Jalan Semarang-Purwodadi Lumpuh Akibat Tanggul Sungai Tuntang Roboh

, SEMARANG– Tanggul Sungai Tuntang kembali mengalami kerusakan dan menyebabkan banjir yang memutus akses Jalan Raya Semarang–Purwodadi di wilayah Desa Tinanding, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Senin (16/2/2026) sore.

Kejadian itu berlangsung sekitar pukul 15.00.

Bacaan Lainnya

Banjir menyebabkan jalan utama Semarang-Purwodadi terganggu sepenuhnya karena terkena air yang meluap dari pecahnya tanggul yang berada di dekat jalur tersebut.

Titik lokasi tanggul yang mengalami kerusakan sama dengan kejadian sebelumnya, yaitu di Jalan Mitreng-Gubug.

Titik kerusakan tanggul berjarak beberapa meter dari lokasi kebocoran pada kejadian tahun lalu, yaitu 21 Januari 2025, yang juga menyebabkan jalan provinsi tersebut tidak dapat digunakan.

“Letaknya sama seperti tahun lalu, titiknya hanya bergeser beberapa meter dari yang pertama,” kata Sekretaris Desa (Sekdes) Tinanding, Baku Sujarwo, kepada Tribun Jateng, Senin.

Pengamatan di lapangan, Selasa (17/2/2026), jalan beton penghubung Purwodadi, Kabupaten Grobogan-Kota Semarang mengalami kerusakan sepanjang 50 meter.

Jalan rusak karena terjangkit derasnya aliran air yang berasal dari bendungan Sungai Tuntang.

Peristiwa tersebut menyebabkan lalu lintas dari kedua arah terhenti.

Beberapa petugas gabungan, TNI-Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), relawan, dan warga sedang membersihkan lumpur yang masih menyebar di jalan.

Pagar yang runtuh terletak di wilayah Dusun Dempel, yang berbatasan dengan Desa Pilangwetan dan Kebonagung, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak.

Jalur yang terkena dampak adalah jalan provinsi yang menjadi batas antara Kabupaten Grobogan dan Demak, tidak jauh dari kawasan Api Abadi Mrapen.

“Air dari tanggul yang pecah langsung membanjiri permukiman penduduk dan lahan pertanian,” tambahnya.

Ini adalah kali ketiga bendungan Sungai Tuntang mengalami pecah.

Sebelumnya, peristiwa serupa tercatat pada tahun 1998 dan kembali terjadi pada 21 Januari 2025.

Informasi sementara menunjukkan, 277 rumah yang dihuni oleh total 838 orang terkena dampak banjir.

Kurang lebih 30 hektar lahan pertanian tergenang.

Wilayah yang terkena dampak mencakup Desa Rejosari RT 01, 02, 03, dan 04 RW 02, serta Desa Mlati RT 01 dan 02 RW 03.

Warga yang terkena dampak, khususnya lansia dan anak-anak, dievakuasi ke Balai Desa Manggarmas, Kecamatan Godong.

Ketinggian air dilaporkan sekitar 60 sentimeter.

Dua titik

Banjir besar menghancurkan wilayah Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak, setelah tanggul Sungai Tuntang pecah di dua lokasi berbeda, pada Senin (16/2/2026) sore.

Kekuatan aliran air menghancurkan permukiman penduduk dan menyebabkan jalan utama Semarang-Purwodadi menjadi tidak dapat diakses sama sekali.

Kondisi paling buruk dirasakan oleh penduduk Desa Pilangwetan dan Kebonagung.

Tim gabungan dari BPBD Demak dan BPBD Grobogan dikerahkan guna melakukan evakuasi terhadap warga yang terjebak di tengah banjir sejak sore hingga pagi hari.

Seorang relawan BPBD Demak yang dikenal dengan panggilan Lek Sho membenarkan bahwa proses evakuasi terus berlangsung secara intensif hingga malam hari guna menjangkau warga yang terjebak.

“Monitor, ini masih proses evakuasi di Desa Kebonagung,” kata Lek Sho singkat, malam Senin.

Kuatnya aliran air banjir menyulitkan akses menuju area yang terkena dampak, bahkan bagi pihak berwenang setempat.

Kepala Desa Pilangwetan, Toha Mahsun, mengakui kesulitan dalam memantau keadaan warga di Dukuh Dempel akibat aliran air yang sangat deras di jalan utama.

“Saya ingin pergi ke sana tidak bisa, lalu lintasnya sangat padat,” kata Toha, sore Senin.

Sementara Plt Kepala Desa Kebonagung, Yogi Setiawan Widi Nugroho, mengatakan bahwa ada dua dusun yang benar-benar terisolasi karena lokasinya berada persis di antara dua tanggul yang rusak.

Dua area tersebut ialah Dukuh Dempel (Desa Pilangwetan) dan Dukuh Wareng (Desa Kebonagung).

“Saya tadi berada di sana hampir senja, di tempat itu masih cukup deras, sudah dilakukan evakuasi, juga ada yang mandiri, dibantu oleh BPBD Demak, BPBD Grobogan juga turut serta,” ujar Yogi melalui panggilan telepon.

Berdasarkan data sementara hingga sore Senin, terdapat 101 kepala keluarga (KK) di Desa Pilangwetan dan 117 KK di Desa Kebonagung yang terendam banjir dengan ketinggian air mencapai satu meter di wilayah permukiman.

“Wilayah kami yang terpencil adalah Dukuh Dempel (Desa Pilangwetan), serta Wareng (Desa Kebobang),” jelas Yogi.

Lebih besar

Bupati Demak, Eisti’anah, menyatakan bahwa debit banjir pada tahun ini lebih tinggi dibanding sebelumnya, sehingga tanggul kembali rusak dan jalan beton terputus.

“Karena memang kondisi debit air yang lebih tinggi dibanding tahun lalu, hal ini menyebabkan adanya jalan beton yang terbawa arus,” ujar Eisti’anah saat meninjau lokasi tanggul Sungai Tuntang yang pecah di Desa Kebonagung, Selasa siang.

Eisti’anah menyebutkan, sejumlah penduduk yang dievakuasi berpindah ke gedung Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Namun, kini penduduk mulai kembali ke rumah mereka untuk membersihkan tempat tinggal dan meninggalkan belasan lansia.

“Ada tempat pengungsian di KDMP, tetapi memang warga lansia yang tinggal di sana, sedangkan masyarakat lain kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan lingkungan, Alhamdulillah kerja sama semua pihak dalam membantu masyarakat,” katanya.

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih karena banjir kali ini terjadi setelah panen, sehingga hanya sebagian lahan pertanian yang tergenang.

“Alhamdulillah. kami sebelumnya telah mengonfirmasi kepada Bapak Kepala Desa Kebonagung bahwa setelah panen, masih tersisa dua hektare yang belum dipanen,” katanya.

Eisti’anah menekankan, penutupan tanggul akan segera dilakukan setelah pihak terkait berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), yang memiliki wewenang atas sungai tersebut.

“Kami telah berkoordinasi dengan BBWS, BBWS telah melakukan tindakan dan mungkin segera akan menutupnya,” katanya.

Ia menambahkan, selama ini Pemkab Demak telah berupaya melakukan normalisasi agar tanggul tidak kembali pecah dengan menggunakan kemampuan anggaran daerah.

“Kami dari Pemkab menggunakan anggaran APBD secara besar-besaran melakukan normalisasi terhadap sungai-sungai yang tentunya tidak sebesar seperti Tuntang,” katanya.(Rezanda Akbar D/Iwan Arifianto/Kompas.com) 

Pos terkait