Isi Artikel
Tantangan dan Prospek Emitter Sawit di Akhir Tahun 2025
Harga minyak kelapa sawit (CPO) global terus mengalami penurunan yang signifikan, yang memengaruhi kinerja emiten-emiten kelapa sawit di Indonesia. Menurut data dari Bloomberg, harga CPO untuk kontrak pengiriman Februari 2026 ditutup melemah sebesar 1,25% ke level MYR 3.958 per ton pada Selasa (16/12/2026). Posisi ini merupakan yang terendah sejak 13 Juni 2025. Dalam sebulan terakhir, harga CPO sudah turun sebesar 5,96%.
Meskipun ada penurunan harga, beberapa emiten CPO tetap optimis akan mencatatkan pertumbuhan pendapatan di tahun 2026. Salah satunya adalah PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), yang berencana menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 10-20% dari target 2025.
Pada akhir September 2025, SSMS membukukan laba bersih sebesar Rp 1 triliun, naik dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2024 sebesar Rp 609,3 miliar. Laba bersih per saham pun senilai Rp 105,40 per lembar. Pendapatan yang dikantongi sebesar Rp 11,01 triliun per kuartal III 2025, naik dari Rp 7,38 triliun pada periode sama tahun lalu. Capaian ini sudah mencakup 113% dari target pendapatan SSMS sepanjang 2025.
Untuk tahun 2026, SSMS menetapkan proyeksi produksi TBS sebanyak 2.010.098 metrik ton. Ini tumbuh 29% dari proyeksi sepanjang tahun 2025 dan naik 19% dari target awal tahun ini. Untuk produksi CPO, perseroan menetapkan target sebanyak 773.413 metrik ton di tahun depan. Ini tumbuh 44% dari forecast 2025, dan tumbuh 23% dari target awal 2025.
Selain SSMS, PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) juga percaya diri bisa mencatatkan peningkatan pendapatan di tahun depan. Namun, SGRO belum menyampaikan target pertumbuhan pendapatan maupun produksi di tahun 2026.
Dampak Bencana Banjir Bandang dan Tanah Longsor
Beberapa emiten CPO menghadapi tantangan dari dampak bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Termasuk dalam hal ini adalah PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dan PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT).
LSIP mengungkapkan bahwa area yang terdampak bencana banjir tersebut sebanyak di bawah 2% dari total luas lahan perkebunan perseroan di Sumatra Utara. Area yang terdampak genangan air di bawah 2% dari total luas lahan perkebunan Perseroan di Sumatra Utara dan kondisinya terus membaik. Hal ini tidak berdampak signifikan baik dari aspek finansial, fasilitas produksi dan kegiatan operasional perseroan.
Sementara itu, ANJT memiliki kebun di Provinsi Sumatra Utara melalui entitas anak, PT Austindo Nusantara Jaya Agri (ANJA) yang berlokasi di Binanga dan PT Austindo Nusantara Jaya Agri Siais (ANJAS) yang berlokasi di Padang Sidempuan. Berdasarkan laporan, kegiatan di Kebun ANJA tetap berjalan normal dan tidak mengalami dampak banjir maupun tanah longsor, sehingga seluruh kegiatan operasional berlangsung seperti biasa.
Kebun ANJAS mengalami gangguan operasional akibat curah hujan yang tinggi dan genangan air di beberapa bagian areal kebun, serta adanya sejumlah titik longsor pada jalan poros ANJAS-Padang Sidempuan yang menghambat proses logistik. Meski demikian, seluruh fasilitas, seperti perumahan karyawan, gudang, PKS, kantor kebun, dan klinik dalam kondisi aman. Seluruh karyawan serta staf berada dalam kondisi selamat dan sehat.
Proyeksi Pertumbuhan Produksi Nasional
Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder AP Trading Insight Singapore, Kiswoyo Adi Joe melihat, meskipun harga CPO mengalami penurunan, tetapi emiten sawit masih bisa mencatatkan margin yang bagus selama harga masih di kisaran MYR 4.000 per ton. Bahkan jika ada koreksi sesaat ke MYR 3.800 per ton, mereka masih aman. Ini lantaran biaya produksi para emiten yang biasanya di bawah MYR 1.500 per ton.
Di sisi lain, pertumbuhan produksi nasional juga diproyeksikan tidak sampai 2% pada tahun 2026. Ini karena mayoritas tanaman sawit secara nasional yang sudah tidak ada pada rentang usia produktif, yaitu di atas 15 tahun. Replanting juga masih akan berjalan lambat, khususnya pada perkebunan milik petani rakyat. Sebab, harga yang tinggi membuat para petani rakyat ogah melakukan replanting dan memilih menjual produksi di harga atas. Pada saat yang bersamaan, emiten besar seperti LSIP dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) yang aktif replanting, sehingga berpotensi memperlambat pertumbuhan produksi.
Perkembangan Harga Saham Emitter CPO
Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan, Banjir Sumatra bisa menaikkan harga CPO, mengingat ada suplai yang terganggu. Namun, hal ini harus didorong dengan meningkatnya permintaan. Selain itu, momen Natal dan Tahun Baru bisa menjadi momen meningkatnya permintaan, sehingga bisa berpotensi menaikkan harga CPO.
Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Fath Aliansyah menjelaskan, harga saham emiten CPO sudah naik banyak sepanjang tahun 2025. Tengok saja, harga saham PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) yang naik 94,77% YTD. Saham SSMS naik 23,46% YTD, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) naik 54,74% YTD, LSIP naik 18,97% YTD, ANJT melesat 144,76% YTD, dan AALI 18,55% YTD.
Mayoritas saham-saham CPO sudah mengalami kenaikan yang 30-40% YTD, bahkan lebih dari 100% sejak awal tahun sampai ke titik tertinggi. Sehingga, jika terjadi koreksi harga saham emiten CPO dalam beberapa waktu belakangan juga merupakan hal yang wajar. Misalnya, dalam sebulan terakhir, ANJT sudah turun 11,39%, AALI turun 4,55%, LSIP 16,25%, TAPG 13,37%, dan DSNG 9,82%.
Rekomendasi Investor
Azis bilang, koreksi saham emiten CPO juga merupakan hal wajar, mengingat harga yang sudah tinggi. Namun, hal ini bisa menjadi kesempatan bagi investor untuk masuk, karena valuasi akan terlihat murah dan memiliki potensi kenaikan.
Di tahun 2026, prospek emiten CPO juga masih positif lantaran ada penerapan B50 yang berpotensi meningkatkan permintaan domestik. B50 juga bisa menambah permintaan dari domestik dan akan mengurangi ekspor, sehingga tetap menjaga harga CPO di atas MYR 4.000 per ton.
Azis merekomendasikan beli untuk SSMS dengan target harga Rp 1.920 per saham. Sementara, Kiswoyo merekomendasikan beli untuk LSIP, AALI, dan ANJT dengan target harga jangka panjang masing-masing Rp 2.000 per saham, Rp 10.000 per saham, dan Rp 2.000 per saham.






