OKE FLORES.COM– Kecurigaan terkait video mesum yang melibatkan seorang pegawai Dinas Pendidikan Kota Kediri mendapat perhatian tajam dari kalangan akademisi.
Dosen Filsafat Antropologi Universitas Brawijaya (UB) Malang, Dr. Hipolitus Kristoforus Kewuel, menganggap peristiwa ini bukan hanya masalah pribadi, tetapi mencerminkan kelemahan dalam pengelolaan sumber daya manusia (SDM) di lembaga publik.
Kepada media ini, Dr. Hipolitus—yang dikenal sebagai Doktor Hipo—menekankan dua langkah utama yang segera harus dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota Kediri, yaitu pendekatan internal dan eksternal.
Pendekatan Internal: Manusia, Bukan Hanya Pelanggar
Menurutnya, langkah pertama yaitu penyelesaian masalah internal terhadap pihak yang diduga terlibat.
Ia menekankan kepentingan pendekatan yang humanis dan penuh empati.
“Ia perlu diajak berbicara, perlu didampingi. Bagaimanapun juga, ia adalah rekan kerja dalam satu rumah tangga institusi. Ketika seseorang mengalami masalah seperti ini, itu merupakan bentuk hukuman bagi kita semua,” katanya.
Dokter Hipo menegaskan, penyebaran kasus ini bukan hanya terkait dengan pribadi seseorang, tetapi telah membawa nama baik lembaga. Oleh karena itu, penyelesaian harus mencakup aspek pribadi dari individu yang bersangkutan.

“Kali ini, ini adalah saudaramu, bagian dari keluargamu. Buat dia merasa nyaman, karena proses ini jelas tidak mudah secara psikologis,” tambahnya.
Pendekatan Luar: Rekonsiliasi Untuk Kepercayaan Masyarakat
Langkah kedua, seperti yang dijelaskan oleh Doktor Hipo, adalah pengelolaan pihak luar. Mengingat kasus ini telah menjadi viral, terbukti, dan diketahui oleh masyarakat luas, pihak dinas tidak dapat bersikap defensif.
Ia menilai bahwa mengadakan rekonsiliasi dengan massa pelapor, yaitu GRIB Jaya, merupakan tindakan yang cerdas.
“Jika fakta sudah jelas, apa lagi yang dibutuhkan? Menurut saya harus ada perdamaian. Ini penting untuk mengurangi ketegangan dan menjaga kepercayaan masyarakat,” tegasnya.
Isu yang Lebih Mendalam: Kegagalan dalam Memahami Kekompleksan Manusia
Selanjutnya, Doktor Hipo menganggap kasus ini mencerminkan kegagalan lembaga dalam memahami kerumitan manusia di tengah dunia pendidikan.
“Jangan hanya menganggap dunia pendidikan sebagai tempat orang-orang bersekolah. Ini adalah aktivitas besar yang melibatkan manusia-manusia dengan berbagai tantangan, konflik internal, dan masalah kehidupan yang tidak selalu terlihat,” katanya.
Ia mengira, pelaku mungkin tidak pernah membayangkan bahwa tindakan yang dilakukannya akan berubah menjadi masalah besar. Namun, kompleksitas psikologis tersebut dapat muncul kapan saja jika tidak dikelola dengan baik.
Peta Sumber Daya Manusia dan Deteksi Dini
Sebagai solusi jangka panjang, Doktor Hipo menekankan perlunya pengelolaan sumber daya manusia secara menyeluruh dalam lingkungan Dinas Pendidikan.
“Setiap dinas minimal harus memiliki peta SDM. Kita perlu memahami karakter pegawai, potensi masalah, dan segera melakukan tindakan dini. Jangan menunggu sampai masalah sudah meledak dan membuat kita kaget,” katanya.
Ia juga mengkritik cara kerja birokrasi yang hanya memberatkan pegawai dengan target kinerja.
“Pegawai saat ini dikejar oleh IKU, kerja, kerja, kerja. Namun lupa diberi dukungan secara emosional. Seperti baterai ponsel yang terus-menerus diminta memberikan energi, tetapi tidak pernah diisi ulang,” katanya.
Dampak Sosial dan Tanggung Jawab Kepemimpinan
Dokter Hipo menekankan, jika kasus ini tidak diselesaikan secara menyeluruh, maka kepercayaan masyarakat terhadap Dinas Pendidikan Kota Kediri akan berkurang.
Ia bahkan menyamakan pejabat publik dengan wajah pemimpin wilayah.
“Saya pernah mengatakan kepada seorang bupati, para kepala dinas itu wajahmu. Jika mereka duduk bukan karena kemampuan, melainkan faktor lain, maka yang rusak bukan hanya mereka, tapi juga bupati, wakil bupati, dan sekretaris daerah,” katanya.
Ia menutup dengan kritik tajam terhadap kebijakan pengangkatan jabatan yang didasarkan pada pertukaran politik.
“Bukan karena pernah membawa spanduk kampanye, seseorang layak menduduki jabatan tersebut. Penempatan yang salah adalah bom waktu,” tutupnya.
