Intelijen Israel akui gagal tembus Hamas selama lebih dari 20 tahun, kenapa Iran bisa?

Intelijen Israel Akui Gagal Tembus Hamas Selama Lebih dari 20 Tahun, Kenapa Iran Bisa?

– Surat kabar Israel, Yediot Aharonot mengungkapkan, badan intelijen Israel telah mengakui ketidakmampuan mereka untuk menembus jaringan kepemimpinan Gerakan Perlawanan Palestina (Hamas).

Bacaan Lainnya

Laporan tersebut juga mencatat pengakuan kalau kegagalan masuk menyusup ke dalam jaringan Hamas berkontribusi pada tidak adanya peringatan sebelumnya terkait Operasi banjir Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023.

Surat kabar itu dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada Jumat (27/12/2025) mengatakan kalau lembaga keamanan Israel mengakui bahwa Dinas Keamanan Umum (Shin Bet), Unit 504, dan Dinas Intelijen Luar Negeri (Mossad) tidak memiliki agen terkemuka di jaringan kepemimpinan Hamas selama 20 tahun.

Artinya, intelijen Israel tidak mampu menepatkan agennya untuk menjadi “orang dalam” di dalam jaringan kelompok pembebasan Palestina tersebut selama bertahun-tahun.

Yedioth Ahronoth dalam laporannya menjelaskan, “Sejak penarikan diri dari Gaza, tidak ada agen penting yang ditanam di dalam kepemimpinan Hamas,”.

Penarikan diri yang dimaksud tersebut merujuk pada “penarikan mundur” yang diterapkan Israel secara sepihak di Jalur Gaza pada tahun 2005, di mana Israel mengevakuasi permukiman dan kamp militer mereka yang berada di Jalur Gaza.

Surat kabar itu mencatat, assessment atau penilaian Shin Bet saat itu menunjukkan kalau Hamas tidak berniat untuk meningkatkan eskalasi.

Penilaian ini yang membuat Israel ke luar dari Gaza dengan rencana memblokade wilayah kantong Palestina itu secara total.

Belakangan, blokade penuh ini tak jua mampu membendung pergerakan perlawanan faksi-faksi Palestina.

“Ini mengungkapkan kegagalan dan kebutaan mendalam yang melanda Shin Bet, serta intelijen militer dan seluruh jajaran pemerintahan Israel terhadap gerakan perlawanan Palestina,” tulis laporan tersebut. 

Mengapa Gagal di Gaza Tapi Sukses di Iran?

Pun, menurut surat kabar tersebut, pertanyaan yang lebih sulit adalah, “Bagaimana mungkin Israel, yang dapat merekrut agen di Iran, ribuan kilometer jauhnya, tidak memahami apa yang terjadi 100 kilometer di selatan Tel Aviv?”

Yedioth Ahronoth menyebutkan beberapa alasan yang mendasari kegagalan Israel untuk menembus kepemimpinan Hamas.

Satu di antaranya adalah justru karena taktik pengepungan total Gaza.

Isolasi Gaza akibat penarikan Israel dari Jalur Gaza pada tahun 2005 dan blokade yang diberlakukan di Jalur Gaza membuat wilayah Palestina itu sangat terasing.

Hal-hal baru, termasuk muka-muka anyar, akan mudah teridentifikasi.

Laporan mengatakan kalau Gaza dibiarkan tanpa “ekonomi, pariwisata, atau hubungan diplomatik, yang merupakan jalur masuk biasa bagi negara mana pun,”.

Ulasan menekankan bahwa “tanpa gesekan, sulit untuk merekrut agen.”

Faktor kedua yang menyebabkan kegagalan Israel untuk menembus Hamas, menurut surat kabar tersebut, adalah bahwa gerakan itu memahami banyak hal tentang metode Israel, sesuatu yang baru disadari Israel pada tahap akhir.

Yedioth Ahronoth mencatat bahwa Hamas menutup jalur infiltrasi melintasi perbatasan, laut, dan penyeberangan, serta melakukan eksekusi publik dan pembersihan berulang kali terhadap agen-agen Israel.

Faktor ketiga yang dikutip oleh surat kabar tersebut adalah rekomendasi yang dikeluarkan oleh kepemimpinan politik Israel, khususnya Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang, menurut Yediot Aharonot, menginstruksikan tentara Israel untuk menghindari eskalasi di Gaza dan menolak untuk membunuh para pemimpin Hamas.

Politisi tersebut menilai, menyerang duluan akan berarti “perang yang diprakarsai oleh Israel.”

Surat kabar itu mengatakan bahwa ironisnya, isolasi Gaza – yang merupakan rekomendasi politik dan taktik keamanan – telah membuat Israel buta, tuli, dan lumpuh terhadap Hamas.

Laporan surat kabar itu juga menunjuk pada faktor lain yang terkait dengan sifat Hamas sebagai “organisasi yang tertutup, rahasia, disiplin, dan ideologis” yang membuatnya sangat sulit untuk ditembus.

Surat kabar itu mengklaim bahwa “Shin Bet memiliki agen berpangkat rendah, tetapi hampir tidak ada satu pun dari mereka yang melaporkan informasi berharga sebelum 7 Oktober 2023,” dan mencatat bahwa Israel menyadari terlalu terlambat, setelah 7 Oktober, bahwa Hamas “adalah musuh terberat di Timur Tengah.”

 

(Oln/khbrn/*)

Pos terkait