan di akhirat. Barangsiapa yang menutupi keburukan seorang muslim, Allah akan menutupi keburukannya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR Muslim)
Ketiga, sebaik-baik manusia yang paling bermanfaat buat yang lainnya.
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain, (HR. Ahmad, Ath-Thabari)
Keempat, Setiap kebaikan yang dibuat akan kembali kepada diri
“Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri.” (QS. Al-Isra:7)
Kelima, Setiap membantu urusan orang lain, Allah akan bantu urusannya
“Barangsiapa membantu keperluan saudaranya, maka Allah akan membantu keperluannya.” (Muttafaq ‘alaih)
Oleh karena itu, mari berlomba-lomba saling membantu sesama muslim juga membantu sesama umat manusia. Karena ini adalah ladang pahala bagi setiap diri, jangan melihat dan mengukur diri dengan orang lain saudaraku, karena setiap bantuan yang kita berikan tidak kembali kepada orang, tapi kembali kepada setiap diri. Oleh karena itu, keberkahan akan meliputi bantuan yang kita berikan semaksimal yang kita bantu, dan kita mampu, meski hanya sebait do’a, agar Allah mudahkan urusan kaum muslimin dimanapun mereka berada.
Orientasi Saling Membantu Bagi Seorang Muslim.
Pertama; Membantu Atas Dasar Ukhuwah Islamiyah.
Aqidah Islam memerintahkan untuk saling tolong menolong dengan sesama muslim,
“Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya”. QS. Al-Maidah ayat 2
Sesama muslim itu ibarat satu bangunan, ketiadaan salah satu menampakkan kekurangan dari keseluruhan gedung yang ada, oleh karena itu harus saling menjaga dan membantu, tidak boleh pilih kasih;
Dari Abu Musa RA, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Seorang mukmin dengan mukmin yang lain bagai sebuah bangunan yang sebagiannya mengokohkan sebagian yang lain.” (HR Bukhari)
Sesama muslim itu, umpama satu tubuh, sehingga harus saling menjaga;
Dari An-Nu’man bin Basyir RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan kaum mukmin dalam saling cinta, saling mengasihani, dan belas kasih mereka bagaikan satu jasad. Apabila satu anggotanya sakit maka seluruh tubuh akan merasakan tidak bisa tidur dan demam.” (HR Muslim)
Kedua; Membantu Atas Dasar Kemanusiaan.
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8).
Mari kita bantu korban banjir bandang, dengan apa yang kita miliki, tanpa pilih kasih, semaksimal kemampuan yang ada. Meski dengan sebait do’a moga Allah mudahkan urusan kaum muslimin semua dimanapun mereka berada, terutama yang sedang ditimpa musibah bencana banjir bandang Aceh 2025.
Bantu juga yang bukan muslim jika mereka butub dan meminta, karena seorang muslim itu rahmat bagi sekalian alam dan ini adalah washilah dakwah bil hal dalam Islam.
Wallahu’alam. Moga bermanfaat.
*) PENULIS adalah Dosen Pendidikan Agama Islam UIN Ar Raniry Banda Aceh dan Relawan Banjir Bandang Aceh 26 November 2025
KUPI BEUNGOHadalah rubrik opini pembaca . Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI
