Kesejahteraan Guru Honorer dan Swasta yang Masih Memprihatinkan
Guru honorer dan guru swasta di Indonesia seringkali menjadi perhatian yang kurang maksimal dari pemerintah. Padahal, mereka merupakan garda terdepan dalam mewujudkan tujuan nasional mencerdaskan kehidupan bangsa. Sayangnya, kesejahteraan mereka masih jauh dari harapan.
Bayangkan saja, banyak guru honorer atau guru swasta hanya menerima honor berkisar antara Rp 200.000 hingga Rp 500.000 per bulan. Angka ini jauh di bawah batas UMR (upah minimum regional), bahkan tidak layak disebut sejahtera. Ini sangat memprihatinkan mengingat tugas dan tanggung jawab mereka begitu berat.
Beberapa menteri pernah menyatakan bahwa “jika ingin kaya jangan jadi guru”. Namun, hal ini sangat bertentangan dengan realitas yang ada. Guru adalah pilar utama pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing, menilai, dan merancang program pembelajaran.
Perbandingan antara guru honorer dan penerima bantuan sosial seperti PKH, BPNT, KIP, atau BLT sangat jelas. Misalnya:
- Ibu rumah tangga penerima PKH menerima bantuan sekitar Rp 600.000–1.000.000 per bulan. Tugas mereka hanya membawa foto dan KTP saat pencairan.
- Penerima BPNT hanya perlu hidup dan menunggu waktu datangnya bantuan, tanpa syarat apapun.
- Penerima KIP menerima bantuan sekitar Rp 450.000–1.800.000 pertahun. Orang tua tinggal menerima, anak tinggal sekolah.
- Penerima BLT Desa hanya perlu memiliki KTP miskin untuk mendapatkan bantuan.
Sementara itu, guru honorer harus memenuhi berbagai persyaratan dan menjalani tugas yang sangat berat. Berikut beberapa tugas dan persyaratan yang harus dipenuhi oleh guru:
- Guru wajib memiliki kualifikasi pendidikan minimal Sarjana (S1 atau D4) dan lulus PPG jika ingin mendapatkan tunjangan sertifikasi.
- Guru harus memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional sesuai ketentuan pasal 10 UU Guru dan Dosen.
- Guru wajib membuat RPP atau modul ajar, melaksanakan praktik pembelajaran, melakukan penilaian hasil belajar, mengoreksi ulangan, dan hadir setiap hari.
- Guru juga harus siap bangun pagi-pagi agar tidak terlambat masuk sekolah dan membimbing siswa yang kesulitan belajar.
Namun, bayaran yang diterima jauh dari kata layak. Penghasilan mereka hanya cukup untuk bensin, bahkan banyak yang bekerja sampingan untuk menutupi kebutuhan hidup. Ini sangat tidak manusiawi mengingat peran mereka dalam membangun masa depan bangsa.
Meski tidak semua guru honorer menerima honor kecil, tetapi di sebagian besar sekolah swasta maupun negeri, kondisi mereka masih sangat memprihatinkan. Banyak dari mereka bekerja full 24-40 jam per minggu, menghadiri rapat, bimtek, piket, ekstrakurikuler, dan bahkan menjadi psikolog, dokter gigi, wasit, serta pengganti orang tua.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pemerintah belum memberikan perhatian serius terhadap kesejahteraan guru honorer dan swasta. Jika benar-benar ingin mencerdaskan bangsa, maka pemerintah harus mulai melihat kembali bagaimana memberikan perlindungan dan penghargaan yang layak bagi para guru.







