Dapur MBG Dongkrak Ekonomi Warga Sekitar

.CO.ID, Dapur utama Satuan Pelayanan Pangan Gizi (SPPG) Polri di Pejaten menjadi salah satu pusat penting yang menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala SPPG Pejaten, M Iqbal Salim menyampaikan, dapur tersebut kini menyerap 49 tenaga kerja, seluruhnya merupakan warga setempat.

Ada 49 orang dan semuanya berasal dari warga sekitar SPPG. Mereka dibagi ke dalam beberapa kelompok, yaitu, Asisten Lapangan, Persiapan bahan makanan, tim masak, tim pemorsian, tim distribusi, tim pencuci alat makan, timcleaning servicedan tim keamanan,” ujar Iqbal saat dihubungi, beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan alur kerja dapur dimulai sejak pukul 02.00 pagi. Proses dimulai dengan penerimaan bahan baku yang terlebih dahulu melalui pemeriksaan kualitas (QC) baik secara kuantitas maupun kualitas.

Setelah melewati proses QC, bahan makanan disimpan di gudang sementara sebelum diproses oleh tim persiapan. Proses memasak dilakukan pada pukul 02.00 dan makanan untuk kloter pertama dikemas pada pukul 04.30. Sebelum didistribusikan, dapur melakukan uji organoleptik serta rapid test keamanan pangan oleh ahli gizi dan personel Dokpol.

“Melakukan uji sensorik dan uji cepat keamanan pangan sebelum pendistribusian. Selain itu, pemilahan dan pemeriksaan bahan baku dilakukan secara rinci. Setiap tahapan juga memperhatikan kebersihan serta prosedur operasional yang berlaku,” katanya.

Di sisi lain, Iqbal menjelaskan, proses perekrutan tenaga kerja dilakukan oleh SSDM Polri dan melibatkan Dokpol dalam pemeriksaan kesehatan. Mayoritas pelamar berasal dari kalangan ibu rumah tangga dan masyarakat dengan penghasilan rendah.

“Kriteria utama adalah sehat secara fisik, mental, serta memiliki semangat tinggi dalam bekerja dan mampu bekerja sama dalam tim,” katanya.

Mereka juga menyampaikan bahwa para pekerja mendapatkan pelatihan khusus sebelum memulai tugasnya, termasuk pengelolaan bahan makanan, penggunaan peralatan masak dalam skala besar, serta pelatihan penyajian makanan yang dilakukan bersama Dinas Kesehatan.

Menurut Iqbal, kehadiran dapur memiliki dampak ekonomi yang nyata terhadap masyarakat sekitar. Ia juga menganggap bahwa komunikasi dan interaksi sosial antar warga menjadi lebih baik.

“Tentu, yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan kini telah memiliki pendapatan sendiri, sedangkan yang sudah memiliki penghasilan namun kecil dan jarak dari rumah ke tempat kerja cukup jauh lebih memilih bekerja di SPPG,” katanya.

Meskipun SPPG dianggap mampu mendorong aktivitas ekonomi di sekitar dapur, Iqbal mengakui belum ada peta yang jelas mengenai warga yang membuka usaha baru terkait kegiatan produksi pangan tersebut. “Benar (ada dampak pertumbuhan ekonomi di sekitar), namun sampai saat ini SPPG belum melakukan pemantauan secara rinci terkait hal tersebut,” ujarnya.

SPPG turut memperkuat UMKM lokal sebagai pemasok bahan makanan. Sekitar 80 persen kebutuhan dapur berasal dari UMKM Pasar Induk Kramat Jati serta pemasok lokal lainnya, termasuk penyedia kotak makanan dan layanan pengangkutan.

“Kemungkinan besar ada, tetapi SPPG belum pernah melakukan pemantauan langsung,” katanya.

Di sisi lain, Iqbal menyampaikan tantangan utama di dapur adalah menyesuaikan daftar hidangan dengan ketersediaan bahan makanan serta kemampuan sumber daya manusia. SPPG melakukan perubahan menu ketika terjadi kelangkaan atau kenaikan harga bahan baku.

“Tantangannya adalah selalu menyesuaikan dengan ketersediaan bahan makanan sesuai dengan kemampuan tenaga kerja dalam memproses hidangan. Oleh karena itu, dalam memilih menu harus mempertimbangkan kemampuan karyawan dan bahan yang tersedia, serta mengurangi penggunaan menu yang terlalu rumit dan menghindari,” katanya.

“Menyusun menu yang sederhana namun tetap memperhatikan kecukupan gizi, melakukan variasi menu dengan mengganti bahan baku yang memiliki kandungan serupa sesuai dengan ketersediaan bahan makanan di pasar dan harga yang sesuai dengan anggaran,” katanya.

Ia berharap program MBG dapat terus berlangsung dalam jangka panjang agar SPPG tetap memperkuat jaringan tenaga kerja dan pemasok lokal melalui kolaborasi dengan kelurahan serta pihak-pihak terkait lainnya.

Bekerja sama dengan kelurahan atau pihak terkait dalam upaya memperkuat sumber daya manusia melalui berbagai pelatihan dan keterampilan. Hal ini dapat menciptakan dampak pengganda dalam menggerakkan perekonomian lokal, baik dengan membuka kesempatan kerja secara langsung maupun mendorong tumbuhnya supplier dan UMKM di sekitar SPPG,” katanya.

Pos terkait