, NUNUKAN– Asap tipis berwarna abu-abu perlahan muncul dari sebuah tungku sederhana yang terbuat dari drum bekas. Ia menembus celah-celah papan rumah kayu tua yang sudah hitam, seolah menyampaikan pesan diam tentang kehidupan yang tetap bertahan di dataran tinggi perbatasan Indonesia–Malaysia.
Di balik asap yang menyebar, tersimpan kisah panjang mengenai ketekunan, kesabaran, serta warisan leluhur yang tak pernah pudar oleh waktu. Sebuah cerita tentang garam, bukan garam laut, melainkan garam gunung yang telah memberi kehidupan kepada masyarakat Krayan, Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara), selama bertahun-tahun.
Ada sebuah rumah kayu tua yang berdiri tegak di ujung dataran tinggi Desa Long Midang, menjadi satu-satunya lokasi penghasil garam gunung Krayan, yaitu garam khas pegunungan yang kini terkenal hingga ke luar daerah, bahkan melebihi batas negara.
Tidak ada mesin modern, sehingga tidak terdengar suara kebisingan dari alat produksi. Yang terdengar hanya bunyi gesekan kayu bakar, ledakan api, dan tiga pekerja (Maba Tusuk) yang setia mengaduk air asin yang mendidih di dalam wadah logam berbentuk persegi panjang di atas tungku dapur.
Di dalam sebuah bangunan rumah kayu yang tua, terdapat dua dapur pengolahan garam pegunungan yang masing-masing berasal dari dua sumur kuno. Setiap dapur dilengkapi dengan satu tungku dan tiga wadah logam berbentuk persegi yang berisi air laut dari sumber air pegunungan.
Proses pembuatannya jauh dari kata cepat.
Sejak pagi hingga malam hari, air laut dipanaskan secara bertahap dengan suhu di atas 100 derajat Celsius. Air yang berasal dari sumber air pegunungan ajaib di dataran tinggi Krayan, Nunukan, Kalimantan Utara.
Terdapat tiga langkah yang perlu diperhatikan dengan seksama, yaitu pertama memanaskan hingga mendidih, kemudian memindahkannya ke bagian ujung tungku, setelah itu mengembalikannya ke tengah tungku.
Pada titik tersebut, kristal garam secara perlahan terbentuk, mengendap, dan akhirnya membentuk garam gunung yang dikenal memiliki rasa khas serta manfaat bagi kesehatan.
Metode pengolahan ini hampir tidak berbeda sejak zaman leluhur. Kompor dari drum bekas, kayu bakar dari hutan sekitar, serta tenaga manusia menjadi saksi bisu bagaimana tradisi ini tetap dipertahankan, meskipun waktu telah berubah.
Setiap hari, perusahaan produksi tradisional ini hanya mampu menghasilkan sekitar 20 hingga 23 kilogram garam. Angka yang tergolong rendah jika dibandingkan dengan permintaan pasar yang tinggi dari berbagai daerah.
Namun siapa sangka, di balik keterbatasan produksi dan kesederhanaan peralatan, garam gunung Krayan justru mampu menghasilkan pendapatan puluhan juta rupiah setiap bulan.
Maylova, anggota Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TPPK) Desa Long Midang, Krayan Nunukan, menjelaskan bahwa sumber air asin yang digunakan untuk pembuatan garam di Gunung Krayan hanya berasal dari dua sumur tua yang terletak tepat di belakang tempat produksi.
Anehnya, hanya dua sumur ini yang memiliki rasa asin. Sementara sumber air lainnya di sekitar pabrik tetap tawar seperti air biasa. Menurut masyarakat setempat, kedua sumur ini disebut sebagai sumur jantan dan sumur betina. “Aneh tapi nyata. Dari dulu hanya dua sumur ini yang asin. Yang lain tawar semua,” katanya.
Bukan hanya sebagai sumber bahan baku garam, air dari dua sumur tua ini juga dianggap memiliki kekuatan ajaib.
Di mana sebagian besar masyarakat percaya air ini dapat membantu mengobati berbagai penyakit, bahkan dianggap sebagai perantara doa bagi mereka yang belum memiliki keturunan atau pasangan hidup.
“Dulunya leluhur kami yang menemukan sumur ini. Oleh karena itu, kami menganggapnya sebagai berkah. Katanya, sumur ini bisa menyembuhkan berbagai penyakit, seperti bagi yang belum memiliki anak atau belum menemukan pasangan,” katanya.
Keajaiban lainnya, meskipun musim kemarau yang panjang terjadi, air dari dua sumur tersebut tidak pernah berkurang sejak beberapa dekade yang lalu.
Permintaan Tinggi, Produksi Terbatas
Sayangnya, permintaan pasar yang tinggi belum mampu diimbangi dengan peningkatan kapasitas produksi. Keterbatasan sumber daya alam menjadi hambatan utama.
“Kami ingin menambahkan untuk Maba Tusuknya, tetapi sumber airnya hanya dua. Sejak dulu memang hanya ini yang asin. Ada sejarahnya,” kata Maylova dengan lembut.
Meskipun demikian, semangat masyarakat tetap tak pernah padam. Selama api di tungku masih menyala dan sumur tua terus mengalirkan air asin, Garam Gunung Krayan akan terus diproduksi dengan rasa yang dijaga, tradisi yang dilestarikan, serta harapan yang terus dinyalakan dari tanah perbatasan.
Tentu saja garam Krayan memiliki karakteristik khas yang membedakannya dari garam industri. Warna garam ini tidak seputih garam yodium, melainkan sedikit berwarna abu-abu.
Meskipun teksturnya lebih halus dan lembut, serta dianggap menyimpan berbagai manfaat.
“Katanya lebih baik untuk kesehatan. Sayur tidak cepat rusak. Jika daging, ikan, atau sayur difermentasi, maka akan lebih tahan lama,” katanya.
Di daerah Krayan, garam bukan hanya bahan masak. Ia menjadi simbol kebanggaan. Garam berwarna kelabu yang dikenal dengan nama Garam Tusuk Abu atau Tusuk Abu Longmida ini dijual seharga Rp50.000 per kilogram.
Dengan kemasan yang sederhana, garam ini mampu menembus pasar perkotaan hingga ke luar negeri.
“Jika ada persediaan hari ini, akan ludes besok. Ada yang membawanya ke Lawas, ke kota-kota di Kaltara, bahkan sampai ke Jakarta. Ke Malaysia juga, jika tersedia maka akan habis,” katanya.
Maylova mengatakan, pendapatan dari produksi garam gunung ini mampu mencapai Rp30 juta hingga Rp40 juta setiap bulan.
“Jika sudah sampai di kota, mereka dikemas ulang dengan label. Ada yang mencantumkan ‘garam gunung Krayan’,” katanya.
Menariknya, tidak ada sistem kepemilikan pribadi dalam pengelolaan garam ini. Pendapatan seluruhnya diserahkan kepada Maba Tusuk yang sedang menjalani proses produksi.
“Sistemnya bergantian. Misalnya bulan ini keluarga A, bulan berikutnya keluarga B. Aturan ini hanya berlaku bagi penduduk desa di sini,” tegasnya.
Dari Garam Gunung Krayan, kita memahami bahwa di balik ketenangannya perbatasan, harapan dan semangat kehidupan tetap bersemangat, pelan, setia, seperti asap halus yang terus muncul dari tungku lama di Long Midang.
Berikut manfaat garam dari Gunung Krayan terhadap kesehatan:
* Mengatasi kondisi tekanan darah tinggi
* Mengatasi penyakit diabetes mellitus
* Mengobati berbagai masalah kulit dan beberapa jenis penyakit lainnya.
(*)
Penulis: Desi Kartika Ayu
