JAGA Lingkungan andamp Alam Semesta,Handi Yasa Ubah Limbah Jadi Karya Seni Lukisan Bernilai di Sudakara

Perubahan iklim dan cuaca buruk yang melanda Indonesia dan khususnya Bali, termasuk dunia saat ini adalah ada pula ulah manusia di dalamnya. 

Salah satunya dengan penebangan hutan dan deforestasi yang kian masif, membuat anomali yang luar biasa. Belum lagi sampah yang tak ada jalan keluarnya sampai detik ini. 

Bacaan Lainnya

Tak ada jalan lain, hanya insan manusia yang bisa mengubah situasi ini menjadi jauh lebih baik. Yaitu dengan menanam kembali, lalu membuang dan mengolah sampah pada tempatnya. 

Jika tidak maka kehancuran hanya tinggal menunggu waktu. Langkah kecil dan nyata dilakukan seorang seniman, bernama Nyoman Handi Yasa.

Pelukis asal Tejakula, Buleleng, Bali, ini menunjukkan aksi nyata dengan memungut kayu di sungai dan pinggir pantai, lalu ia ubah menjadi karya seni yang luar biasa berharga. 

“Kadang saya dapat kayu di pesisir pantai, pokoknya saya pungut saja lalu saya kumpulkan. Sampai beberapa bulan dan sampai tahunan, mengumpulkan bahan itu baru disusun menjadi karya seni,” kata pria yang akrab disapa Man Handy ini. 

Salah satu lokasi ia kerap mendapatkan kayu, adalah di Pantai Lembeng  serta ada beberapa sungai, dan jika dapat inspirasi maka ia akan angkut kayu tersebut. 

Hal ini dibenarkan sang penulis pameran karya lukisan, I Made Susanta. “Ini adalah pameran tunggal Handi Yasa kesekian kalinya, ini sebuah momen yang merepresentasikan tentang perjalanan dari proses kreatif Nyoman Handi Yasa sebagai seorang seniman,” ucapnya.

Material tidak hanya lukisan, dengan strukturnya persegi saja tetapi ada lukisan yang hadir dengan lintas medium dari bahan ranting pohon kayu, yang dipungut Nyoman Handi Yasa di sepanjang perjalanannya.

Kemudian itu ia rangkai menjadi satu bentuk karya seni rupa.  Nyoman Handi Yasa, kata dia, adalah perupa memiliki kepekaan dalam melihat medium itu sendiri. Mengubah limbah menjadi sesuatu yang baru, seperti proses kehidupan. 

Karya Handi Yasa juga menunjukkan, bagaimana keindahan alam semesta seharusnya tidak dirusak begitu saja. Namun seperti filosofi kehidupan Hindu, Tri Hita Karana yakni seimbang dengan segalanya. 

Sebab dengan menjaga lingkungan dan alam semesta, maka manusia juga akan terjaga, keseimbangan akan terjaga, serta meminimalisir terjadinya bencana. 

Lukisan dengan aliran kontemporer ini memperlihatkan bagaimana ia menuangkan semua ide ke dalam sebuat cat dan warna. 

“Saya lebih konsen ke alam, karena karya seni yang saya buat hampir semua terinspirasi dari sana. Misalnya melihat lingkungan sekitar kita. Harapannya dari ekshibisi ini, semoga bisa terinpisrasi dan termotivasi menjaga lingkungan,” imbuh Handi Yasa. 

Pameran di Sanur 

Sudakara ArtSpace di Sudamala Resort, Sanur dengan senang hati mempersembahkan Cycles & Journeys, pameran seni tunggal oleh seniman Bali ternama Nyoman Handi Yasa, yang dibuka pada Jumat, 19 Desember 2025, pukul 18.30 WITA.

Cycles & Journeys merefleksikan ritme kehidupan, pergerakan, dan transformasi menangkap baik perjalanan yang terlihat maupun yang tak terlihat yang membentuk pengalaman manusia.

Melalui bahasa visual khas Handi Yasa, pameran ini mengeksplorasi siklus alam, ingatan, dan perjalanan spiritual yang berulang, mengundang penonton ke dalam dialog kontemplatif antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Pameran ini dibuka secara resmi oleh Alexander Ketjil Kosasie, dengan disertai refleksi tertulis oleh penulis seni I Made Susanta Dwitanaya, yang teksnya menawarkan wawasan kritis tentang kedalaman konseptual dan alur naratif karya-karya yang dipamerkan.

Diselenggarakan di Sudakara ArtSpace, platform khusus untuk ekspresi artistik kontemporer dan tradisional di dalam Sudamala Resort, Sanur, pameran ini menggarisbawahi komitmen berkelanjutan resor untuk merayakan seni dan budaya Indonesia melalui pertemuan kreatif yang bermakna.

 Detail Pameran

•       Lokasi:                         Sudakara ArtSpace, Sudamala Resort, Sanur

•       Pembukaan:               Jumat, 19 Desember 2025

•       Waktu:                         18.30

•       Periode Pameran:    19 Desember 2025 – 6 Februari 2026

Pos terkait