Isi Artikel
Aksi Swadaya Warga untuk Perbaikan Jalan di Berbagai Daerah
Di berbagai daerah, warga sering kali mengambil inisiatif untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak karena keterbatasan anggaran pemerintah. Hal ini terlihat dari aksi swadaya yang dilakukan oleh masyarakat di beberapa wilayah, termasuk di Padukuhan Sonyo, Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), serta Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kampak, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.
Perbaikan Jalan di Padukuhan Sonyo
Di Padukuhan Sonyo, warga melakukan perbaikan jalan secara swadaya selama sepekan terakhir karena dinas terkait tidak memiliki anggaran untuk penanganan kerusakan. Jalan yang rusak parah di sejumlah titik menjadi prioritas warga. Dukuh Sonyo, Suranto, menyebut ada lima titik kerusakan serius di wilayah Gunung Kelir dan Sonyo yang menjadi prioritas. Empat titik paling mendesak telah diperbaiki dengan panjang sekitar 150 meter. Namun, perbaikan tersebut hanya memungkinkan akses sepeda motor, sementara kendaraan roda empat masih kesulitan melintas karena jembatan masih terputus.
Perbaikan terakhir dilakukan pada Minggu (14/12/2025) dengan membuka separuh badan jalan agar akses warga tidak terputus sepenuhnya. Langkah ini bersifat sementara untuk menjaga mobilitas warga. Salah satu titik paling krusial adalah gorong-gorong yang sebelumnya diperbaiki secara darurat menggunakan batang kelapa (gelugu) pada pertengahan tahun. Perbaikan tersebut hanya bertahan sekitar empat bulan sebelum kembali rusak akibat longsornya talut.
Seluruh kegiatan perbaikan dilakukan melalui donasi swadaya warga yang ditutup pada Minggu lalu, dengan total dana terkumpul sekitar Rp 45 juta. Warga bergotong royong melakukan pengecoran rabat beton tanpa melibatkan kontraktor atau pekerja proyek. Jika realisasi anggaran pemerintah dirasa terlalu lama, maka warga berencana melanjutkan perbaikan jembatan secara mandiri.
Perbaikan Jalan di Desa Ngadimulyo
Di Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kampak, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, warga juga mengambil inisiatif untuk memperbaiki jalan yang sudah rusak selama sekitar 10 tahun. Jalanan yang menjadi poin vital bagi keberlangsungan hidup masyarakat itu tidak mendapat tanggapan sama sekali dari pemerintah. Akhirnya, warga memutuskan untuk berlaku mandiri dengan mengadakan iuran dan gotong royong perbaikan.
Iuran sukarela yang terkumpul dari masyarakat untuk perbaikan itu senilai Rp 10.450.000. Jalan yang mengalami kerusakan salama sekitar 10 tahun tersebut berada di lima rukun tetangga (RT) Dusun Tanjung, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kampak, Trenggalek. Setiap kepala keluarga atau rumah memberi iuran sukarela kepada masing-masing kordinator RT, sebesar Rp 50.000. Bahkan ada yang memberi iuran lebih. Bagi warga yang kurang mampu, tidak diwajibkan iuran sukarela tersebut.
Uang yang terkumpul digunakan untuk membeli material seperti semen dan pasir guna perbaikan jalan. Proses pengerjaan jalan rusak sepanjang sekitar 1,5 kilometer itu membutuhkan waktu tiga hari. Saat ini, jalan sudah jadi dan bisa dilewati masyarakat untuk berbagai aktivitas dengan nyaman dan aman.
Tantangan dan Harapan Masyarakat
Perbaikan swadaya warga mencerminkan inisiatif masyarakat dalam menjaga akses dasar. Namun, kondisi ini sekaligus menunjukkan keterbatasan kapasitas anggaran daerah dalam menangani kerusakan infrastruktur secara menyeluruh dan berkelanjutan. Di sisi lain, masyarakat berharap agar pemerintah memberi perhatian terhadap kondisi jalan yang ada di kawasan pelosok. Sebab, sebagian besar masyarakat di wilayah desa bergantung pada infrastruktur jalan guna melakukan berbagai aktivitas.






