Dr Tan Kritik Menu Sekolah Saat Libur: Banyak Makanan Olahan dan Kurang Edukasi Gizi

RUBLIK DEPOK –Pelaksanaan makan bergizi gratis (MBG) selama libur sekolah kembali menjadi perdebatan. Badan Gizi Nasional (BGN) mempertahankan program ini dengan alasan agar kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi meski sedang berada di luar masa sekolah, sementara sejumlah ahli gizi meragukan manfaat dan dasar dari kebijakan tersebut.

Kritik dari Tan mengenai Alasan MBG Berlanjut

Ahli gizi dr Tan Shot Yen mengungkapkan kekesalannya terhadap kebijakan BGN yang tetap melanjutkan MBG selama masa libur sekolah. Ia meragukan dasar ilmiah dari keputusan tersebut dan menilai kebijakan ini sering kali tidak didasarkan pada bukti nyata. “Jika itu alasan, saya jujur merasa marah. Apakah ada data penelitian yang menunjukkan bahwa kekurangan gizi meningkat saat libur?” katanya saat diwawancara.

Dr Tan menekankan bahwa alih-alih memperhatikan gizi anak, BGN terlihat tidak mampu memberikan edukasi mengenai pola makan yang sehat kepada keluarga. Ia menyoroti bahwa sebagian besar menu MBG selama masa liburan sekolah justru terdiri dari makanan olahan tinggi (UPF), seperti kue, camilan, roti, bahkan makanan untuk bayi berusia 15 bulan.

Menu MBG dan Kebutuhan Nutrisi

Berdasarkan laporan yang diterima oleh dr Tan melalui akun Instagram pribadinya, banyak ibu-ibu membagikan gambar menu MBG yang tidak sehat. Menurut dr Tan, MBG seharusnya menjadi contoh pola makan sehat yang dapat dijadikan pedoman bagi anak-anak. “MBG semestinya menjadi model, acuan, dan rujukan makanan sehat Indonesia. Program makan siang gratis di negara lain baik-baik karena menyertakan edukasi serta literasi gizi,” jelasnya.

Dr Tan menegaskan bahwa pemberian makanan tidak cukup hanya untuk mengisi perut anak. Setiap hidangan harus memiliki nilai edukasi dan literasi gizi, agar anak memahami betapa pentingnya makanan sehat dari awal. “Bukan hanya sekadar bersyukur telah diberi makan, yang hanya mengisi perut, bukan mengisi pikiran,” tegasnya.

Alasan BGN Pertahankan MBG

Sebelumnya, Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati, menyampaikan bahwa layanan MBG tetap berjalan selama libur sekolah karena khawatir risiko kekurangan gizi meningkat ketika anak-anak tidak berada di sekolah. Pola makan keluarga dinilai tidak selalu terpantau, sehingga MBG menjadi jaring pengaman untuk gizi.

“Kami berharap liburan bukan menjadi masa yang membahayakan perkembangan anak dan kesehatan ibu, tetapi tetap menjadi periode yang aman karena adanya dukungan nutrisi yang terus berlangsung,” kata Hidayati.

Upaya Meningkatkan Kualitas MBG

Selain menyoroti menu UPF, Dokter Tan juga mengajak BGN untuk memperkuat aspek pendidikan dalam MBG. Pendidikan gizi, literasi pangan, serta partisipasi keluarga dalam memilih makanan bergizi dianggap penting agar program MBG menjadi lebih efektif. Ia menekankan perlunya inovasi dalam penyusunan menu yang seimbang antara nutrisi, rasa, dan daya tarik bagi anak-anak.

Program MBG seharusnya menggabungkan pola makan bergizi dengan kegiatan pembelajaran, seperti memperkenalkan buah dan sayur lokal, pemahaman akan kandungan nutrisi, serta pengajaran mengenai pola makan yang seimbang. Hal ini diharapkan dapat membentuk kebiasaan makan sehat sejak usia dini, serta mengurangi kemungkinan obesitas atau kekurangan gizi di masa depan.

Pandangan Masyarakat dan Orang Tua

Banyak orang tua menyambut positif MBG, tetapi mengeluhkan kurangnya variasi dalam menu dan dominasi makanan olahan. Mereka berharap BGN dapat melibatkan ahli gizi serta warga setempat dalam merancang menu yang lebih sehat dan bermanfaat. Beberapa sekolah juga mulai memasukkan kegiatan memasak bersama anak-anak sebagai bagian dari edukasi gizi, sehingga MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan energi tetapi juga memberikan pengetahuan.

Program MBG selama liburan sekolah menjadi contoh kebijakan yang memerlukan peninjauan terus-menerus agar manfaat gizi anak maksimal tanpa mengorbankan kualitas pendidikan dan kesadaran keluarga terhadap makanan bergizi.

Pos terkait