, MARTAPURA – Banjir memaksa Wahdati, penyandang disabilitas asal Desa Sungai Tabuk Keramat, Kabupaten Banjar, meninggalkan rumah bersama ibunya, Rusdiana yang berusia 39 tahun.
Saat akses darat terputus akibat genangan, perempuan berusia 25 tahun itu dievakuasi menggunakan jukung untuk keluar dari kawasan terdampak banjir.
Mereka diantar menuju Posko Pengungsian Gedung Eks UGD Puskesmas Sungai Tabuk 1, Desa Sungai Tabuk Keramat. Sejak Selasa (30/12/2025), Wahdati dan ibunya bertahan di posko bersama ratusan warga lainnya yang terdampak banjir.
Rusdiana menuturkan, banjir di kawasan Sungai Tabuk Keramat merupakan kejadian yang rutin terjadi setiap tahun. Namun, banjir kali ini, menurutnya, sebagai yang terparah sejak banjir besar melanda Kalimantan Selatan pada 2021.
“Ketinggian air di sekitar rumah sudah mencapai paha orang dewasa, jadi kami harus mengungsi,” ujar Rusdiana.
Namun, Rusdiana mengatakan bahwa suaminya memilih tetap bertahan di rumah. “Karena rumah tidak bisa ditinggalkan, harus ada yang menjaga,” tambahnya.
Meski demikian, ia mengaku kebutuhan dasar di posko relatif terpenuhi. “Alhamdulillah, di pengungsian makan dapat, selimut ada, sembako dan kebutuhan lain juga ada,” katanya.
Namun, Rusdiana berharap perhatian lebih diberikan pada kebutuhan anak-anak dan balita yang turut mengungsi.
Menurutnya, bantuan seperti susu, popok, minyak telon, serta perlengkapan bayi masih sangat dibutuhkan di lokasi pengungsian.
Kondisi banjir juga dirasakan Salasiah, warga Desa Sungai Tabuk Keramat lainnya. Ia mengaku telah mengungsi sejak Selasa (30/12/2025) sore bersama lima anggota keluarganya setelah rumah mereka terendam banjir setinggi paha orang dewasa dan mengalami kerusakan.
“Air masuk ke rumah, lantai dan perabotan rusak. Kami bertahan sebentar, tapi akhirnya harus mengungsi,” ujar Salasiah.
Ia mengatakan keterbatasan ekonomi menjadi alasan keluarganya tidak bisa membuat apar-apar atau bangunan penahan banjir secara mandiri. “Kami tidak punya uang untuk membuat apar-apar. Kalau banjir seperti ini, satu-satunya pilihan ya mengungsi,” katanya.
Hingga Sabtu (3/1/2026), tercatat sebanyak 218 jiwa mengungsi di posko tersebut. Mayoritas pengungsi merupakan kelompok rentan, seperti ibu-ibu dan anak-anak.
Para pengungsi menempati ruangan yang dialasi terpal, dengan aktivitas sehari-hari dilakukan secara terbatas di dalam area pengungsian.
Pekerja Sosial Direktorat Kementerian Sosial RI, Simon Sinaga menjelaskan, data jumlah pengungsi masih bersifat dinamis.
Sebagian warga memilih kembali ke rumah pada siang hari untuk memantau kondisi, lalu kembali ke posko saat malam.
“Jumlah pengungsi yang tercatat saat ini 79 KK atau 218 jiwa, dengan komposisi terbanyak ibu-ibu dan anak-anak,” kata Simon.
Untuk menjamin kebutuhan dasar pengungsi, Kementerian Sosial bekerja sama dengan Dinas Sosial Provinsi Kalsel dan Kabupaten Banjar mendirikan dapur umum.
Dapur ini memproduksi sekitar 5.000 porsi makanan per hari yang didistribusikan dalam dua waktu makan.
Selain layanan konsumsi, Kemensos juga menyalurkan bantuan logistik berupa kasur, selimut, dan terpal. Bantuan lainnya disesuaikan dengan kebutuhan kelompok pengungsi, termasuk paket keluarga dan perlengkapan anak.
“Untuk orang dewasa, kami menyalurkan Family Kit yang berisi kebutuhan mandi dan pakaian dalam. Sementara untuk bayi dan anak-anak, kami membawa Kids Wear berisi popok, minyak telon, bedak, dan perlengkapan dasar lainnya,” jelas Simon.
Terkait kebutuhan susu bayi, Simon menegaskan bahwa pihaknya hanya menyediakan susu umum. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari risiko alergi, sementara penyediaan susu dengan kebutuhan khusus menjadi kewenangan Kementerian Kesehatan.
(/Muhammad Syaiful Riki)
