
PIKIRAN RAKYAT – Berdasarkan Data Sensus Penduduk 2020, angka kematian ibu di Indonesia tercatat 189 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup. Kemudian, ada 17 kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup.
Ketua Pokja Penurunan Angka Kematian Ibu dan Stunting Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Prof Maisuri Tadjuddin Chalid mengatakan, kendati jumlah tersebut telah berkurang, tapi angka tersebut tetap termasuk yang tertinggi di Asia Tenggara.
Selain itu, masih jauh dari target nasional yang ditetapkan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Apalagi, banyak dari kematian ini dapat dicegah, dan kerap disebabkan kondisi yang tidak terdeteksi di awal kehamilan.
Untuk itulah, dalam rangka memperingati Hari Ibu Indonesia, POGI mencanangkan gerakan Selamatkan Perempuan Indonesia (Sprin). Salah satu fokusnya mendorong pemeriksan kehamilan sejak dini.
“Pemantauan kehamilan sejak dini tidak boleh bersifat opsional, tetapi harus menjadi standar yang melindungi setiap ibu dan bayi di Indonesia. Banyak komplikasi selama kehamilan berkembang tanpa gejala yang jelas. Ketika kondisi ini tidak terdeteksi di awal, hal itu dapat menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan ibu dan bayi,” tutur Maisuri melalui siaran pers, Senin 22 Desember 2025.
Maisuri menjelaskan, keterlambatan mengenali tanda-tanda dini merupakan tantangan besar dalam pelayanan kesehatan ibu hamil. Komplikasi kerap muncul tiba-tiba, dari kondisi yang sebelumnya tampak normal.
Untuk itulah, tidak boleh menunggu hingga gejala terlihat, tetapi diperlukan upaya deteksi dini. Pemeriksaan kehamilan, kata Maisuri, sebaiknya dimulai sejak trimester 1, lalu selanjutnya dipantau secara rutin dan berkualitas.
Menurut Maisuri, seorang ibu mungkin merasa sehat, sedangkan kadar hemoglobin darah, tekanan darah, atau gula darahnya sudah tidak normal. Beberapa kondisi seperti anemia, preeklampsia, diabetes gestasional, dan gangguan tiroid, jarang menyebabkan ketidaknyamanan pada awalnya.
“Rasa aman yang semu ini berbahaya. Soalnya, pada saat gejala muncul, jendela untuk intervensi yang efektif sudah menyempit,” ucap Maisuri.
Maisuri menyebutkan, tiga tindakan penting yang harus dilakukan oleh ibu hamil. Pertama, kenali faktor risiko sejak dini. Seperti, usia di atas 35 tahun, usia terlalu muda, riwayat penyakit kronis, penyakit infeksi, riwayat operasi caesar, riwayat keguguran berulang, riwayat preeklampsia, dan diabetes dalam keluarga. Semuanya penting untuk diskrining sejak awal.
Kedua, prioritaskan kunjungan antenatal sejak trimester pertama. Meskipun merasa sepenuhnya sehat, tapi risiko tersembunyi akan tetap tersembunyi tanpa pemeriksaan yang berkualitas.
Ketiga, untuk kehamilan berisiko tinggi, gunakan pemantauan di rumah seperti yang disarankan. Misalnya tekanan darah bila mempunyai risiko hipertensi, pemantauan gula darah sendiri untuk penderita diabetes, dan catatan gerakan janin sejak usia 32 minggu. Pemantauan mandiri yang sederhana dan tepat guna, mendukung intervensi lebih awal.
“Perubahan apa pun di akhir kehamilan, bahkan sesuatu yang kecil sekalipun, perlu diperhatikan. Tindakan dini menyelamatkan nyawa,” kata Maisuri.
Maisuri menegaskan, mendeteksi komplikasi sejak dini seperti memadamkan api kecil. Jika seorang ibu datang ke dokter setelah gejalanya memburuk, api itu ibaratnya sudah terjadi kebakaran hutan.
“Perempuan adalah sumber kehidupan, penjaga keluarga, penggerak ekonomi, dan fondasi kesejahteraan bangsa. Oleh karena itu menyelamatkan ibu dan perempuan adalah menyelamatkan bangsa,” ujar Maisuri. (*)
