PRIANGANTIMURNEWS– Tanggal 22 Desember kembali tiba. Layar gawai mendadak berubah menjadi galeri foto nasional bertajuk “Ibu Tercinta”. Jutaan orang mendadak jadi puitis, mengunggah foto masa kecil dengan caption yang sanggup membuat air mata pembaca menetes.
Namun, di balik keriuhan digital tersebut, sebuah anomali adab sedang terjadi di ruang tamu dan dapur rumah kita.
PUNCAK ARUS “UPDATE“: MALAIKAT DI LAYAR, BEBAN DI RUMAH.
Berdasarkan pantauan di lapangan (alias mengintip ruang tamu tetangga), terjadi kontras tajam antara dunia maya dan dunia nyata. Di Instagram, seorang pemuda menuliskan, “Ibu adalah segalanya bagiku,” lengkap dengan emotikon hati dan mahkota.
Namun, hanya berselang lima menit setelah tombol ‘Share’ ditekan, pemuda yang sama terdengar mengeluarkan jurus “Nanti dulu, lagi sibuk!” saat sang ibu memintanya membuang sampah.
Fenomena ini disebut oleh para pengamat “Kemanusiaan Relevan” sebagai Bakti Digital Visual. Sebuah kondisi di mana rasa hormat kepada orang tua hanya dianggap sah jika sudah mendapatkan validasi berupa like dan comment dari orang asing.
Sementara suara asli sang ibu justru dianggap sebagai “gangguan” saat sedang asyik bermain game.
KRISIS ADAB DI BALIK FILTER ESTETIK:
Ironisnya, banyak anak yang sanggup menghabiskan waktu 30 menit demi memilih filter foto yang pas agar wajah Ibu terlihat glowing, namun tak punya waktu 5 menit untuk sekadar memijat bahu Ibu yang pegal.
Adab yang mulai terkikis seringkali terlihat dari hal-hal kecil:
Amnesia Telinga: Anak lebih responsif terhadap notifikasi WhatsApp daripada panggilan suara Ibu dari meja makan.
Diplomasi Tinggi: Berdebat dengan Ibu dianggap sebagai “kebebasan berpendapat”, padahal dalam kaidah adab, merendahkan suara di depan orang tua adalah kasta tertinggi dari kecerdasan emosional.
Eksploitasi Haru: Menjadikan air mata Ibu sebagai konten demi engagement, tanpa benar-benar bertanya, “Ibu sedang lelah karena apa?”
MENUJU HARI IBU YANG “OFFLINE”:
Pakar hubungan keluarga menyarankan sebuah langkah radikal untuk merayakan Hari Ibu tahun ini:
Letakkan HP-mu, ambil kain pelmu.
Hari Ibu seharusnya bukan menjadi ajang perlombaan siapa yang paling puitis di medsos. Ibu tidak butuh menjadi trending topic di Twitter (X); beliau hanya ingin menjadi prioritas di rumah. Beliau tidak butuh tagging di foto lama, beliau butuh bantuanmu mencuci piring kotor yang sudah menumpuk sejak sarapan tadi.
CATATAN PENUTUP: IBU TIDAK BUTUH “LIKE”
Realitanya, doa seorang Ibu tetap menembus langit meski tanpa koneksi internet 5G. Sebaliknya, ribuan ucapan selamat di media sosial tidak akan pernah sampai ke hati Ibu jika setelahnya kita masih menjawab panggilannya dengan nada tinggi.
Mari kita jujur ! Ibu kita mungkin tidak tahu cara mengecek Insight Instagram, tapi beliau sangat tahu cara merasakan ketulusan dari tatapan mata dan bantuan tangan anaknya. Jangan sampai statusmu bilang “I love you, Mom,” tapi kelakuanmu sehari-hari bikin Ibu bergumam, “Sabar, ini ujian.”
Penelitian membuktikan bahwa 99% Ibu lebih bahagia melihat dapur bersih daripada melihat foto dirinya diposting pakai filter telinga kucing di status WA anaknya.
Jadi, daripada sibuk dandanin foto Ibu biar kelihatan estetik, mending dandanin itu cucian kotor di ember. Ingat, interaksi paling tinggi dalam hidup itu bukan jumlah likes, tapi pas Ibu senyum sambil bilang: ‘Tumben kamu rajin, mau minta duit ya?’”
Penulis bertanya : Apakah kamu berani merayakan Hari Ibu tanpa mengunggah apa pun, tapi seharian penuh membuat Ibu tersenyum di dunia nyata?***
