Isi Artikel
Pohon yang berada di tengah perkotaan memiliki berbagai manfaat, namun juga bisa menimbulkan risiko jika tidak dikelola dengan baik. Berkat keahlian mereka, para ahli pohon menjaga kondisi pohon serta memastikan keselamatan masyarakat.
Jika dilihat sekilas, tidak ada yang mencurigakan daripohon-pohon besaryang berdiri berjajar di tepi jalan raya wilayah kampus Institut Pertanian Bogor (IPB), Jawa Barat. Daunnya lebat, hijau, batangnya besar dan kokoh, cabangnya tumbuh ke segala arah.
“Tetapi, ada beberapa yang sudah retak dan harus dipangkas sebagai tindakan pencegahan agar tidak membahayakan orang atau hewan yang lewat,” kata Putra Nur Setiawan sambil menunjuk ke area cabang yang mengarah ke jalan.
Anak laki-laki merupakan pemanjat pohon profesional serta seorang arboris, yaitu ahli dan penjaga pohon.
Dengan memakai harness, helm, kacamata, carabiner, dan sepatu bot, ia siap memanjat pohon yang tingginya lebih dari lima meter. Setelah mengikat berbagai tali ke pohon, Putra mengambil pisau untuk memotong ranting-ranting. “Memangkas pohon memiliki cara tertentu. Jika tidak tepat, pohon bisa berlubang, lebih mudah terserang penyakit, dan menjadi rapuh,” ujar Putra.
Bagi dia, setiap pohon memiliki kisah dan rahasia tersendiri. Kesehatannya bukan hanya tentang penampilan, tetapi juga tentang keselamatan orang-orang di sekitarnya. Sejak mempelajari ilmu arborikultur, Putra merasa aktivitas memanjat pohon tidak lagi hanya sekadar hobi, tetapi juga menjadi caramengamati kondisi kesehatan pohon.
Peran pohon dan ancaman yang tersembunyi dalam kesehatan tanaman
Di berbagai kota di Indonesia, banyak pohon mengalami kondisi yang tidak baik. Trotoar yang sempit, sampah di sekitar batang pohon, serta akar yang muncul dari permukaan jalan. Kondisi ini menyulitkan pohon untuk tumbuh dengan optimal. Terdapat juga pohon yang ditanam terlalu dekat dengan bangunan atau jalan, sehingga ruang akar terbatas dan cabang rentan rusak.
Meskipun pohon kota bukan hanya sekadar hiasan di jalanan, mereka memiliki peran penting dalam menurunkan suhu lingkungan, membersihkan polusi udara, mengurangi kebisingan, serta menyediakan ruang hijau yang bermanfaat bagi kesehatan mental penduduk.
Di sinilah arboris, seperti Putra, berperan. Putra mempelajari metode pemangkasan pohon dari Masyarakat Arborikultur Indonesia (MArI), sebuah lembaga yang berfokus pada perawatan pohon. Di sana, ia memperdalam berbagai cara untuk merawat pohon secara individu.
Kata arboris dan arborikultur masih asing di kalangan masyarakat Indonesia. Iskandar Zulkarnaen, pendiri Masyarakat Arborikultur Indonesia (MArI), merupakan salah satu individu yang giat menyosialisasikan konsep tersebut.ilmu arborikultur dan profesi arboris.
Minat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan lingkungan akademis terhadap arborikultur muncul ketika Iskandar, yang juga merupakan Dosen Kehutanan di IPB, menyadari bahwa kondisi pohon-pohon di perkotaan “masih tidak mendapat perhatian dan perawatan yang cukup”.
“Padahal di perkotaan, pohon tumbuh di tengah lingkungan yang penuh dengan manusia dan permukiman. Jika pohon tidak sehat, hal itu dapat membahayakan nyawa manusia,” lanjutnya.
Ia menyampaikan bahwa banyak pohon di perkotaan tidak pernah diperiksa secara berkala, karena belum adanya pedoman kesehatan pohon yang jelas di Indonesia.
Belum ada standarisasi kesehatan tanaman pohon
Sampai saat ini, pemerintah belum menetapkan standar untuk mengevaluasi kesehatan pohon. Akibatnya, menurut Iskandar,pengecekan kesehatan pohontidak dilakukan dengan cara yang benar. Dari kekhawatiran tersebut, kini MArI sedang bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan RI dalam menyusun standarisasi kesehatan pohon tersebut.
“Kota-kota yang padat penduduk, terutama di area yang sering digunakan orang untuk beraktivitas di luar ruangan dalam jangka waktu yang cukup lama, sangat membutuhkan standarisasi ini,” ujar Iskandar.
Sambil menunggu selesainya standardisasi, MArI telah berupaya melakukan kerja sama dengan beberapa pemerintah kota dan provinsi dalam merawat pohon-pohon individu, salah satunya di Banten.
“Kami merawat pohon-pohon bersejarah yang terdapat di alun-alun kota,” kata Iskandar. “Kami juga bekerja sama dengan Kebun Raya Bogor serta merawat pohon-pohon yang ada di kawasan bisnis di Jakarta,” tambahnya.
Berbagai teknik merawat pohon
Lina Karlinasari, seorang arboris dan dosen di Departemen Hasil Hutan IPB, menyatakan bahwa kurangnya standarisasi juga membuat banyak pohon di perkotaan tidak terpantau secara berkala.
“Sebaiknya pohon-pohon diperiksa setiap bulan,” ujar Lina kepada DW Indonesia. “Ketika membicarakan pohon di perkotaan, perlu mempertimbangkan faktor risiko yang dimiliki pohon jika kondisinya tidak baik,” tambahnya.
Menurut Lina, setiap orang sebenarnya mampu melakukan pemeriksaan awal kesehatan pohon secara visual dengan mengamati langsung. Contohnya, memperhatikan keberadaan jamur, dominasi daun yang kering, serta adanya lubang pada batang pohon.
Jika dalam pemeriksaan awal ditemukan salah satu tanda “tidak sehat”, maka pemeriksaan kesehatan pohon lebih lanjut dapat dilakukan. Umumnya, ahli pohon melakukan pemeriksaan pada tahap ini dengan menggunakan dua alat, Sonic Tomograph dan Resistograph.
Sonic Tomograph berfungsi mengukur kepadatan pohon dengan memanfaatkan gelombang suara yang berasal dari dalam batang pohon. Gelombang suara tersebut ditangkap oleh alat sensor dan diubah menjadi pola warna yang menunjukkan tingkat kepadatan dariberbagai sisi batang pohonSementara itu, Resistograph berfungsi mengidentifikasi kerusakan di dalam batang pohon dengan menggunakan metode pengukuran tekanan.
Konsep 3:30:300 untuk kota yang lebih hijau
Iskandar menegaskan, dalam kondisi perubahan iklim, pemeriksaan pohon semakin menjadi hal yang krusial karena cuaca buruk kini cenderung muncul lebih sering.
Selain itu, penduduk juga harus diberikan informasi—misalnya melalui papan pengumuman—agar tidak berada di dekat pohon yang sedang dilakukan perawatan.
“Di beberapa lokasi di Bogor, terdapat himbauan agar tidak mengunjungi wilayah tertentu pada waktu-waktu tertentu, biasanya saat hujan deras disertai angin kencang,” ujar Iskandar.
Namun, merawat pohon saja tidak cukup. Kondisi kesehatan pohon juga perlu didukung oleh perencanaan kota yang baik, agar setiap ruang hijau dan pohon di perkotaan benar-benar dapat memberikan manfaat bagi penduduk.
Salah satu prinsip yang bisa diterapkan adalah aturan 3:30:300 untuk kawasan permukiman. “Saat kita melihat dari rumah, setidaknya terdapat tiga pohon. 30% dari area rumah harus berupa ruang hijau. Jika jalan berjarak 300 meter dari rumah, maka perlu tersedia ruang terbuka hijau,” ujarnya.
Editor: Tezar Aditya
ind:content_author: Joan Aurelia Rumengan
