Hutan menyala dan pentas tradisi ramaikan tahun baru di TMII

TAMAN Mini Indonesia Indah (TMII) menyambut libur Natal dan tahun baru (Nataru) dengan pengalaman liburan multisensori melalui berbagai aktivitas budaya dan nonbudaya. Mengusung tema “Hadiah dari Jelajah Budaya adalah Kisah Penuh Makna”, pengunjung dapat menikmati pertunjukan tradisi, instalasi cahaya, musik modern bernuansa etnik, hingga ragam kuliner Nusantara.

Direktur Utama InJourney Destination Management (IDM) Febrina Intan mengatakan, tema itu dipilih karena momentum Natal dan tahun baru identik dengan tradisi berbagi hadiah kepada orang-orang terdekat. “Namun, hadiah ini bukan berarti dalam bentuk benda, melainkan pengalaman yang penuh makna dan sukacita,” kata dia dalam konferensi pers di Jakarta pada Jumat, 19 Desember 2025.

Bacaan Lainnya

Kurasi acara juga disesuaikan untuk menjangkau berbagai segmen, mulai dari keluarga, milenial, hingga generasi muda.

Pengalaman liburan multisensori di TMII dimulai dari 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026 dengan pertunjukan tradisi, instalasi cahaya, musik modern bernuansa etnik, dan kuliner Nusantara. Seluruh program dirancang untuk mengajak pengunjung menelusuri kisah budaya sekaligus pulang membawa pengalaman yang bermakna.

Jelajah Budaya

Plt. Direktur Utama Taman Mini Indonesia Indah Ratri Paramita menyatakan TMII kini destinasi budaya modern yang edukatif, inklusif, ramah lingkungan, serta memberi dampak berkelanjutan bagi masyarakat. Menurut dia, momentum Nataru bukan hanya soal perayaan, tetapi juga budaya dan kebersamaan. “Program ini sekaligus dirancang untuk memberdayakan UMKM, perajin lokal, serta komunitas budaya agar dampak sosial dan ekonomi dapat dirasakan secara nyata,” kata perempuan yang sering disapa Mita itu.

Pilihan Editor: Pesona Danau Kembar di Alahan Panjang

TMII mengawali rangkaian akhir tahun dengan agenda yang menonjolkan nilai spiritual dan solidaritas, termasuk doa bersama pada 10 Desember di Anjungan Sumatra Barat. Kegiatan tersebut menjadi penanda dimulainya perayaan akhir tahun yang lebih reflektif, sekaligus diiringi penyaluran bantuan sosial bersama Indonesia Regional Business Management. Rangkaian berlanjut pada 19 Desember melalui pertunjukan tari kolosal ratoh jaroe yang melibatkan sekitar 500 seniman. Pertunjukan itu menegaskan komitmen TMII untuk menempatkan budaya sebagai jantung perayaan di tengah dominasi hiburan modern.

Instalasi Hutan Menyala Dongeng Nusantara

Memasuki puncak libur Natal dan tahun baru, TMII menghadirkan deretan atraksi baru yang pertama kali digelar untuk publik. Salah satunya Hutan Menyala Dongeng Nusantara, instalasi cahaya tematik hasil kolaborasi dengan Diamond Aquar yang menyajikan kisah budaya Nusantara secara artistik dan imersif.

Beragam hiburan lain turut dihadirkan, mulai dari Circus Nusantara dan Animal Parade Jagat Satwa Nusantara, Jazz Senja Nusantara bersama Jazz Gunung Indonesia, hingga parade budaya dari berbagai daerah. Seluruh program dirancang memadukan tradisi dan sentuhan modern agar relevan dan menarik bagi lintas generasi.

Pilihan Editor: Semarak Pesta Lampion dan Keindahan Sakura di Taiwan

Sebagai payung besar perayaan akhir tahun, TMII mengusung program Sukaria Ga Ada Habisnya yang dirancang untuk menghadirkan kegembiraan, kebersamaan, dan pengalaman budaya yang berkelanjutan. Dalam rangkaian ini, TMII bekerja sama dengan Gebyar Komunikasi menghadirkan Sorak Sorai Festival 2.0 yang digelar pada 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026. Festival ini akan dimeriahkan konser musikus papan atas seperti Slank, Barasuara, NDX, Vieratalle, dan Souljah, serta dimeriahkan pertunjukan kembang api, kuliner Nusantara, instalasi seni, air mancur menari, dan beragam aktivitas keluarga

Direktur Utama Gebyar Komunikasi Danny K. Armananta mengatakan Sorak Sorai Festival 2.0 dikemas sebagai pengalaman istimewa bagi keluarga dan generasi muda dalam merayakan akhir tahun.”Kami mengemas seluruh rangkaian program sebagai perayaan budaya yang hangat, inklusif, dan relevan bagi semua usia,” kata dia.

APRILIAN RODO RIZKYPilihan Editor: Aneka Cerita Tujuh Sendang Cabean Kunti di Boyolali

Pos terkait