Gejala Depresi Menyebar: Manusia Cenderung Meniru Emosi Orang Terdekat

● Tanda-tanda depresi dapat menyebar karena manusia cenderung mampu merasakan dan meniru perasaan orang lain.

● Salah satu metode penyebarannya melalui sistem saraf cermin yang membantu kita memahami dan merasakan perasaan orang lain.

Bacaan Lainnya

● Sifat individu hingga tingkat interaksi dengan korban dapat meningkatkan kemungkinan penyebaran.

Ketika menyaksikan pasangan sedang bad mood, apakah perasaanmu juga terganggu? Jika ya, apa yang kamu alami itu wajar dan sangat mungkin terjadi.

Penelitian (2022) menyatakan bahwa perasaan manusia tidak hanya bersifat pribadi,tetapi juga sosial. Seperti virus, perasaan bisa menyebar dari satu orang ke orang lainnya.

Fenomena ini disebut sebagai penularan emosi (emotional contagion), yaitu kecenderungan seseorang untukmengalami dan meniru perasaan orang-orang di sekitarnya. Ini juga yang menjadi penyebabgejala depresidapat menyebar melalui interaksi sosial dengan korban.

Bagaimana depresi bisa menular?

Penyebaran perasaan terjadi melalui dua cara utama. Pertama adalahpeniruan otomatis (automatic mimicryyang menyebabkan kita secara tidak sadar meniru ekspresi wajah, intonasi suara, atau gerakan tubuh orang lain.

Ketika kita melihat seseorang menunjukkan wajah yang sedih, otot-otot wajah kita secara alami menyesuaikan diri dengan ekspresi tersebut, yang akhirnya memicu respons emosional di dalam diri kita.

Proses yang sederhana ini menjadi dasar dari empati, termasuk sebagai jalan masuk untuk menyebarluaskan suasana hati negatif, seperti sedih, putus asa, atau kelelahan emosional yang sering terjadi pada penderita depresi.

Kedua, otak kita memiliki sistem neuron cermin (mirror neuron system. Sistem ini membantu kita mengerti dan merasakan perasaan orang lain.

Pengaktifan sistem saraf cermin memungkinkan kita untuk merasakan perasaan sedih, takut, atau bahagia dari orang lain. Di sisi lain, hal ini juga membuat kita rentan terpengaruh oleh emosi negatif saat berinteraksi dengan seseorang yang sedang mengalami depresi.

Faktor yang memperbesar kemungkinan terkena depresi

Sejumlah faktordapat membuat kita lebih rentan terkena depresi, antara lain:

  • Karakteristik individuSeseorang yang memiliki empati tinggi, riwayat gangguan suasana hati, atau membutuhkan dukungan sosial yang berlebihan cenderung lebih rentan terpengaruh oleh suasana hati yang negatif.

  • Tingkat interaksiStruktur jaringan sosial serta hubungan yang erat dan intens dengan korban (seperti pasangan, teman dekat, atau rekan kerja) dapat meningkatkan kemungkinan penyebaran.

  • Konteks sosialMasa-masa yang penuh tekanan atau kesepian (seperti wabah COVID-19) bisa memperkuat penyebaran emosi negatif, baik secara langsung maupun melalui platform digital.

Namun, penyebaran emosi ini bersifat timbal balik. Dengan demikian, sama halnya dengan emosi negatif yang bisa menyebar,emosi positif juga dapat menyebarseperti semangat, harapan, dan rasa empati yang baik.

Oleh karena itu, kelompok yang ramah, mendukung, dan terbuka terhadap diskusi emosional memiliki peran penting dalam menghambat penyebaran depresi.

Saat kita berada di sekitar orang-orang yang peduli dan bersedia mendengarkan tanpa menilai, tubuh kitamenerima ‘sinyal’ yang aman dan menenangkanIni membantu mengurangi rasa stres dan membuat kita merasa lebih dekat dengan mereka.

Oleh karena itu, pencegahan dan penanganan depresi tidak boleh berhenti pada tingkat terapi individu. Diperlukan pendekatan yang melibatkan intervensi berbasis komunitas, seperti memperkuat jaringan dukungan sosial, menciptakan komunikasi yang penuh empati, serta membentuk lingkungan emosional yang positif.

Setiap individu memiliki peran dalam membentuk lingkungan yang penuh dengan rasa empati dan saling mendukung. Karena proses pemulihan bukan hanya tanggung jawab seseorang, tetapi juga hasil dari interaksi antar manusia yang saling memperkuat.

Artikel ini pertama kali diterbitkan diThe Conversation, situs berita independen yang menyebarkan ilmu pengetahuan akademis dan para peneliti.

Jessica Christina Widhigdo tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi apa pun yang akan memperoleh keuntungan dari artikel ini, serta telah menyatakan bahwa ia tidak memiliki hubungan afiliasi selain yang disebutkan di atas.

Pos terkait