AHLI fisiologi tumbuhan ekologis dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (ITB) Taufikurahman mengatakan banjir dan tanah longsorbiasanya terjadi ketika intensitas hujan tinggi di atas permukaan tanah yang tidak lagi mampu menyerap air secara efisien. “Pada banyak situasi, perubahan hutan alami menjadi hutan produksi dengan satu jenis pohon menjadi penyebab utama,” ujarnya dalam wawancara di situs ITB, Selasa, 16 Desember 2025.
Menurutnya, banjir besar dan tanah longsor di Sumatera adalah bukti nyata bagaimana hilangnya tutupan tumbuhan alami memengaruhi kestabilan ekologis. Kehilangan vegetasi alami menyebabkan sistem hidrologi yang sebelumnya berjalan sendiri menjadi terganggu.
Dalam kondisi alami, hutan yang memiliki pohon mampu mengendalikan, menyaring, serta mendistribusikan air secara seimbang, sehingga air hujan tidak langsung mengalir deras ke permukaan. “Bila tutupan hutan hilang, seluruh sistem ekologis ini akan rusak dan tanah menjadi lebih mudah terkena erosi, banjir, serta tanah longsor,” kata Taufikurahman.
Ia menyatakan bahwa hutan alami merupakan sistem ekologis yang bersluktur dan sangat rumit. Di dalam hutan primer terdapat berbagai jenis pohon besar dengan akar yang menembus dalam ke dalam tanah, lapisan serasah yang tebal, serta komunitas mikroorganisme yang terus-menerus mengurai bahan organik. Kombinasi ini membentuk struktur tanah yangporousatau berpori, kuat, dan mampu menyimpan air dalam jumlah besar.
Selain itu, daun pohon di hutan alami mampu menahan air hujan sehingga air mengalir perlahan dan meresap akibat gaya gravitasi. “Kecepatan air hujan berkurang ketika mencapai permukaan tanah, sehingga mengurangi dampak kerusakan pada lapisan tanah atas,” katanya.
Saat air sampai ke permukaan tanah, lapisan daun atau limbah organik memperlambat aliran dan meningkatkan penyerapan. Akar pohon yang besar, panjang, dan bercabang memberikan daya tahan yang menjaga tanah tetap stabil. Di area lereng curam, akar-akar ini berfungsi sebagai jangkar alami yang mencegah tanah tergeser saat air deras mengalir di lantai hutan.
Sistem alami, menurut Taufikurahman, beroperasi tanpa campur tangan manusia dan telah berlangsung selama ratusan tahun. “Sehingga ketika hutan ditebang atau diganti dengan tanaman budidaya, fungsi ekologis penting tersebut hilang secara tiba-tiba,” katanya.
Dalam perdebatan umum, sering kali muncul pandangan bahwa kelapa sawit bisa menggantikan fungsi hutan karena keduanya berupa pohon. Taufikurahman menekankan bahwa peran ekologis keduanya sangat berbeda.
Ia menyebut kebun kelapa sawit sebagai tanaman monokultur yang terdiri dari satu jenis tanaman dengan jarak antar-pohon sekitar 9 meter, sehingga menghasilkan celah terbuka. Celah-celah tersebut memungkinkan air hujan jatuh langsung ke permukaan tanah dengan energi tinggi.
Selain itu, akar kelapa sawit yang berambut memiliki kedalaman yang termasuk dangkal, sekitar 1,5 hingga 2 meter. “Kondisi ini membuat kelapa sawit kurang mampu menahan air dan mengikat tanah,” katanya. Akibatnya, tanah mudah terkikis ketika terjadi aliran air yang deras (run off) akibat curah hujan yang tinggi.
Kurangnya keragaman tanaman di kebun kelapa sawit, menurut Taufikurahman, mengurangi intensitas siklus nutrisi alami yang mempertahankan kualitas tanah. Penggunaan pupuk dan pestisida secara berlebihan juga bisa merusak makhluk tanah yang sebenarnya diperlukan untuk menjaga struktur tanah agar tetap sehat.
Sebaliknya, upaya memulihkan ekosistem hutan tidak bisa dilakukan secara instan. Pemulihan membutuhkan pendataan spesies asli, penyediaan benih pohon lokal, serta perbaikan kualitas tanah yang sering mengalami kerusakan setelah digunakan untuk menanam kelapa sawit. “Tanah bekas kelapa sawit dan tambang biasanya rusak,” ujar Taufikurahman. “Beberapa di antaranya memiliki potensi hidrogen atau pH yang sangat asam serta struktur tanah yang terlalu padat sehingga harus diperbaiki terlebih dahulu sebelum ditanami.”
Tanpa campur tangan manusia, menurutnya, proses pemulihan alami bisa berlangsung sangat lama, hingga ratusan tahun. Namun, intervensi yang direncanakan dengan baik, seperti persiapan tanah, penggunaan spesies asli, dan pemulihan biota tanah, dapat mempercepat proses tersebut menjadi beberapa puluhan tahun. “Konsistensi ini penting karena keberhasilan restorasi tidak hanya tergantung pada aspek ekologis, tetapi juga pada tata kelola, pendanaan, dan komitmen jangka panjang,” katanya.







