Ahli UGM usulkan lembaga khusus tangani banjir Sumatra

jogja.https://mediahariini.com, YOGYAKARTA – Prof Dwikorita Karnawati, Guru Besar Lingkungan dan Kebencanaan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), mengimbau pemerintah agar segera membentuk lembaga khusus untuk mempercepat proses penanganan dan pemulihan pasca-bencana.banjir bandangdan tanah longsor di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.

Dwikorita menganggap tingkat kerusakan dan kompleksitas bencana bersama di tiga provinsi tersebut tidak cukup ditangani dengan sistem penanganan bencana yang biasa.

Berdasarkan pernyataan mantan Kepala BMKG, rangkaian banjir bandang, tanah longsor, serta kerusakan pada infrastruktur menyebabkan dampak yang bersifat multidimensi, yang muncul dari kompleksitas perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang lebih parah.

“Dengan tingkat kerusakan yang demikian besar, mekanisme biasa tampaknya sudah tidak cukup. Masyarakat membutuhkan lembaga lintas sektor yang mampu bekerja secara terkoordinasi dan cepat,” kata Dwikorita dalam pernyataannya di Yogyakarta, Jumat (11/12).

Ia menyampaikan bahwa sistem penanggulangan bencana yang dibuat sejak tahun 2007 belum dirancang untuk menghadapi berbagai bencana yang saling berkaitan dan memperkuat seperti yang terjadi saat ini.

Situasi ini mengharuskan sistem penanganan yang lebih tangguh, terutama dalam pencegahan dan pengurangan risiko jangka panjang, guna mewujudkan prinsip “build back better” dalam proses pemulihan.

Model BRR NAD-Nias Sebagai Contoh

Oleh karena itu, proses pemulihan membutuhkan mekanisme khusus yang cepat, strategis, dan luas, berbeda dari kebiasaan harian. Koordinasi antar sektor perlu diperkuat melalui lembaga khusus yang memiliki wewenang terpadu.

Dwikorita mengacu pada model Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD–Nias pasca tsunami 2004 sebagai bukti keberhasilan institusi yang memiliki tugas terpadu.

“Didirikan lembaga atau badan khusus bukan hanya keputusan administratif, tetapi tindakan strategis agar negara hadir secara penuh dalam membangun kembali Sumut, Sumbar, dan Aceh di tengah meningkatnya ancaman bencana akibat perubahan iklim,” tegasnya.

Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa bencana yang terjadi di tiga daerah tersebut merupakan dampak nyata dari kerentanan geologi Indonesia yang diperparah oleh kerusakan lingkungan dan perubahan iklim, menyebabkan rangkaian bencana geohidrometeorologi dengan intensitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan kejadian sebelumnya.

Data menunjukkan tren peningkatan curah hujan di wilayah barat Indonesia, sejalan dengan peningkatan jumlah peristiwa cuaca ekstrem dari 2.483 pada 2020 menjadi 6.128 pada 2024. Peningkatan ini memperkuat ancaman banjir bandang, aliran material, dan longsoran tanah.

“Hujan intens yang sebelumnya langka, kini mulai terjadi secara berulang. Hal ini menyebabkan banjir bandang di Sumatra dengan dampak kerusakan yang jauh lebih besar,” katanya.

Mengingat risiko banjir bandang yang masih sangat besar selama musim hujan, Dwikorita menyarankan pemerintah untuk membuat studi menyeluruh bersama kementerian terkait, BNPB, pemerintah daerah, para akademisi, dan komunitas kebencanaan.

Penelitian ini perlu secara khusus memasukkan aspek perubahan iklim, kerusakan lingkungan, serta proyeksi risiko hidrometeorologi agar proses pemulihan dapat disiapkan menghadapi kejadian ekstrem yang mungkin terjadi berulang.

Banjir dan tanah longsor di wilayah utara dan tengah Sumatra sejak akhir November 2025 telah menyebabkan hampir 1.000 kematian hingga 13 Desember. BNPB melaporkan pembaruan terbaru per tanggal 12-13 Desember 2025, bahwa sudah ada 995 korban jiwa dan 226 orang hilang di Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat.

Bencana berdampak pada 1,7 juta penduduk, termasuk 884.800 pengungsi, 5.400 korban luka, serta kerusakan pada infrastruktur seperti 3.500 rumah hancur total dan 271 jembatan rusak parah.

Wilayah yang paling terdampak antara lain Aceh Tamiang, Agam, Sibolga, Tapanuli Utara, Tengah, Selatan, serta Padang di Sumatera Barat.

Di Aceh terdapat 391 korban jiwa meninggal, 31 hilang, dan 4.300 luka-luka. Sumatera Utara mencatat 340-343 kematian, 98-138 orang hilang, serta 650 luka-luka. Sumatera Barat memiliki 238-241 kematian, 93 orang hilang, dan 113 luka-luka, dengan total keseluruhan sebanyak 995 jiwa.

Cuaca ekstrem yang diiringi curah hujan sebesar 300 mm, akibat Siklon Tropis Senyar, ditambah kerusakan pada ekosistem hutan memicu terjadinya banjir bandang. Status darurat diperpanjang hingga 25 Desember, sementara proses evakuasi dan pendataan korban masih berlangsung.(antara/jpnn)

Pos terkait