Harga emas cetak rekor sepanjang masa, analis prediksi tren kenaikan berlanjut hingga 2026

PIKIRAN RAKYAT – Harga emas beberapa bulan ini kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Lonjakan ini tak lepas dari kombinasi sejumlah faktor global, mulai dari pemangkasan suku bunga Amerika Serikat hingga melemahnya nilai tukar dolar AS. Kondisi tersebut membuat emas semakin menarik sebagai aset lindung nilai, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik dunia. Para analis pun menilai, reli harga logam mulia ini belum akan berakhir dalam waktu dekat.

Bacaan Lainnya

Sejumlah lembaga keuangan besar bahkan optimistis terhadap prospek emas ke depan. Goldman Sachs, misalnya, memproyeksikan harga emas bisa menembus level US$4.900 per troy ons pada Desember 2026.

Prediksi ini mencerminkan keyakinan bahwa tekanan terhadap dolar AS serta kebijakan moneter longgar The Fed akan terus mendorong permintaan emas secara global.

Sepanjang 2025, dolar AS tercatat telah melemah sekitar 9 persen dan berada di jalur performa terburuk dalam delapan tahun terakhir. Banyak pelaku pasar memperkirakan tren pelemahan ini masih akan berlanjut hingga 2026, seiring dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi global dan potensi lanjutan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS.

“Taruhan penurunan suku bunga telah meningkat setelah data inflasi dan tenaga kerja terbaru di AS yang membantu mendorong permintaan logam mulia,” kata Zain Vawda, analis MarketPulse by OANDA.

Selain faktor moneter, permintaan terhadap aset safe haven seperti emas juga diperkirakan tetap kuat. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, ketidakpastian arah konflik Rusia–Ukraina, hingga kebijakan Amerika Serikat terhadap kapal tanker Venezuela menjadi sentimen tambahan yang menopang harga emas di level tinggi.

Arus Masuk ETF dan Pembelian Bank Sentral Jadi Penopang

Permintaan emas dari bank sentral dunia terus menunjukkan tren positif dalam empat tahun terakhir dan diproyeksikan berlanjut hingga 2026. Pembelian oleh bank sentral menjadi salah satu pilar utama yang menjaga reli harga emas tetap solid.

Philip Newman, Direktur Pelaksana konsultan Metals Focus, memperkirakan bank sentral global akan membeli sekitar 850 ton emas sepanjang 2025. Meski angka ini lebih rendah dibandingkan pembelian 1.089 ton pada 2024, volumenya masih tergolong sangat besar.

“Angka tersebut masih sangat sehat dalam hal absolut,” ujarnya.

Tak hanya itu, dana yang diperdagangkan di bursa atau ETF emas fisik juga mencatat arus masuk signifikan. Data World Gold Council menunjukkan ETF emas global berada di jalur arus masuk terbesar sejak 2020, dengan total dana mencapai US$82 miliar atau setara 749 ton sepanjang tahun ini.

Di sisi lain, tingginya harga emas memang memberi tekanan pada permintaan perhiasan. Namun kondisi tersebut sebagian besar tertutupi oleh meningkatnya minat investasi ritel pada emas batangan dan koin.

Di India, misalnya, konsumsi perhiasan emas tercatat turun 26 persen secara tahunan menjadi 291 ton pada periode Januari–September. Kuartal keempat diperkirakan masih menghadapi tekanan, dan Metals Focus menilai tren ini berpotensi berlanjut hingga 2026.

Sebaliknya, investasi ritel dalam bentuk batangan dan koin emas di India justru naik 13 persen menjadi 198 ton pada periode yang sama. Kenaikan ini didorong oleh harga emas yang terus mencetak rekor serta ekspektasi pasar yang masih sangat bullish terhadap prospek logam mulia tersebut.

Dengan kombinasi faktor moneter, geopolitik, dan kuatnya permintaan investasi, emas dipandang masih memiliki ruang untuk melanjutkan tren kenaikannya. Tak heran jika logam mulia ini kembali menjadi primadona di tengah ketidakpastian ekonomi global yang belum sepenuhnya mereda.***

Pos terkait