Pesta yang penuh dengan kegembiraan berlangsung di panggung, diiringi oleh pohon Natal dan rumah gedong megah yang menjadi latar. Tamu-tamu datang satu per satu untuk memberikan salam dan hadiah. Mereka berpesta, menari, dan memberikan hadiah. Seorang gadis kecil menjadi pusat perhatian para undangan, terutama ketika kakeknya tiba dan memberikan hadiah, yaitu sebuah patung pemecah kacang.
Irama jazz yang santai mengalir, menciptakan suasana pesta yang nyaman. Para penampil menari balet dalam iringan musik yang rileks. Cerita mulai menarik ketika patung pemecah kacang mengalami perubahan. Gadis kecil itu seolah dibawa ke dunia lain. Tingkah lucu para penari kecil yang berdandan seperti tikus dan pasukan tentara muncul di panggung. Adegan awal ini membuka pementasan balet tentang kisah seorang gadis dan patung pemecah kacang.
Sekolah Balet Sumber Cipta bekerja sama dengan Sjuman School for Music Education mempersembahkan “Nutcracker in Jazz” pada 20 Desember 2025 di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki. Lebih dari 300 murid sekolah balet tertua yang didirikan oleh Farida Oetoyo turut serta dalam pementasan ini. Pentas “Nutcracker in Jazz” pernah disajikan 10 tahun lalu.
Cerita tentang si pemecah kacang pertama kali ditulis oleh penulis Jerman E. T. A. Hoffmann pada 1816 dengan judul The Nutcracker and the Mouse Kin. Cerita ini kemudian diadaptasi oleh penulis Prancis Alexandre Dumas pada 1844. Adaptasi Dumas menjadi dasar koreografi balet Rusia pada 1892 yang diciptakan oleh Marius Petipa dan Lev Ivanov, dengan musik yang digubah oleh Pyotr Illyich Tchaikovsky. Kisah ini menyebar ke seluruh dunia dan menjadi pertunjukan jelang Natal. Boneka kayu si pemecah kacang pun menghiasi rumah-rumah warga di seluruh dunia.
Dalam cerita “Nutcracker”, Clara dan keluarganya sedang menyiapkan pesta menyambut Natal. Kakeknya memberikan hadiah berupa patung kayu kecil yang mirip seorang tentara. Sayangnya, boneka itu rusak dan membuat Clara sedih. Ketika tengah malam, keajaiban terjadi. Dalam tidurnya, Clara diajak berkelana ke dunia lain. Patung pemecah kacangnya hidup dan berukuran sama seperti manusia. Ia memimpin pasukannya menyerbu pasukan tikus. Pertempuran membuat si pemecah kacang terluka, namun keajaiban datang lagi. Ia berubah menjadi pangeran tampan dan mengajak Clara ke kerajaannya. Di sana, Clara menikmati beragam sajian yang diwujudkan dalam tarian dari Spanyol, Arab, Cina, dan Rusia. Puncaknya, Clara dan pangeran menari bersama.
Kisah Clara ini dipersembahkan oleh murid-murid Sekolah Balet Sumber Cipta yang diiringi musik jazz dari para alumnus Sjuman School for Music Education. Para penari bergerak dengan iringan musik yang tidak biasa. Irama jazz yang rileks cukup membuai. Namun, dengan aransemen musik yang dirancang sedemikian rupa, musik jazz ini mampu mengantarkan koreografi dan cerita dalam adegan. Ada saat-saat ketegangan dan penekanan yang berbeda, sehingga menghidupkan suasana dalam adegan.
Bagi Wenny Halim, Ballet Mistress, Koreografer dan penari utama di pentas ini, pementasan ini menantang. Mementaskan lakon klasik dengan iringan musik jazz menurutnya tidak mudah. Terutama untuk menyesuaikan koreografi dengan rasa dan hitungan musiknya. Menurutnya, musik jazz lebih “berantakan” dibandingkan musik klasik yang sudah memiliki pakem sendiri termasuk tempo musiknya. “Jadi pas koreografi cukup pusing dengan hitungannya. Beda sekali feels dan hitungannya ya,” ujar Wenny kepada Tempo, Senin, 22 Desember 2025.
Tantangan lainnya adalah mengarahkan puluhan penari cilik yang ikut menjadi bagian pementasan. Mereka berusia 5-7 tahun dan harus menyesuaikan gerak dan irama musik yang tidak biasa. Ketika mereka biasa berlatih dengan musik klasik saja, mereka masih ada yang kurang pas, apalagi kini mereka harus menari dengan iringan musik jazz, hitungan ganjil, dan lainnya. “Jazz kan juga cenderung suasanasantai, rileks,” ujarnya lagi. Sementara menurutnya, untuk musik balet tidak bisa semuanya dibuat suasana seperti itu, apalagi jika sudah ada tema dan cerita yang dibawakan seperti pentas Nutcracker penuh. Sehingga hal ini menjadi cukup menantang, jika menyajikan koreografi dalam suasana santai dalam 1,5 jam akan membuat penonton bosan.
Tantangan berikutnya karena pentas mereka diiringi musik yang dimainkan secara langsung, memungkinkan perubahan. Meskipun pada saat latihan awal mereka sudah menggunakan iringan musik jazz yang versi lama dari pementasan 10 tahun lalu. “Jadi kami semua harus benar-benar pasang kuping dan pintar untuk menyesuaikan dengan yang bisa hari H lebih cepat atau lambat, tiba-tiba bertambah atau berkurang satu bar misalnya,” tutur Sutradara artistik Ballet Sumber Cipta ini.
“Nutcracker in Jazz” merupakan interpretasi modern dari karya legendaris “The Nutcracker” oleh Pyotr Ilyich Tchaikovsky. Dalam pementasan ini, nuansa klasik diperkaya aransemen jazz yang dibawakan secara langsung oleh live jazz ensemble pimpinan pianis jazz ternama, Nial Djuliarso. Aksan Sjuman, Sutradara Artistik sekaligus pendiri Rumah Karya Sjuman dan Sjuman School for Music Education, menjelaskan pementasan yang serupa satu dekade lalu. Kali ini pentas Nutcracker in Jazz kembali dengan energi yang lebih matang. Musik yang mengiringi kali ini merupakan aransemen baru dari musik jazz lama yang dibawakan saat itu oleh para alumni Sjuman School for Music Education. Mereka mengaransemen 22 komposisi musik yang mengiringi tarian ini di bawah arahan Nic Edwin, alumni sekolah musik ini sekaligus Sutradara musik dalam pertunjukan ini.
“Para alumni yang dulu masih berstatus murid, kini menjadi pengaransemen yang mengolah musik Tchaikovsky menjadi lagu jazz yang otentik,” ujar Aksan Sjuman kepada Tempo.
Aksan juga bercerita iringan musik pada 10 tahun lalu digarap dengan band lengkap dan orkestra jazz, sementara pada pementasan terbaru musik mainkan jazz combo, dengan delapan orang musisi. Menghadirkan aransemen musik kali ini juga melalui sebuah tantangan, ketika arsip nada tersimpan di catatan kertas lalu disalin, ditulis ulang dan didigitalkan. Mereka kemudian merekonstruksi kembali. Permainan piano Nial yang kental dengan gaya New York menjadi kekuatan yang ditampilkan dalam pentas ini.
Ketika musik bertemu dengan koreografi, para penari memang harus belajar menyesuaikan lagi. Beruntung arsip audio visualnya masih tersimpan untuk membantu saat latihan. Para guru balet, kata Aksan, cukup banyak menyesuaikan koreografi dan musik. Ia harus mengubah pola pikir para guru bahwa pementasan ini adalah balet klasik yang diberikan iringan jazz. “Mereka kemudian diarahkan, kami rombak, ini balet tapi bisa nge-blend dengan jazz. Jangan terlalu dikotak-kotakkan balet, klasik, jazz. Buka sekatnya,” ujarnya. Menurutnya, penonton datang untuk menonton balet tanpa harus memikirkan musiknya.
Hasilnya, mereka menghadirkan sesuatu yang cukup menarik. Seperti pada adegan pasangan dansa, ada koreografi balet tapi juga ada dansa dengan musik jazz terlihat meresapi musiknya. Pada pentas 10 tahun lalu di bawah arahan Arya Yudistira Sjuman, koreografinya sudah diarahkan pada koreografi balet kontemporer. Kini para guru koreografinya telah beregenerasi dan belajar sesuatu yang baru. Mereka masih mempertahankan beberapa tarian dan gaya khas dari Sumber Cipta.
Dian Yuliastuti
