– Karakter anak bangsa perlu dibangun secara menyeluruh agar lahir generasi muda yang tangguh, berdaya saing, bermoral, sekaligus inovatif. Keyakinan itu disampaikan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang menilai penguatan karakter menjadi kunci mewujudkan Indonesia Emas 2045 serta Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara.
Menurut Khofifah, peningkatan kualitas diri dapat ditempuh melalui pengembangan kemampuan akademik dan nonakademik. Sekolah pun dituntut menyediakan ruang yang luas bagi peserta didik untuk mengasah potensi, termasuk di bidang olahraga serta seni dan sastra. Dalam ajang SMA Awards 2025, terdapat 25 kategori akademik dan nonakademik yang diperlombakan, seperti debat, cipta lagu, hingga pencak silat.
“Banyak bidang yang memberikan manfaat besar bagi anak. Contohnya pencak silat. Tak hanya belajar meningkatkan kualitas diri secara fisik, tapi juga membangun karakter, mental, spiritual, serta nilai keIndonesiaan,” ungkap Khofifah.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat. “Kami sangat mengapresiasi semua pihak, baik dinas, sekolah, dan siswa. Mereka telah berkolaborasi khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia unggul dan pelestarian seni budaya,” tutur Emil.
Ia berharap prestasi di SMA Awards 2025 menjadi penyulut semangat bersama sekaligus pengingat bahwa Jawa Timur tidak pernah kekurangan siswa berprestasi.
Pada kategori debat bahasa Indonesia, kisah perjuangan datang dari Emira Luvena Wibowo, siswa SMAN 15 Surabaya. Disiplin dan konsistensi menjadi kunci perjalanannya hingga meraih prestasi.
“Sejak kelas XII saya mulai aktif mengikuti ekstrakurikuler debat yang mendukung pengembangan diri. Tak hanya itu, saya intensif ikut dalam berbagai lomba. Tujuannya bukan hanya menang, melainkan untuk membiasakan diri dengan suasana kompetisi,” katanya.
Meski sempat ragu karena merasa kurang kuat di bidang bahasa Indonesia, dukungan guru membuatnya mantap melangkah. “Saya lebih kuat di bidang bahasa Inggris. Namun, para guru memberikan motivasi kalau saya pasti bisa. Akhirnya, saya mengambil kesempatan itu,” cerita Emira.
Sementara itu, Radhwa Fristia Ramadani dari SMAN 2 Bondowoso menunjukkan konsistensinya sebagai debater berpengalaman. Tantangan terbesarnya adalah format solo dengan waktu persiapan yang singkat.
“Tantangan terbesar adalah menyelesaikan kasus dalam waktu 15 menit, padahal harus menyampaikan argumen selama tujuh menit dengan jelas,” ujarnya. Radhwa mengaku harus mampu beradaptasi cepat dengan berbagai isu yang muncul. “Saya harus mampu beradaptasi dengan sistem yang lebih menuntut kecepatan berpikir dan ketepatan penyampaian,” jelasnya.
Kepercayaan diri juga ditunjukkan Antonia Devica Delians dari SMAN 9 Surabaya yang telah memiliki jam terbang tinggi sejak SMP. Meski sempat minder melihat kemampuan peserta lain, ia justru memaknai ajang ini sebagai ruang belajar bersama. “Prestasi di SMA Awards kali ini akan menjadi pelecut untuk mengembangkan kemampuan dan memberikan pengalaman yang berharga,” pungkasnya.
Di kategori cipta lagu, Diajeng Roro Sekartaji dari SMAN 2 Lumajang keluar sebagai juara pertama lewat karya berjudul Lentera Dunia. Lagu tersebut lahir dari refleksi percepatan digitalisasi saat pandemi. “Saat pandemi itu, muncul percepatan digitalisasi kehidupan,” ujarnya.
Namun, ia menegaskan teknologi hanyalah alat, sementara nilai hidup ditentukan oleh hati dan akhlak. Tantangan terbesarnya justru pada perumusan melodi. “Saya membutuhkan usaha dan inspirasi ekstra hingga akhirnya terciptalah lagu Lentera Dunia,” ceritanya.
Juara kedua diraih Genta Kirana Syura Putra dari SMAN 1 Lumajang melalui lagu Masa Depan Kita yang memadukan lirik relevan dan aransemen unik. Dengan hanya mengandalkan piano, ia menciptakan groove kuat bernuansa pop-funk.
“Saya berharap lagu ini mendorong kesadaran generasi muda untuk berinovasi,” ujarnya. Adapun juara ketiga diraih Kenneth Avery Sutanto dari SMA Kristen Petra 2 Surabaya lewat lagu Visi Harmoni. “Puji Tuhan, hari demi hari ide datang, dan saya bisa merealisasikannya sedikit demi sedikit,” ujar Kenneth, seraya berharap teknologi digunakan dengan hati dan nilai kemanusiaan.
Dari cabang pencak silat, Khalimah Apriliani siswa SMAN 2 Pasuruan tampil sebagai juara pertama putri. Ia harus membagi waktu antara persiapan akademik dan latihan intensif. “Saya harus mampu mengatur waktu antara belajar untuk mempersiapkan tes kemampuan akademik (TKA) dengan latihan intensif untuk menghadapi lomba pencak silat SMA Awards,” tuturnya.
Baginya, pencak silat sarat nilai kehidupan. “Pencak silat mengajarkan disiplin, hormat, sportivitas, dan tanggung jawab,” katanya.
Posisi kedua diraih Alfira Putri Ramadhani dari SMAN Jatirogo Tuban yang konsisten menjaga performa. “Performa tak boleh turun. Jadi, di tengah padatnya tugas sekolah, saya harus disiplin berlatih,” ujarnya. Ia menegaskan pencak silat bukan sekadar olahraga.
“Karena itu dengan berlatih pencak silat, sama artinya dengan ikut melestarikan warisan bangsa,” paparnya.
Sementara itu, Putri Gladis Anggraeni dari SMA Olahraga Sidoarjo meraih juara ketiga dan bertekad terus mengembangkan diri. “Saya sangat senang dan merasa semua kerja keras saya terbayar. Orang tua, kakak, dan pelatih saya adalah sosok paling berjasa dalam perjalanan ini,” urainya.
Melalui SMA Awards 2025, Jawa Timur kembali menegaskan komitmennya dalam membangun sumber daya manusia unggul. Prestasi di berbagai bidang tersebut menjadi bukti bahwa pengembangan karakter, kreativitas, dan budaya berjalan beriringan demi masa depan generasi muda.







