(Harik ash shiddieqy S.H., M.H)
Priangan Insider – Era multipolar menjadikan negara menghadapi situasi yang semakin rumit: kekuasaan global terpecah, perkembangan teknologi berjalan lebih cepat daripada kemampuan institusi, dan krisis internasional muncul secara bersamaan dalam bentuk konflik wilayah, tekanan ekonomi, serta perang narasi. Dalam konteks ini, pertanyaan utama dalam studi strategis bukan lagi siapa yang paling kuat, melainkan negara mana yang memiliki institusi yang kokoh dan kepemimpinan yang mampu memahami zaman.
Pemikiran Daron Acemoglu dan Jared Diamond memberikan dasar teori yang penting dalam memahami tantangan tersebut. Namun, teori tidak pernah berjalan sendirian. Ia memerlukan aktor pemerintah yang mampu mewujudkannya dalam tindakan nyata. Di tengah konteks Indonesia saat ini, kepemimpinan Sugiono sebagai Menteri Luar Negeri, yang lahir dari proses regenerasi kepemimpinan strategis ala Prabowo Subianto, menjadi contoh penting bagaimana negara berupaya mempertahankan kemandirian dan kedaulatannya di tengah dunia yang terus berubah.
Revolusi Kepemimpinan sebagai Strategi Nasional: Pandangan Prabowo Subianto
Dalam buku Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn.) Prabowo Subianto, pengertian kepemimpinan tidak dianggap sebagai posisi administratif, melainkan sebagai proses pengembangan manusia strategis. Prabowo menekankan bahwa regenerasi pemimpin bukan sekadar pergantian usia, tetapi pembentukan kader yang memiliki kemampuan berpikir terstruktur, keberanian dalam mengambil keputusan, kesetiaan terhadap negara, serta kesadaran akan geopolitik.
Dalam perspektif tersebut, pemimpin muda perlu dilatih melalui pengalaman strategis—bukan dijaga dari bahaya, tetapi dikenalkan pada tantangan yang rumit. Regenerasi kepemimpinan menjadi alat negara untuk menjamin kelanjutan visi dan ketahanan nasional. Dalam konteks ini, Sugiono dapat dipandang sebagai hasil dari desain regenerasi elit, bukan hanya seorang teknokrat atau politisi sipil biasa.
Latar belakang Sugiono terkait isu pertahanan, pengalamannya di Komisi I DPR RI, serta hubungannya yang dekat dengan proses pengambilan keputusan strategis nasional menunjukkan tipe pemimpin yang dijelaskan oleh Prabowo: warga sipil yang memiliki pemikiran strategis-militer dan seorang diplomat yang memahami logika kekuatan.
Lembaga, Kekuasaan, dan Krisis: Kerangka Acemoglu, Diamond
Acemoglu menekankan bahwa negara yang gagal bukan disebabkan oleh ketiadaan sumber daya, melainkan karena institusi yang tertutup dan para elit yang menolak perubahan. Di sisi lain, buku Power and Progress mengingatkan bahwa kemajuan global—baik dalam bidang ekonomi maupun teknologi—selalu diiringi hubungan kekuasaan yang harus dikelola dengan sadar oleh pemerintah. Tanpa kepemimpinan yang strategis, kemajuan justru menghasilkan ketergantungan yang baru.
Diamond melengkapi kerangka ini dengan menggambarkan krisis sebagai momen pemilahan sejarah. Negara yang bertahan dan sukses adalah negara yang elitnya mampu:
1. mengakui krisis dengan tulus,
2. melakukan penyesuaian institusional,
3. mempertahankan identitas nasional sambil menyesuaikan diri.
Zaman multipolar saat ini menjadi ujian bagi seluruh negara. Diplomasi yang hanya berfokus pada norma sudah tidak cukup lagi. Negara membutuhkan elit yang fleksibel mampu menghubungkan lembaga dengan kenyataan geopolitik.
Sugiono sebagai Tokoh Penting dalam Praktik Diplomasi Modern
Sejak menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, Sugiono menunjukkan pandangan bahwa diplomasi Indonesia harus menjadi alat untuk menjaga keamanan negara, bukan hanya sebagai saluran komunikasi antar negara. Hal ini terlihat dari berbagai kegiatan nyata yang mencerminkan penerapan teori ke dalam tindakan.
Kunjungan dan pertemuan bilateral dengan mitra strategis—seperti Prancis dan Pakistan—menggambarkan upaya menjaga keseimbangan hubungan kekuatan. Pendekatan yang diambil menekankan kerja sama strategis tanpa adanya pengbawahan, sesuai dengan prinsip bebas-aktif yang diartikan ulang dalam konteks multipolar. Hal ini mencerminkan kesadaran bahwa kemajuan dan kolaborasi global harus dilakukan secara setara, sebagaimana diperingatkan Acemoglu dalam bukunya Power and Progress.
Tindakan diplomatik dalam pemulangan warga negara Indonesia yang menjadi korban eksploitasi dan menghadapi masalah hukum di Kamboja menunjukkan aspek lain dari ketahanan negara: peran pemerintah dalam melindungi warganya di luar negeri. Dari perspektif buku Why Nations Fail, negara yang gagal adalah negara yang tidak memberikan perlindungan institusional kepada warganya yang terabaikan oleh sistem global. Tanggapan cepat Kementerian Luar Negeri di bawah kepemimpinan Sugiono menunjukkan bahwa diplomasi Indonesia tidak bersifat elit, tetapi berakar pada tanggung jawab negara terhadap rakyatnya.
Kunjungan dan interaksi intensif dengan berbagai negara lain—baik di kawasan ASEAN maupun mitra internasional, mencerminkan upaya menjaga ruang gerak strategis Indonesia. Bebas-aktif bukan diartikan sebagai netralitas yang pasif, melainkan sebagai fleksibilitas strategis dalam menghadapi pergeseran global.
Kepemimpinan Muda dan Pengelolaan Kekacauan
Dari sudut pandang Upheaval, usia muda Sugiono bukanlah kelemahan, melainkan keuntungan yang bisa dimanfaatkan. Dunia yang berkembang pesat membutuhkan pemimpin yang mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan tanpa terpaku pada cara lama. Namun, usia muda ini diatur dalam disiplin kepemimpinan yang kuat—seperti yang ditegaskan Prabowo—sehingga tidak berubah menjadi percobaan tanpa tujuan jelas.
Sugiono tampil bukan sebagai penghentian tradisi diplomasi Indonesia, melainkan sebagai jembatan antara warisan kebijakan luar negeri dengan tantangan geopolitik masa kini. Inilah ciri dari para elit yang mampu membawa negara melewati krisis menuju stabilitas yang baru.
Kesimpulan
Dengan menggabungkan konsep Acemoglu mengenai institusi dan kekuasaan, Diamond tentang krisis dan ketahanan, serta kerangka regenerasi kepemimpinan Prabowo Subianto, kepemimpinan Sugiono sebagai Menteri Luar Negeri dapat dilihat sebagai bagian dari strategi nasional dalam menghadapi era multipolar.
Diplomasi Indonesia saat ini tidak hanya bertujuan menjaga hubungan internasional, tetapi juga untuk menjaga kedaulatan, melindungi warga negara, serta memastikan kemajuan global tidak berujung pada ketergantungan. Dalam konteks studi strategis, Sugiono mewakili generasi pemimpin yang tidak hanya mengelola kebijakan, tetapi juga menghadapi sejarah dengan kesadaran penuh terhadap risiko, kekuasaan, dan tanggung jawab negara.
Penulis: Harik ash shiddieqy S.H., M.H.
