Kisah Risma: Lulusan ITB, Mantan Karyawan BUMN, Kini Jadi Pengusaha Sosial

Latar Belakang dan Perjalanan Karier Risma Indriyani

Hidup tidak melulu soal materi. Terkadang, kecukupan finansial di zona nyaman justru terasa hampa jika tidak diiringi dengan kebermanfaatan bagi sesama. Hal itu pula yang dialami oleh Risma Indriyani, seorang alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) yang memilih banting setir menjadi entrepreneur. Padahal, posisi marketing manager yang ia pegang sebelumnya menjanjikan karier mentereng dan penghasilan stabil.

Namun, panggilan hati dan sebuah “sentilan” lewat peristiwa tak terduga membawanya pulang ke Bandung untuk membesarkan PT Suhuf Kridasana Nusantara, sebuah toko seni dan kerajinan tangan daur ulang ramah lingkungan.

Bacaan Lainnya

Karier Mentereng

Perjalanan karier Risma sebenarnya adalah impian banyak fresh graduate. Lulus dari jurusan Biologi ITB pada 2016, Risma tidak langsung terjun ke dunia bisnis. Ia sadar, dirinya berasal dari keluarga sederhana tanpa latar belakang bisnis yang kuat.

“Jujur, dari dulu saya ingin jadi entrepreneur. Tapi karena keluarga saya sederhana, saya merasa harus punya ilmunya dulu dan mengumpulkan modal. Makanya saya masuk ke perusahaan-perusahaan besar untuk belajar,” ungkap Risma.

Kariernya dimulai sebagai Training Specialist di sebuah perusahaan ponsel swasta selama hampir 4 tahun. Kehausannya akan ilmu membawanya terus naik kelas. Pada tahun 2020, ia bergabung dengan salah satu anak usaha BUMN sebagai Business Development dan Branding Strategist. Prestasinya gemilang. Ia kemudian dipercaya menjadi Marketing Manager di perusahaan tersebut, di mana ia membangun sistem pemasaran dari nol selama dua tahun di Jakarta. Terakhir, pada Maret 2025, ia sempat berpindah menjadi Marketing Manager di sebuah perusahaan fashion.

Titik Balik yang “Memaksa” untuk Pulang

Tahun 2025 menjadi tahun penuh gejolak sekaligus titik balik bagi Risma. Di tengah kesibukannya bekerja, ia merasa gelisah. Ia sempat melakukan sholat istikharah, meminta petunjuk apakah harus bertahan atau mengejar mimpinya.

“Entah kenapa di dalam istikharah itu saya disuruh pulang. Tapi saya enggak pulang-pulang, saya enggak bisa resign,” kenangnya.

Tuhan punya cara lain untuk memanggilnya pulang. Pada Juli 2025, Risma mengalami kecelakaan kerja saat mengurus sebuah event. Lengan kiri atasnya patah. Cedera parah ini memaksanya kembali ke Bandung untuk menjalani pemulihan (bed rest) dalam waktu yang cukup lama.

Dalam masa pemulihan itulah, Risma merenung. Ia melihat kondisi ekonomi yang sedang sulit, tingginya angka PHK, dan banyaknya pengangguran di sekitar tempat tinggalnya.

“Saya mikir, apa ini petunjuk dari Allah? Saya sudah disuruh pulang lewat hati tapi enggak mau, akhirnya dikasih kecelakaan sedikit supaya saya benar-benar pulang dan melihat kondisi sekitar,” ujarnya.

Momen itu membulatkan tekadnya. Risma memutuskan berhenti dari dunia korporat dan fokus total membesarkan PT Suhuf Kridasana Nusantara yang sebenarnya sudah ia akuisisi sejak tahun 2020 namun sempat terbengkalai karena kesibukannya bekerja.

Dari Limbah Menjadi Rupiah

PT Suhuf Kridasana Nusantara yang kini dikelola Risma bukanlah bisnis baru. Perusahaan ini sejatinya berdiri sejak 1994 oleh alumni ITB, namun sempat mati suri. Risma mengambil alih dan melakukan re-branding serta inovasi total.

Berlokasi di Dago Atas, Bandung, Suhuf berfokus pada produksi kertas daur ulang handmade dan kerajinan tangan. Uniknya, bahan baku utama mereka bukanlah kayu, melainkan limbah pertanian seperti pelepah pisang, jerami, hingga serat abaka.

“Kami mengedukasi petani. Biasanya setelah panen, limbah seperti pelepah pisang atau jerami itu dibakar dan merusak lingkungan. Kami datang, kami edukasi, lalu kami beli limbahnya. Dan itu menjadi raw material utama kami saat ini,” jelas Risma.

Dari tangan terampil timnya, limbah tersebut disulap menjadi lebih dari 250 SKU (Stock Keeping Unit). Produknya beragam, mulai dari kertas (ukuran A4 hingga A1), notebook, tempat tisu, hingga corporate merchandise.

Tak hanya itu, Suhuf juga membuat kerajinan dari serat alam, seperti biji-bijian yang diwarnai. Nantinya, material tersebut diolah menjadi aksesoris dan hiasan.

Distribusi Produk dan Pemberdayaan

Distribusi produk Suhuf kini telah merambah berbagai kanal. Selain menyuplai toko ritel besar seperti Paperclip, Suhuf juga melayani pasar Business to Business (B2B) untuk merchandise perusahaan BUMN dan swasta, serta pasar ritel melalui media sosial.

Salah satu nilai utama yang dipegang Risma dalam menjalankan Suhuf adalah pemberdayaan. Ia tidak semata mengejar profit, tetapi ingin menciptakan dampak sosial atau circular economy.

Saat ini, Suhuf dibantu oleh sekitar 10 karyawan tetap dan 5 freelancer. Namun, rantai pasoknya melibatkan komunitas yang lebih luas. Risma memberdayakan petani lokal di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur sebagai penyedia bahan baku.

Yang menyentuh, mayoritas mitra petani Suhuf adalah kelompok usia yang tak lagi produktif secara industri.

“Rata-rata petani lokal yang kerja sama dengan kami usianya di atas 60 tahun. Bahkan ada nenek-nenek usia lebih dari 100 tahun yang ikut mengumpulkan limbah,” cerita Risma.

Menghadapi Ketidakpastian dalam Ekonomi

Melepas gaji tetap sebagai manajer demi pendapatan bisnis yang fluktuatif tentu bukan keputusan mudah, apalagi bagi generasi milenial di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu. Namun, Risma memiliki definisi sukses yang berbeda.

“Kalau bicara materi, pasti lebih enak gaji stabil. Tapi saya merasa egois kalau hanya memikirkan diri sendiri. Rezeki itu bukan cuma uang, tapi juga kebahagiaan batin seperti seberapa banyak kita bisa menolong orang,” tuturnya bijak.

Bagi Risma, kunci menghadapi ketidakpastian adalah integritas, memastikan rezeki yang halal, dan kemauan untuk terus belajar. Ia percaya, sekecil apa pun usaha yang dijalankan, jika niatnya untuk memberi manfaat, keberkahan akan mengikuti.

“Selagi saya punya privilege dari posisi pengalaman untuk bisa membantu lebih banyak orang. Dan saya mikir, mumpung usia saya pun masih usia produktif yang saya juga masih bisa berusaha banyak untuk perusahaan ini,” terangnya.

“Salah satu panutan saya menjadi bisnisman adalah Nabi Muhammad. Dan juga saya ingin menjadikan Suhuf ini sebagai amal jariyah. Saya membayangkan misalnya 10 orang pekerja suhuf digaji bisa untuk makan anak istrinya. Keberkahan yang didapat berkali lipat,” pungkas Risma.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *