Gubernur Aceh Buka Peluang Bantuan Internasional Hadapi Lonjakan Korban Jiwa

Ringkasan Berita:

  • Gubernur Aceh menyatakan bahwa ia tidak pernah berupaya menghalangi atau menutup pintu bantuan yang datang dari luar negeri.
  • Malaysia, Eropa hingga Brunei memberikan bantuan kepada para korban yang terkena dampak
  • Bantuan yang diberikan termasuk bantuan kemanusiaan.

 

Bacaan Lainnya

Pemerintah Aceh memberikan akses yang luas terhadap bantuan internasional yang tiba untuk warga yang terkena dampak banjir di Sumatera.

Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) menyatakan bahwa Pemerintah Aceh tidak pernah menghalangi bantuan dari luar negeri dalam mengatasi banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di beberapa daerah di Tanah Rencong.

Mualem menyangkal pandangan yang mengatakan Aceh menyulitkan pemberian izin masuk bantuan dari negara lain.

Menurutnya, bantuan internasional justru sangat diperlukan guna mempercepat proses pemulihan bagi masyarakat yang terkena dampak.

“Mereka membantu kita, mengapa kita jadikan sulit? Kan bodoh,” tegas Muzakir Manaf dilaporkan oleh Serambinews.com, Rabu (17/12/2025).

Mantan Komandan GAM tersebut meragukan pihak-pihak yang menuduh Aceh menghalangi organisasi internasional atau negara asing dalam mendistribusikan bantuan kemanusiaan.

Ia menyampaikan, pemerintah daerah sama sekali tidak keberatan terhadap masuknya bantuan dari luar, selama tujuannya untuk mempercepat penangangan bencana.

Setelah menghadiri rapat terbatas bersama beberapa menteri dan gubernur di posko pengelolaan bencana di Lanud Sultan Iskandar Muda, pada malam Minggu (7/12/2025), Muzakir menyampaikan bahwa sejumlah bantuan luar negeri telah tiba di Aceh.

Bantuan dari tetangga

Salah satu contohnya berasal dari Kuala Lumpur, Malaysia, berupa obat-obatan dan peralatan kesehatan.

“Jelas bantuan dari luar disalurkan dengan benar. Misalnya, ada bantuan dari Kuala Lumpur, Malaysia, berupa dokter dan obat-obatan, sehingga semuanya tersalurkan bahkan tidak cukup,” katanya.

Ia menambahkan, bantuan yang sama akan kembali muncul dalam waktu dekat.

“Mereka akan tiba pada hari Rabu membawa tiga ton obat tambahan serta dokter,” lanjutnya.

Muzakir memastikan bahwa Aceh bersedia menerima berbagai bentuk bantuan, baik dari organisasi internasional maupun pemerintah luar negeri.

“Saya pikir tidak ada larangan. Tidak masalah, sah-sah saja,” tutupnya, dilansir Tribun Jatim dari Kompas.com, Rabu.

Bantuan dari China

Sebelumnya, Mualem telah mengundang tim dari Tiongkok untuk melakukan pencarian mayat korban banjir bandang di Aceh yang diperkirakan hingga kini masih terkubur dalam lumpur.

Mualem mengatakan, mereka berjumlah lima orang akan membantu pencarian korban yang terkubur dalam lumpur dengan menggunakan alat khusus.

“Mereka memiliki alat untuk mendeteksi mayat di dalam lumpur. Ini sangat berguna,” ujar Mualem dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (6/12/2025).

Menurut Mualem, khususnya di wilayah Aceh Timur, Aceh Utara, dan Aceh Tamiang, masih terdapat jenazah yang belum ditemukan.

“Tanah liatnya mencapai pinggang, jadi mereka memiliki alat yang bisa membantu kita,” katanya.

Bantuan tersebut datang dari perusahaan multinasional Upland Resources yang beroperasi di Inggris Raya, Malaysia, dan Indonesia.

Pemberian bantuan secara simbolis dilaksanakan di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Aceh Besar, pada hari Senin (15/12/2025) malam.

Bantuan kemanusiaan

Mualem menyampaikan rasa terima kasihnya terhadap perhatian dan dukungan yang diberikan oleh Upland Resources.

Pada kesempatan itu, Mualem menekankan bahwa semangat kemanusiaan harus menjadi dasar utama dalam menghadapi bencana, tanpa memperhatikan latar belakang pihak yang memberikan bantuan.

“Secara prinsip, kita ini adalah kemanusiaan. Siapa pun yang membantu kita, kita menerima dengan tulus. Siapa pun, di mana pun,” kata Mualem.

Bantuan akan diberikan terlebih dahulu kepada yang paling terkena dampak.

Gubernur Aceh juga menyampaikan bahwa bantuan tersebut akan diberikan kepada daerah-daerah yang paling memerlukan dan mengalami dampak terparah dari bencana.

“Ke mana yang dibutuhkan. Yang mendesak dan paling parah terdapat beberapa daerah, seperti Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, dan Bireuen. Juga ke Takengon dan Beutong, serta Langsa,” kata Mualem.

Ketua dan CEO Upland Resources, Datuk Bolhassan Di, mengungkapkan bahwa bantuan tersebut berasal dari dana yang dikumpulkan secara internal oleh perusahaan di tiga negara tempat Upland beroperasi.

“Alhamdulillah, perusahaan kami Upland di Inggris, Indonesia, dan Malaysia berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 777 juta,” kata Bolhassan.

Uang yang terkumpul selanjutnya digunakan untuk membeli kebutuhan pokok dari pemasok setempat di Aceh.

“Kami didukung oleh berbagai tim di sini untuk menyediakan barang-barang lokal dan membantu menyebarluaskannya ke lokasi-lokasi yang ditentukan langsung oleh Bapak Gubernur,” katanya.

Berita viral lainnya

Informasi terlengkap dan menarik lainnya di Googlenews

Pos terkait