Celios kritik MBG tetap jalan saat libur sekolah: Masyarakat bingung dan pertanyakan akuntabilitas

JAKARTA, – Direktur Kebijakan Publik CELIOS, Media Wahyudi Askar, mengkritik program makan bergizi gratis (MBG) yang tetap disalurkan atau berjalan, padahal sekolah saat ini sedang libur.

“Masyarakat hari ini itu bingung, bagaimana mungkin ketika anak-anak sekolah libur, kemudian MBG itu masih jalan, orang tua harus ke sekolah, guru tetap harus di sekolah, dan lain-lain,” katanya dalam program Sapa Indonesia Pagi KompasTV, Jumat (26/12/2025). 

Bacaan Lainnya

Media mengatakan, ada kesalahan sangat signifikan dalam tata kelola MBG, terutama pada saat libur sekolah. 

“Karena kebijakan itu kan harus ada tiga hal. Siapa sasaran, bagaimana mekanismenya, dan apa yang terjadi ketika konteksnya berubah,” ujarnya.

Menurut Media, sekarang konteksnya jadi berubah. Ia menyebut ketika libur, anak-anak tidak ada di sekolah, sementara MBG program yang berbasis sekolah. 

“Penerimannya jelas, logistiknya jelas, dan kalau anak-anak itu enggak ada di sekolah, siapa yang kemudian bisa diawasi?” ucapnya. 

Media juga mempertanyakan pernyataan BGN yang tidak memaksa siswa menerima MBG saat libur sekolah. Namun, kata dia, fakta yang terjadi banyak sekolah meminta orang tua tetap mengambil MBG ke sekolah. 

“Akhirnya apa, kalau tidak diambil ke sekolah, itu makanan hilang percuma, dan sebagian sekolah akhirnya memberikan makanan-makanan itu kepada orang lain. Lantas, akuntabilitas dari program ini seperti apa?” tuturnya.

Menurut Media, ada hal yang ganjil dalam program MBG, termasuk penyalurannya saat libur sekolah. Ia menyebut banyak orang akhirnya mengkritik kebijakan ini. 

“Karena sekarang kalau kita bicara soal siapa yang mengkritik, ini ada banyak masyarakat yang mengkritik, hampir di semua daerah, artinya ada persoalan dalam tata kelola kebijakan ini,” tuturnya.

Media lantas menyinggung mengenai pihak yang paling diuntungkan dari program MBG yang tetap berjalan saat libur sekolah. 

“Kenapa program ini tidak berhenti? Itu sebetulnya sederhana, karena dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) itu harus ngebul,” kata Media.

“Jadi, yang paling diuntungkan hari ini karena MBG dipaksakan untuk terus berjalan ya adalah dapur-dapur SPPG tadi.”

Ia mengatakan selama SPPG tetap menyalurkan MBG, biaya operasional dan kontrak tetap berjalan. Juga margin profit tetap aman untuk SPPG tersebut. 

Selain itu, Media menilai, BGN memperlakukan program MBG seperti eksperimen berjalan. 

“Banyak makanan itu makanan UPF, makanan ultra-processed food, yang bahkan dikritik oleh banyak ahli gizi, ini bukan makanan yang bergizi,” ujarnya. 

Sayangnya, kata dia, terkadang ada sebagian orang tua yang menganggap mendapat makanan-makanan seperti itu lebih baik, ketimbang tidak dapat makanan sama sekali dari program ini.

Selain itu, Media menyoroti program MBG dari kacamata fiskal, yang menurutnya, persoalannya lebih besar daripada sekadar makanan yang tidak mencukupi gizi.

“Ada Rp335 triliun yang dianggarkan untuk MBG ini dan sebagian besar diambil dari anggaran pendidikan,” ujar Media.

“Bahkan kalau boleh detail lagi, Rp335 triliun itu kalau dibagikan secara sasaran yang tertarget, setiap anak itu bisa menerima Rp50.000 sebetulnya.” 

Media mengatakan, harusnya BGN mendengar kritik publik dan turun ke lapangan agar lebih memahami realitas. 

“Sepertinya BGN tidak memahami realita dasar bahwa ketika kemudian program ini dipaksa untuk disalurkan. BGN harus tahu, banyak anak sekolah di Indonesia itu rumahnya jauh dari sekolah,” ujarnya. 

Ia menuturkan sekolah di Indonesia tidak selalu menjadi tempat yang mudah diakses kapan saja oleh semua orang. Banyak anak-anak yang ke sekolah jalan kaki puluhan menit, naik perahu, ojek, dan sebagainya. 

Selain itu, ia juga menyoroti orang tua yang harus mengorbankan waktunya hanya untuk mengambil MBG ke sekolah pada saat libur. Padahal, waktu tersebut bisa digunakan untuk mencari nafkah bagi anak-anaknya. 

“Jadi, menurut saya ini bukan intervensi gizi, ini perjudian kualitas program, dan yang paling 

berbahaya adalah kemudian memakan uang fiskal kita yang sangat banyak,” ucapnya. 

Oleh karena itu, Media mendesak BGN mendengar kritik publik dan meminta program MBG ditinjau ulang. 

“Mungkin bukan dihentikan selamanya, tetapi kemudian dibenahi secara total,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang menjelaskan alasan pihaknya tetap menyalurkan MBG pada saat libur sekolah.

“Jadi, prinsipnya awalnya yang namanya memberikan makanan bergizi itu kan harus konsisten, selama ini sudah berjalan, kalau mulai Januari itu sudah satu tahun,” katanya. 

Nanik menekankan, BGN merupakan lembaga yang diserahi tugas untuk menjaga gizi anak-anak dan pihaknya akan konsisten melakukan tugas tersebut. Namun, kata dia, karena sekolah libur, penyaluran MBG untuk anak-anak dilaksanakan secara fleksibel.

“Kalau mau ya silakan diambil, kalau enggak juga tidak apa-apa. Jadi, tidak ada pemaksaan dan juga tidak ada kewajiban untuk anak-anak pergi ke sekolah,” ujarnya.

Pos terkait