Tahun 2025 adalah tahun penuh kejutan bagi saya dan istri. Salah satu kejutan terbesar datang pada Hari Natal kemarin.
Jelang 25 Desember 2025, kebanyakan orang Kristen sibuk mempersiapkan perayaan. Kami, saya dan istri, Ani Mulyani, malah sibuk mempersiapkan persalinan.
Dari hasil USG, dokter memprediksi istri saya akan melahirkan sekitar 28 Desember 2025 atau paling telat 1 Januari 2026.
Tapi Tuhan punya rencana lain. Di luar prediksi USG, istri saya melahirkan bayi mungil kami tepat pada Hari Natal, 25 Desember, sore hari.
“What a baby Christmas,” begitu komentar dari mentor kami, Rhesa Sigarlaki, lewat Instagram pribadinya.
Tanggal 25 Desember adalah hari istimewa bagi seluruh umat Kristen di dunia. Pada tanggal ini, umat Kristen merayakan kelahiran Yesus Kristus.
Di ruang persalinan, tiga bidan yang menangani istri saya berkata dengan senyum, “Nanti pada hari ulang tahun bayi Bapak dan Ibu, seluruh dunia akan ikut merayakan kelahirannya.”
Mendapatkan bayi pada Hari Natal, tak pernah kami harapkan sejak awal. Tapi, justru apa yang tak pernah kami harapkan itulah yang dikaruniakan Tuhan bagi kami.
Seolah-olah Dia, sudah mempersiapkan tanggal kelahiran untuk putra kami, memberikan kami kejutan yang luar biasa.
Saya percaya ini adalah cara Tuhan menghibur kami. Sebelumnya, istri saya sempat keguguran di usia kehamilan satu bulan.
Kala itu, kami merasakan kesedihan yang mendalam. Kini, Tuhan mengembalikan apa yang dulu pernah hilang, sebuah hadiah istimewa, tepat pada 25 Desember.
Namun, di balik kebahagiaan yang luar biasa ini, ada perjuangan panjang yang kami lalui. Saya ingin berbagi cerita ini dengan kalian.
Dini Hari di Puskesmas
Kebetulan, tempat tinggal kami saat ini, cukup dekat dengan Puskesmas Setiabudi, Jakarta Selatan. Dari Rusun Pasar Rumput ke Puskesmas, hanya ditempuh sekitar 3 menit dengan kendaraan.
Kamis dini hari, pukul 02.00 WIB, istri saya mulai merasakan mules yang hebat. Khawatir terjadi sesuatu, saya segera mengantarkannya ke Puskesmas dan meminta izin untuk menginap.
Awalnya, bidan yang bertugas menyarankan kami pulang dulu karena masih pembukaan pertama. Tapi kami menolak.
Melihat kekhawatiran kami, bidan pun menyiapkan sebuah kamar khusus di lantai satu. Kamar ini sudah dilengkapi dengan pendingin ruangan dan satu kamar mandi.
Pagi itu, tidak ada pasien lain selain kami. Suasana malam itu sunyi senyap. Meskipun begitu, kami berdua tidak bisa tidur nyenyak, terutama istri saya.
Setiap 10 menit dia mengalami kontraksi yang menyebabkan rasa sakit tak tertahankan pada perutnya. Setiap kali merasa sakit, dia menggenggam tangan saya erat-erat.
Kontraksi itu semakin intens hingga pukul 13.00 WIB. Istri saya mengantuk berat, hanya bisa tidur di sela-sela kesakitan. Terkadang, dia tertidur dalam posisi duduk di atas ranjang.
Persalinan yang Penuh Tantangan
Bersalin normal dalam kondisi fisik yang fit adalah impian banyak perempuan. Ketika tubuh dalam kondisi prima, proses persalinan biasanya berjalan lancar.
Sebaliknya, kondisi fisik yang tidak fit bisa menghambat proses persalinan, bahkan memerlukan tindakan medis.
Istri saya, termasuk sedikit dari banyak perempuan yang mengalami nasib kurang baik menjelang persalinan.
Ia tidak hanya merasakan kantuk berat, tapi juga mengalami penurunan nafsu makan akibat sakit perut yang terus-menerus.
Pagi hari, saya keluar membeli nasi uduk untuknya, tapi hanya dimakan sebagian. Siang hari, saya membeli bakso, lagi-lagi dia hanya makan satu biji bakso saja.
Bidan terus menyarankan, agar istri saya makan banyak supaya ada kekuatan untuk bersalin nanti.
Untungnya, dari rumah kami membawa cemilan berupa kurma dan pisang rebus. Istri saya sempat makan kurma dan pisang di sela-sela rasa sakitnya.
Sekitar pukul 13.10 WIB, air ketubannya pecah. Tiga bidan langsung bergegas menangani istri saya, termasuk memasang infus untuk menambah kekuatan. Proses persalinan dimulai.
Setelah bertaruh nyawa lebih dari dua jam, tepat pukul 15.28 WIB, bayi kami lahir dalam kondisi selamat.
Bayi mungil dengan berat 2.745 gram ini kami beri nama Axellyan Joshua Kaitjily. Tangisannya yang pertama adalah musik terindah yang pernah kami dengar.
Karena kesibukan persalinan ini, saya dan istri terpaksa membatalkan rencana mengikuti Ibadah Perayaan Natal di gereja. Tapi kami tidak menyesal, kami sudah menerima hadiah Natal terbaik.
Penutup
Sebetulnya, kami merahasiakan kehamilan istri saya dengan tidak memposting apa pun di media sosial hingga pasca-lahiran.
Itu sebabnya, ketika kami mengunggah foto bayi mungil kami pada 25 Desember lalu, banyak sahabat yang terkejut.
Mereka beramai-ramai memberikan ucapan selamat, termasuk teman-teman Kompasianer. Maaf ya, saya belum sempat membalas ucapan kalian satu per satu, sebab hari-hari ini penuh dengan mengurus istri dan bayi kami yang masih sangat kecil.
Melalui tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada banyak pihak yang sudah mendukung kami, baik dalam doa maupun bantuan lainnya. Kiranya Tuhan yang penuh kasih membalas kebaikan kalian semua.
Selamat Natal dan selamat menyongsong Tahun Baru 2026.
