Indonesia dikepung bencana, Kemhan latih jurnalis gunakan GPS

,JAKARTA – Semakin maraknya bencana alam yang terjadi di berbagai daerah Indonesia dalam beberapa bulan terakhir kembali menunjukkan betapa pentingnya persiapan dan kemampuan dalam mengurangi risiko. Mulai dari banjir, longsor tanah, hingga gempa bumi, keadaan darurat sering muncul secara tiba-tiba dan memerlukan tanggapan yang cepat dan akurat.

Pada situasi ini, kemampuan berpindah menjadi hal penting, terutama jika jalur evakuasi tersumbat atau komunikasi terbatas.

Bacaan Lainnya

Salah satu keterampilan yang harus dikuasai bila tinggal atau berada di wilayah rentan bencana adalah kemampuan menggunakan alatGlobal Positioning System (GPS).

Tidak hanya bagi masyarakat, penguasaan GPS juga penting bagi berbagai pihak lain, termasuk para jurnalis yang meliput di wilayah tersebut.

Pelatih Menlatpur Kostrad Kapten Infanteri Syaepurrahman menyatakan bahwa kemampuan dalam menggunakan GPS sangat penting dalam situasi yang berisiko, seperti bencana atau wilayah yang rentan konflik, karena beberapa alasan yang sangat kritis.

GPS memungkinkan seseorang menemukan jalur tujuan, terutama ketika beberapa jalur terputus dan membuat orang harus mencari jalan lain untuk sampai ke lokasi tertentu.

Untuk meningkatkan pemahaman dan kesiapan personel media dalam mendukung peliputan kegiatan lapangan, Kementerian Pertahanan menyelenggarakan pelatihan penggunaan GPS yang diadakan baik siang maupun malam hari di Resimen Latihan dan Pertempuran (Menlatpur) Kostrad Sanggabuana, Karawang.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian program “Kementerian Pertahanan Memberikan Pelatihan Prosedur Darurat kepada Jurnalis di Wilayah Rentan untuk Meningkatkan Keselamatanyang diinisiasi oleh Kementerian Pertahanan RI, pada tanggal 15 hingga 20 Desember 2025. Pelatihan ini dihadiri oleh 42 jurnalis dari berbagai media, termasuk jurnalis televisi, media internet, media cetak, hingga radio.

“Program pelatihan navigasi dibuat untuk mengatasi tantangan yang dihadapi saat berada di lapangan terbuka, daerah terpencil, atau wilayah yang memiliki keterbatasan penglihatan dan infrastruktur,” katanya, Kamis (18/12/2025).

Pemahaman akan keterampilan navigasi dianggap sangat penting agar seseorang dapat beradaptasi saat melakukan aktivitas di area yang rentan, baik di daerah bencana maupun wilayah yang sedang mengalami konflik. Keterampilan ini menjadi bekal utama dalam menjaga keselamatan diri di tengah situasi lapangan yang berubah dengan cepat dan penuh risiko.

Pada acara pelatihan, para pengajar menekankan bahwa tahap awal dalam proses belajar harus dimulai dengan memahami konsep teori. Peserta diharuskan mengenal fungsi dan cara kerja GPS, termasuk bagaimana membaca koordinat serta menentukan titik awal dan tujuan perjalanan.

Setelah menguasai konsep teori, peserta juga harus mengaplikasikan ilmu yang telah didapat melalui simulasi langsung di lapangan. Latihan dan praktik langsung ini bertujuan agar individu terbiasa dalam menggunakan GPS pada kondisi nyata, sehingga kemampuan navigasi bisa digunakan secara efisien dan aman.

Namun, menurutnya, terkadang kebutuhan navigasi tidak hanya terjadi di siang hari. Sebagai tambahan pengetahuan, individu juga perlu berlatih navigasi pada malam hari dengan menggunakan GPS dan kompas prisma.

Pada sesi latihan ini, peserta diberikan keterampilan dalam menjaga orientasi arah saat kondisi cahaya kurang, menentukan azimuth, serta memahami prosedur keselamatan saat bergerak di malam hari.

Terakhir, Syaepurrahman menekankan pentingnya kehati-hatian dan disiplin dalam berpelayaran. Peserta juga diingatkan mengenai berbagai kemungkinan gangguan, seperti kondisi medan, cuaca, serta keberadaan benda logam yang bisa memengaruhi ketelitian kompas.

Pos terkait