Program Hayday bersama Kuda membantu lansia serta pengguna kursi roda, meningkatkan kesehatan jasmani dan jiwa melalui hubungan dengan kuda.
Awalnya, gagasan menggabungkan kuda dengan pengguna kursi roda terdengar aneh. Namun, melalui program Hayday with Horses, kombinasi ini justru terwujud, bagi seorang lansia berusia 76 tahun, Jimmy Lau yang akrab disapa Uncle Jimmy, program ini menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu selama 10 minggu terakhir.
Bagi yang belum mengenalnya, Hayday with Horses merupakan program terapi menggunakan kuda pertama di Singapura, yang diluncurkan pada bulan Februari tahun ini.
Pilot program ini dijalankan melalui kolaborasi antara Temasek Foundation, Equal (lembaga nirlaba yang berfokus pada layanan berbasis hewan), NTUC Health, Universitas Nasional Singapura, dan Institut Kesehatan Mental.
Program ini memanfaatkan “kekuatan terapeutik kuda” guna meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan lansia seperti Uncle Jimmy.
Program melibatkan kunjungan peserta lansia ke kandang kuda Equal di Upper Thomson, serta mengirimkan kuda ke pusat aktivitas lansia dan panti jompo, sehingga peserta yang memiliki mobilitas terbatas tetap dapat berpartisipasi.
Paman Jimmy, yang saat ini tinggal di NTUC Health Jurong West Nursing Home sebagai bagian dari proses pemulihannya setelah jatuh, sebelumnya pernah mengalami serangan stroke ringan pada tahun 2019.
Setelah terjatuh di rumah, ia harus menggunakan kursi roda. Bagi seseorang yang sebelumnya aktif bermain golf dan suka beraktivitas di luar ruangan, perubahan ke gaya hidup yang lebih tenang dan sering duduk di panti jompo terasa sangat berat dan sering membuatnya merasa bosan.
Namun, Uncle Jimmy merasa senang mengikuti program ini. Ia mengatakan kepada AsiaOne bahwa ia menikmati perubahan pemandangan di luar empat dinding panti jompo dan berinteraksi dengan kuda setiap minggu di kandang.
Selain itu, program ini juga membantu pemulihannya. Menurut Uncle Jimmy, “Bermain dengan kuda dan memberi makan kuda adalah bentuk olahraga” yang mendukung proses rehabilitasi fisiknya.
Menurut studi yang diterbitkan oleh National Institute of Health (NIH) National Library of Medicine, terapi berbasis kuda terbukti memiliki efek positif pada pasien dengan cerebral palsy dan gangguan psikometer lainnya.
Manfaatnya mencakup peningkatan keseimbangan, rentang gerak, kontrol postur, fungsi motorik, serta kemampuan kognitif, sensorik, dan emosional.
Interaksi tanpa kata
Sepanjang program, aktivitas favorit Uncle Jimmy adalah memberi makan kuda dan melihat kuda tersebut bahagia.
“Melihat mereka benar-benar menikmati makanannya, Anda pun akan ikut merasa senang,” kata Uncle Jimmy.
Peserta lansia juga diajarkan cara mengamati bahasa tubuh kuda untuk memahami dan berkomunikasi dengan hewan tersebut, misalnya membiarkan kuda mencium tangan sebagai langkah pertama mengenal manusia.
Paman Jimmy terutama menyukai kuda yang diberi nama Falco, dan dia berharap kuda tersebut mengenalinya.
“Saat saya mengulurkan tangan, yang pertama kali dia mencium lama. Kali kedua kami datang, dia hanya mencium singkat, dan tampaknya sudah mengenal saya,” kata Uncle Jimmy.
Cinta pada hewan
Bagi penggemar hewan seperti Uncle Jimmy, yang pernah memelihara anjing bernama Boy boy, program terapi ini tidak hanya memberikan manfaat bagi tubuh dan pikiran, tetapi juga mengingatkan pada kenangan indah bersama hewan peliharaannya sebelumnya.
“Bermain dan mengelus kuda terasa seperti mengelus anjing,” katanya.
Penelitian juga menunjukkan bahwa pengobatan dengan bantuan kuda dapat meningkatkan kesehatan jiwa, membantu mengatasi berbagai masalah seperti rasa cemas, depresi, dan autisme.
| OneAsia.com | Surya Rafi
