Harapan Santa Claus Rally di Wall Street Diuji, Saham AS Tetap Volatil Jelang Akhir Tahun

NEW YORK, – Harapan para investor terhadap munculnya suasana positif khas musim liburan di pasar saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street belum sepenuhnya terwujud. Beberapa faktor menyebabkan pergerakan pasar tetap tidak stabil hingga mendekati akhir tahun.

Meskipun kinerja saham Amerika Serikat sepanjang tahun 2025 tergolong baik, indeks utama S&P 500 justru sedikit melemah sepanjang bulan Desember. Keadaan ini bertolak belakang dengan kecenderungan historis, karena bulan Desember biasanya merupakan salah satu periode yang cukup kuat bagi pasar saham.

Bacaan Lainnya

Mengutip Reuters, Senin (22/12/2025), dalam beberapa minggu terakhir ada dua topik utama yang menyebabkan ketidakstabilan di Wall Street.

Pertama, meningkatnya fokus pada besarnya pengeluaran perusahaan untuk pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Kedua, berubahnya harapan pasar mengenai kemungkinan pengurangan suku bunga lebih lanjut oleh Federal Reserve (The Fed) pada tahun 2026.

Di minggu ini, saham teknologi dan perusahaan terkait AI sempat mengalami penurunan karena kekhawatiran terhadap proyek pusat data milik Oracle. Namun, tekanan tersebut sedikit berkurang setelah laporan inflasi AS yang diterbitkan pada hari Kamis (waktu setempat) menunjukkan kenaikan harga yang lebih stabil.

“Data ekonomi minggu ini memperkuat harapan bahwa The Fed masih cenderung mengurangi tingkat bunga,” kata Angelo Kourkafas, strategis investasi global senior di Edward Jones.

Menurutnya, beberapa investor mungkin memutuskan untuk mengamankan keuntungan setelah pasar menunjukkan kinerja yang baik sepanjang tahun, sehingga memicu tekanan penjualan. Meskipun demikian, data terbaru dianggap masih memberikan kesempatan bagi terjadinya Santa Claus rally tahun ini.

Secara historis, sejak tahun 1950, Santa Claus rally ditandai dengan kenaikan rata-rata indeks S&P 500 sekitar 1,3 persen dalam lima hari perdagangan terakhir bulan Desember dan dua hari perdagangan awal bulan Januari, menurut Stock Trader’s Almanac. Tahun ini, periode tersebut berlangsung dari Rabu hingga 5 Januari.

Di sisi lain, para investor juga memantau beberapa data ekonomi AS yang sempat tertunda akibat penutupan sebagian pemerintah federal (government shutdown) selama 43 hari. Data tenaga kerja menunjukkan kenaikan kembali dalam pertumbuhan lapangan kerja pada November, tetapi tingkat pengangguran meningkat menjadi 4,6 persen, yaitu yang tertinggi dalam lebih dari empat tahun terakhir.

Laporan inflasi terbaru menunjukkan bahwa indeks harga konsumen Amerika Serikat meningkat lebih sedikit dari yang diperkirakan hingga November. Meskipun memberikan suasana hati yang positif, data ini dinilai masih berpotensi mengalami distorsi akibat penundaan proses pengumpulan data hingga akhir November, yang bersamaan dengan masa diskon liburan.

The Fed telah mengurangi suku bunga dalam tiga rapat berurutan. Investor saat ini sedang memantau berbagai indikator ekonomi untuk menilai kapan bank sentral AS tersebut kemungkinan akan melonggarkan kebijakan moneter mereka pada 2026.

“Memasuki minggu berikutnya, muncul pertanyaan penting tentang arah kebijakan The Fed selanjutnya,” ujar Trevor Slaven, kepala alokasi aset global dan solusi portofolio multi-aset di Barings.

“Ada ketidakpastian mengenai arah kebijakan bank sentral utama dan arah pergerakan inflasi, sementara data pasar tenaga kerja justru menunjukkan tanda-tanda penurunan yang semakin nyata,” tambah Slaven.

 

Laporan ekonomi yang akan diterbitkan minggu depan meliputi data produk domestik bruto (PDB) triwulan ketiga, pesanan barang tahan lama, serta tingkat keyakinan masyarakat.

Dalam pekan perdagangan yang lebih pendek akibat libur, perhatian para investor diperkirakan tetap tertuju pada saham-saham yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI) yang sebelumnya menjadi penggerak naiknya pasar.

Dari tahun 2025 hingga saat ini, S&P 500 telah naik lebih dari 15 persen dan berada dalam jalur untuk mencatatkan kenaikan tahunan yang ketiga secara berurutan di atas 10 persen.

Namun, belakangan ini muncul kekhawatiran terkait industri AI, termasuk kapan pengeluaran besar untuk infrastruktur akan benar-benar memberikan manfaat, yang mulai memengaruhi saham teknologi yang sebelumnya melonjak tajam. Padahal, sektor teknologi memiliki bobot terbesar dalam indeks utama seperti S&P 500.

“Mulai terlihat sikap ragu terhadap pengeluaran besar-besaran AI yang semakin mencolok,” kata Mark Luschini, strategis investasi utama di Janney Montgomery Scott.

Menurutnya, keunggulan saham teknologi dan perusahaan terkait teknologi dalam indeks yang berbasis kapitalisasi pasar turut memberikan tekanan pada pergerakan indeks secara keseluruhan.

Di sisi lain, sektor-sektor yang sebelumnya tertinggal sepanjang tahun ini mulai berkontribusi dalam mendukung pasar. Sektor-sektor yang rentan terhadap situasi ekonomi, seperti transportasi, perbankan, dan saham dengan kapitalisasi kecil, mengalami penguatan sepanjang bulan Desember.

Kami melihat aliran dana mulai berkurang dari saham teknologi,” ujar Kourkafas. “Sektor lain mulai memainkan peran dan membantu menjaga pergerakan pasar yang cenderung terbatas.

Pos terkait