Isi Artikel
KABAR-TASIKMALAYA.COM – Dokter bedah plastik dan estetika, dr Tompi, mengungkapkan bahwa tampilan wajah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang disebut terlihat “mengantuk” merupakan kondisi medis bernama ptosis, bukan bahan ejekan atau lelucon.
Penjelasan tersebut disampaikan dr Tompi melalui unggahan di akun Instagram miliknya, menyusul pernyataan komika Pandji Pragiwaksono yang menyinggung tampilan fisik Gibran. Menurut dr Tompi, kritik berbasis kondisi fisik justru menunjukkan kurangnya pemahaman medis.
“Menertawakan kondisi fisik seseorang, apa pun konteksnya, bukanlah bentuk kritik yang cerdas,” kata Dokter Tompi, dikutip Minggu, 4 Januari 2025.
“Kritik boleh, satire boleh, humor pun sah, namun merendahkan kondisi tubuh seseorang bukanlah kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir.” lanjutnya.
Ia menegaskan, kondisi mata yang tampak turun atau terkesan mengantuk dikenal dalam dunia kedokteran sebagai ptosis dan bisa terjadi karena berbagai faktor medis.
“Apa yang terlihat ‘mengantuk’ pada mata, dalam dunia medis dikenal sebagai Ptosis atau suatu kondisi anatomis yang bisa bersifat bawaan, fungsional, atau medis, dan sama sekali bukan bahan lelucon,” lanjutnya.
Apa Itu Ptosis?
Mengacu pada penjelasan Cleveland Clinic, ptosis adalah kondisi ketika kelopak mata atas turun, mengendur, atau menutupi sebagian hingga seluruh mata. Kondisi ini terjadi ketika otot levator (otot yang berfungsi mengangkat kelopak mata) tidak bekerja optimal.
Ptosis dapat mengenai satu atau kedua mata, dan tingkat keparahannya bisa berbeda antara mata kanan dan kiri. Dalam istilah medis, ptosis juga dikenal sebagai blepharoptosis atau droopy eyelid.
Seperti disampaikan dr Tompi, ptosis dapat bersifat bawaan sejak lahir (congenital) atau muncul kemudian (acquired). Jika muncul secara tiba-tiba, kondisi ini perlu diwaspadai karena bisa berkaitan dengan gangguan saraf, otak, atau rongga mata.
Gejala Ptosis yang Perlu Diperhatikan
Ciri paling mudah dikenali dari ptosis adalah posisi kelopak mata yang turun. Namun, sejumlah gejala lain juga bisa menyertai kondisi ini, antara lain:
- Kelopak mata menutupi sebagian atau seluruh pupil.
- Mata sering digosok tanpa sadar.
- Mata mudah berair.
- Penglihatan menurun atau terganggu.
- Mata terasa lelah atau nyeri.
- Pada anak, sering mendongakkan kepala agar bisa melihat jelas.
Penyebab Ptosis
Penyebab ptosis bergantung pada jenisnya. Pada bayi, ptosis biasanya terjadi karena kelainan bawaan pada otot pengangkat kelopak mata. Sementara pada orang dewasa, ptosis bisa muncul akibat:
- Cedera pada otot atau saraf mata.
- Penuaan alami.
- Riwayat operasi mata.
- Gangguan saraf atau otot.
Beberapa penyakit yang dapat memicu ptosis antara lain bintitan, sindrom Horner, myasthenia gravis, stroke, tumor, hingga gangguan pergerakan otot mata.
Risiko Jika Ptosis Tidak Ditangani
Pada anak, ptosis bawaan yang tidak ditangani dapat mengganggu perkembangan penglihatan dan berisiko menyebabkan mata malas (ambliopia). Sementara pada kasus berat, ptosis juga bisa memicu gangguan penglihatan permanen, astigmatisme, hingga masalah postur leher akibat posisi kepala yang terus mendongak.
Pada orang dewasa, ptosis ringan mungkin tidak memerlukan penanganan khusus. Namun, ptosis berat dapat menghambat aktivitas dan menurunkan kualitas hidup jika dibiarkan.
Pilihan Penanganan Ptosis
Penanganan ptosis disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahannya. Jika tidak mengganggu penglihatan atau penampilan, dokter bisa saja tidak merekomendasikan terapi khusus.
Namun, jika ptosis berdampak pada fungsi penglihatan atau estetika, dokter mata dapat menyarankan tindakan medis, termasuk operasi ptosis. Operasi ini bertujuan mengencangkan otot pengangkat kelopak mata dan umumnya dilakukan dengan anestesi lokal.
Selain pembedahan, tersedia pula obat tetes mata resep untuk beberapa jenis ptosis yang didapat. Obat ini bekerja merangsang otot kelopak mata agar terbuka lebih lebar, meski tidak efektif untuk semua kasus.***
