Isi Artikel
Perjalanan ke Kobe
Setelah sehari penuh berjalan-jalan di Osaka, hari ini tibalah saatnya untuk berkunjung ke Kobe, kota pelabuhan yang selalu menawarkan kejutan kecil. Mulai dari lanskap yang terjal hingga keberadaan masjid tertua di Jepang, Kobe memiliki banyak hal yang menarik untuk ditemukan. Pagi hari, kami meninggalkan apartemen dan memesan taksi Go menuju Stasiun Juso. Kali ini, kami tidak pergi ke Stasiun Nishinakajimaminamigata seperti biasanya karena dari Juso tersedia jalur Hankyu Line yang langsung menuju Kobe.
Begitu turun dari taksi, kami berjalan sekitar lima puluh meter melewati jalur pedestrian menuju pintu masuk stasiun. Di depan gate, saya sempat membeli satu kartu ICOCA karena hanya memiliki tiga kartu PASMO dari Tokyo beberapa tahun lalu. Dengan kartu itu, kami bebas naik transportasi atau berbelanja di kombini selama saldo cukup—praktis tanpa perlu repot membeli tiket setiap kali.
Stasiun Juso tampak biasa saja, tidak terlalu besar ataupun ramai. Gedungnya pun sekilas sederhana. Pada mulanya saya mengira Js hanyalah nama daerah, sampai saya melihat huruf kanjinya. Ternyata Juso berarti “tiga belas”—angka yang dalam bahasa Korea dan Hokkian disebut chapsa. Angka 13 dalam kanji memang mudah diingat: gabungan lambang angka sepuluh berupa tanda palang, dan angka tiga yang digambarkan dengan tiga goresan horizontal. Entah kenapa angka itu langsung mengingatkan saya pada permainan kartu yang memakai kartu remi atau poker.
Tidak lama menunggu, rangkaian kereta dengan warna cokelat tua memasuki peron. Dari luar bentuknya mengingatkan pada kereta Jabodetabek, hanya interiornya lebih elegan dan penumpangnya jauh lebih tertib. Kami naik Hankyu Kobe Line Limited Express, yang berhenti hanya di beberapa stasiun seperti Tsukaguchi, Nishinomiya-Kitaguchi, Shukugawa, Okamoto, dan Rokko. Kereta melaju tenang, membawa kami meninggalkan Osaka yang gemerlap menuju Kobe yang lebih lembut. Sekitar tiga puluh menit kemudian, kami tiba di Sannomiya—simpul besar kota yang selalu ramai persimpangan manusia.
Menjelajahi Sannomiya
Stasiun Sannomiya cukup besar dan ramai, tetapi tetap terasa vintage. Tujuan siang itu adalah Nunobiki Herb Gardens, dan dari stasiun kami harus berganti ke Kobe Subway menuju Shin-Kobe. Hanya satu stasiun saja sebenarnya, namun tidak semudah yang dibayangkan. Berbeda dengan Stasiun Namba di Osaka yang penuh petunjuk, di sini arah menuju Subway tidak jelas.
Kami berkeliling dan justru menemukan deretan restoran Kobe Beef yang menggoda. “Nanti malam sebelum pulang ke Osaka kita makan di sini,” kata anak saya sambil menunjuk papan nama yang berkilau. Kami terus berjalan sampai tiba di sebuah plaza modern dengan air mancur, pepohonan rindang, patung abstrak besar dari batu dan logam, serta gedung-gedung tinggi mengelilinginya.
Pintu menuju Subway tetap tidak kami temukan, sampai akhirnya bertanya pada sepasang remaja yang dengan ramah mengantar kami ke sebuah lift tersembunyi. Dari situ perjalanan jadi lebih mudah. Hanya satu stasiun dan kami sudah tiba di Shin-Kobe, disambut petunjuk menuju Herb Garden yang jauh lebih jelas. Tinggal mengikuti panah menuju Hotel ANA Crowne Plaza dan pintu masuk ropeway sudah terlihat.
Naik Ropeway ke Puncak
Harga tiket ropeway pulang-pergi adalah 2.800 yen, sedikit lebih mahal karena sudah masuk periode Natal dan Tahun Baru. Tiket saya beli lewat aplikasi Trip; cukup menunjukkan QR code di ponsel dan kemudian ditukar menjadi tiket fisik.
Kereta gantung naik perlahan, memperlihatkan kota Kobe seperti diorama kecil. Rumah-rumah tampak tersusun rapi, jalanan meliuk lembut, dan bayangan pelabuhan mengintip dari kejauhan. Ada dua stasiun di jalur ropeway, dan kami memilih langsung naik ke puncak. Begitu tiba, suasana berubah total: dekorasi Natal menyambut di setiap sudut. Pohon cemara kecil, lampu-lampu warna-warni, dan bangunan restoran bergaya Jerman berdiri anggun, lengkap dengan musik Natal yang mengalun lembut. Meski kalender baru menunjukkan November, rasanya sudah seperti penghujung Desember.
Langit sedikit berawan, tapi plaza mini itu hangat oleh ornamen merah dan hijau. Sebuah struktur silinder gelap yang menyerupai cerobong asap berdiri di sisi kiri, sementara menara jam bata merah di bagian belakang memberi nuansa Eropa yang sangat kental. Meja-meja dengan pita dekoratif terisi pengunjung yang menikmati kopi, sup, atau sekadar memotret suasana.
Menikmati Pemandangan dan Aroma
Kami memilih duduk di salah satu meja, memesan kopi hangat dan makanan kecil. Kopi terasa lebih nikmat dari biasanya—mungkin karena udara dingin pegunungan, atau mungkin karena pemandangan di depan mata membuat waktu melambat. Kota Kobe tampak seperti lukisan yang dipamerkan khusus untuk kami: gedung-gedung modern berjajar rapi, pelabuhan terlihat sebagai titik-titik putih, dan hutan Gunung Rokko memeluk kota dari kejauhan. Tanpa banyak bicara, kami menikmati masing-masing seruput dalam keheningan yang nyaman.
Setelah tubuh cukup hangat, kami mulai berkeliling area puncak. Taman-taman kecil tertata rapi, jalur setapak di antara bunga musim gugur yang gigih bertahan, serta bangunan bergaya Eropa yang tampak semakin cantik di bawah daun-daun jingga yang gugur perlahan. Di salah satu sudut, saya singgah di Fragrance Museum, sebuah ruangan tenang dengan pencahayaan lembut. Di sana aroma menjadi bahasa. Lavender, chamomile, rosemary—semua tersaji dalam botol kecil yang mengundang pengunjung untuk mencium satu per satu. Lavender mengingatkan saya pada kamar hotel sunyi di Kyoto puluhan tahun lalu, sementara rosemary membawa memori tentang dapur sederhana di Yufuin tempat kami pernah memasak makan malam seadanya.
Museum aroma ternyata seperti pintu kecil menuju masa lalu.
Kembali ke Bawah dan Menuju Masjid Kobe
Keluar dari museum, kami menuruni jalur pejalan kaki. Dari kejauhan terlihat rumah kaca besar yang memantulkan langit pucat. Niat awalnya ingin masuk, tetapi waktu sudah bergerak dan tenaga mulai menipis. Kami memutuskan melihatnya dari jauh saja—dan ternyata itu pun cukup. Rumah kaca tersebut tampak seperti gambar di kartu pos, tidak perlu didekati untuk dirasakan keindahannya.
Setelah puas berkeliling, kami kembali naik ropeway menuju Mid Station. Suasananya jauh lebih santai. Bunga lavender musim dingin yang tampak pucat, dedaunan hijau yang bertahan tenang, dan kereta gantung yang lewat sesekali memberikan latar pemandangan yang memanjakan mata. Di area luar ruangan, hamparan bunga putih dan merah muda mengisi lereng, mengingatkan saya pada bunga cosmos yang sering bermekaran pada musim gugur di Jepang.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan lewat pukul empat sore. Matahari sebentar lagi turun. Dari Mid Station, kami naik ropeway kembali ke bawah. Tiba di dekat Stasiun Shin-Kobe, langkah terasa berat. Agar bisa tiba di Masjid Kobe sebelum magrib, kami memesan taksi daring.
Sopir taksi, seorang pria setengah baya, cukup banyak bicara meski bahasa Inggrisnya terbatas. Ia berbicara dalam bahasa Jepang dengan anak saya yang duduk di depan—dan untungnya anak saya memahami cukup banyak karena sering menonton anime. Sekitar lima belas menit kemudian, taksi berhenti di tepi jalan besar tidak jauh dari masjid. Saya sempat mengira jalan itu tidak boleh dilewati, tetapi ternyata bisa. Tidak jelas juga mengapa sopir berhenti lebih awal. Kami pun berjalan sekitar seratus meter menuju masjid.
Dalam perjalanan, anak saya bercerita bahwa si sopir sempat berkata bahwa orang Islam itu banyak duitnya—dalam bahasa Jepang, “(Isuramu-ky no hito wa okanemochi). Ada-ada saja komentar spontan sopir itu.
Ketika kami mendekati Masjid Kobe, hujan turun perlahan. Mula-mula hanya rintik-rintik, kemudian sedikit lebih lebat. Di bawah payung yang terbuka terlambat, kami berjalan cepat menuju halaman masjid.
Yuk nantikan kisah selanjutnya saat berkunjung ke Masjid Kobe.






