Fakta atau Mitos: Kelapa Sawit Berasal dari Hutan?

Peran Kelapa Sawit dalam Mencegah Banjir

Banjir yang terjadi di Pulau Sumatra selama tiga pekan terakhir mengingatkan masyarakat akan pentingnya hutan alami. Hutan alami di Pulau Sumatra hanya tersisa 13 persen, sementara sebagian besar telah ditebang dan dialihkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk penanaman kelapa sawit. Hal ini memicu pertanyaan tentang peran kelapa sawit dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan mencegah bencana banjir.

Akar Kelapa Sawit Tidak Mampu Menyerap Air

Salah satu fakta penting yang perlu diketahui adalah bahwa akar kelapa sawit hanya mampu menancap sedalam 50 sentimeter ke dalam tanah. Berbeda dengan pohon-pohon kayu seperti meranti atau pulai yang memiliki akar tunggang yang dapat menembus hingga 5 meter ke dalam tanah. Akar serabut dari kelapa sawit tidak cukup kuat untuk menggemburkan tanah, sehingga rongga-rongga yang menjadi jalan masuk udara dan air menjadi terbatas.

Bacaan Lainnya

Akibatnya, ketika terjadi hujan deras, air tidak bisa diserap secara optimal oleh tanah. Dampaknya, air akan mengalir di permukaan tanah dan berpotensi menyebabkan banjir. “Kelapa sawit tidak bisa menyimpan atau mengikat air lebih baik dibandingkan pohon-pohon lain,” ujar Santhyami, dosen ekologi dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Kelapa Sawit Bukan Tanaman Hutan

Menurut peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.23/2021, kelapa sawit bukan termasuk tanaman rehabilitasi hutan dan lahan. Hal ini menunjukkan bahwa kelapa sawit tidak memiliki fungsi ekologis yang sama dengan hutan alami. Dekan Fakultas Biologi UGM, Budi Setiadi Daryono, menegaskan bahwa penggunaan kelapa sawit sebagai alternatif hutan alami adalah kesalahan besar.

Ia juga menyarankan agar para tokoh publik, termasuk Presiden Prabowo Subianto, berhati-hati dalam menyampaikan pendapat mereka agar tidak menimbulkan pro kontra atau pandangan yang salah di ruang publik.

Penanaman Kelapa Sawit Menghancurkan Ekosistem

Untuk menanam kelapa sawit, diperlukan penebangan hutan alami. Luas hutan alami yang ditebang bahkan bisa habis. Kiki Taufik, Kepala Global Greenpeace untuk Kampanye Hutan Indonesia, menjelaskan bahwa ekosistem yang sudah terbangun selama ratusan tahun bisa hilang dalam waktu singkat jika dilakukan penebangan massal.

Selain itu, tanaman sawit tidak bisa ditanam di sela-sela pohon lainnya. Hal ini membuat keanekaragaman hayati menjadi sangat terbatas. “Kemampuan sawit untuk menahan laju air tidak ada,” kata Kiki.

Kelapa Sawit Tidak Efektif dalam Menjaga Keseimbangan Ekosistem

Tanaman sawit juga tidak efisien dalam penggunaan lahan. Satu hektare lahan hanya dapat ditanami 140-150 pohon sawit, sementara hutan alami dapat menampung 1.500 sampai 2.500 pohon dalam luasan yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa penanaman sawit tidak lepas dari deforestasi.

Selain itu, proses replanting atau penanaman ulang sawit sangat mahal dan tidak ramah lingkungan. Setelah masa produktivitasnya habis, lahan harus dibongkar kembali, sehingga ekosistem kembali rusak dan ditanam lagi dengan tanaman sawit baru.

Kesimpulan

Meskipun kelapa sawit merupakan tanaman, namun ia tidak memiliki fungsi yang sama dengan pohon-pohon di hutan alami. Fungsi utama kelapa sawit adalah produksi minyak, bukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem atau mencegah banjir. Oleh karena itu, pernyataan yang menyamakan kelapa sawit dengan pohon-pohon hutan alami dinilai tidak tepat.

Pos terkait