
PIKIRAN RAKYAT –Dalam perkembangan era dan modernisasi, bahasa Sunda berusaha untuk tetap bertahan.
Berdasarkan data sensus penduduk 2020 yang diadakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengguna bahasa Sunda sekitar 27 hingga 42 juta jiwa.
Meskipun menjadi bahasa ibu kedua yang paling banyak digunakan di Indonesia setelah bahasa Jawa, jumlah pengguna bahasa Sunda mengalami penurunan sekitar 2 juta orang antara tahun 2010 hingga 2020, atau sekitar 200 ribu pengguna per tahun. Peristiwa ini menarik perhatian para aktivis bahasa Sunda, termasuk para guru.
Mengingat hal tersebut, Yayasan Kebudayaan Rancage bekerja sama dengan Program Studi Bahasa Sunda di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) memberikan penghargaan Hardjapamekas kepada guru-guru bahasa Sunda yang kreatif.
Sejak penyelenggaraannya pada tahun 2008, telah 42 guru dari jenjang SD hingga SMA yang mendapatkan penghargaan Hardjapamekas.
Dalam Penganugerahan Hadiah Hardjapamekas di Bale Rumawat Universitas Padjadjaran, Jalan Dipati Ukur, Kota Bandung, Selasa 23 Desember 2025, tiga guru penerima penghargaan adalah Neneng Nur’aeni dari SDN Sukajadi, Situraja, Kabupaten Sumedang, Anita Rohani (SMPN 31 Kota Depok), dan Dimas Patria (SMAN 2 Kabupaten Subang). Mereka menjadi teladan dalam terus memperkenalkan bahasa Sunda.
Kepala SDN Sukajadi Situraja, Kabupaten Sumedang Neneng Nur’aeni menyampaikan, salah satu tantangan dalam mengajar bahasa Sunda di tingkat sekolah dasar adalah karena guru mengajar berbagai mata pelajaran. Akibatnya, dia mengambil inisiatif untuk mencari guru-guru yang memiliki perhatian terhadap bahasa Sunda.
“Saya lulus dari Pendidikan Guru Sekolah Dasar serta Matematika. Guru bahasa Sunda di tingkat SD memang jarang ditemui. Bahkan, di SDN Sukajadi awalnya banyak guru yang menolak. Namun, kini mulai berubah berkat dukungan pemerintah daerah,” ujar Neneng.
Guru bahasa Sunda di SMPN 31 Kota Depok, Anita Rohani, mengungkapkan bahwa siswa di kelasnya sangat beragam. Bahkan, di Kota Depok, hanya 2,80% penduduk yang menggunakan bahasa Sunda. Akibatnya, Anita menghadapi berbagai kendala dalam mengajar bahasa Sunda.
“Mengajar bahasa Sunda di Depok perlu menggunakan pendekatan yang menarik. Terlebih, dalam beberapa tahun terakhir kebijakan kepala daerah sering berubah, hingga pernah ada wali kota yang berencana menghilangkan mata pelajaran bahasa Sunda,” ujar Anita.
Anita bersyukur karena didukung oleh komunitas Ikatan Budaya Sunda yang aktif dalam menyebarkan penggunaan bahasa Sunda. Melalui komunitas tersebut, secara politik, bahasa Sunda memiliki posisi yang lebih stabil.
“Saat ini Pemerintah Kota Depok sangat mendukung, misalnya kami dapat mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI). Bahkan, pada tahun depan telah disiapkan dua anggaran, yaitu untuk ikut serta dalam FTBI dan menyelenggarakan hari apresiasi bahasa Sunda,” ujar Anita.
Siswa gagap berbahasa Sunda
Sementara itu, Dimas Patria yang merupakan guru bahasa Sunda di SMAN 2 Kabupaten Subang mendapatkan fakta bahwa 60-70% siswanya kesulitan berbicara dalam bahasa Sunda. Padahal, sebagian besar penduduk Kabupaten Subang adalah orang Sunda.
“Saya melakukan wawancara terhadap siswa, agar mengetahui seberapa dalam pemahaman mereka terhadap bahasa Sunda. Selanjutnya, saya mengevaluasi dan mengidentifikasi kebutuhan mereka,” kata Dimas yang juga merupakan pendiri sanggar seni budaya Sunda.
Anak almarhum R Sobri Hardjapamekas, Erry Riyana Hardjapamekas menyatakan bahwa para guru bahasa Sunda memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian bahasa Sunda. Perjuangan mereka layak mendapatkan penghargaan.
“Harapan penghargaan Hardjapamekas ini menjadi dorongan dan memberikan inspirasi bagi para guru, khususnya yang mengajar bahasa Sunda, agar terus menjaga keberadaan bahasa Sunda. Selamat kepada penerima penghargaan, serta tetap semangat bagi guru-guru yang belum meraih Hadiah Hardjapamekas,” kata Erry. (*)
