Masa Depan yang Tidak Selalu Harus Berlari
Beberapa hari lalu, saya mewawancarai seorang manajer senior. Ia menjadi manajer di usia 26 tahun. Kariernya melesat cepat, lengkap dengan jabatan dan hidup yang dari luar tampak sudah “jadi” dan banyak dikejar oleh banyak manusia di muka bumi ini. Kini usianya 31. Dan di bulan Desember ini, ia memutuskan resign. Rumahnya dijual. Alasannya singkat: ia ingin istirahat. Bukan cuti panjang. Bukan jeda sambil menunggu tawaran lain. Istirahat sungguhan.
Dari cerita itu, saya sadar, mungkin masalah generasi kita bukan karena kurang ambisi, apalagi malas kerja, melainkan karena terlalu lama diajari untuk terus kuat tanpa jeda. Kompasianer, mari kita akui. Kita adalah generasi yang paling menyedihkan di muka bumi yang terus menerus dihancurkan ini. Kita disuruh multitasking: kerja, bikin konten, investasi kripto (yang grafiknya lebih mirip detak jantung pasien kritis), sambil tetap harus terlihat “waras” di media sosial. Hasilnya? Kita jadi generasi burnout yang estetik. Capek, tapi fotogenik. Hancur, tapi takarirnya motivasional nun energik.
Di tengah kegilaan konoha yang menuntut kita menjadi segalanya, saya punya Resolusi 2026 yang mungkin menghina para motivator seminar kesuksesan. Saya nggak mau lagi jadi robot organik yang bahan bakarnya adalah Kopi Ahong dan validasi kosong. Kalau ditanya apa hal baru yang saya lakukan tahun ini? Jawabannya bisa bikin linglung: saya belajar cara bernapas menggunakan teknik mindfulness hanya supaya nggak meledak saat membaca tagihan utang yang masih menggunung.
Tahun 2025 adalah tahun di mana kita dipaksa berlari di atas treadmill yang kecepatannya dinaikkan terus oleh entah siapa—mungkin algoritma, mungkin kapitalisme, atau mungkin sekadar ekspektasi tetangga. Kita terobsesi menjadi produktif sampai lupa caranya menjadi manusia. Apakah ini akan saya lanjutkan tahun depan? BIG NO. Cukup.
Beberapa bulan lalu, saya duduk di kafetaria kantor. Saya mengalami epifani spiritual gara-gara beberapa individu kucing. Kucing itu lantas duduk di pangkuan saya. Posisinya absurd. Dia nggak peduli bahwa dunia sedang krisis iklim, Sumatera dilanda “bencana” tapi pemerintah belum menetapkan bencana nasional juga. Dia nggak pusing memikirkan apakah personal branding-nya di medsos sudah cukup estetik. Bahkan ketika kami take foto ini, ia bodo amat dengan pose. Dan yang paling penting, dia nggak cemas soal “Resolusi 2026”.
Saya menatapnya iri. Dalam hati saya membatin, “Bajilak, enak betul jadi lu, Prob (namanya).” “Nggak perlu mikirin pajak, nggak perlu validasi HRD, dan nggak perlu pura-pura bahagia lihat postingan pejabat yang lagi liburan ke wisata bencana.” Jadi, kalau cuma boleh memilih satu hal untuk dilakukan tahun depan, resolusi saya terdengar sangat nggak ambisius. Satu hal itu adalah: membudidayakan seni bengong tanpa rasa bersalah. Ya, kamu nggak salah baca. Bengong.
Saya ingin mengembalikan hak asasi manusia yang paling purba, hak untuk nggak menjadi apa-apa: diam. Bukan diam karena sinyal hilang, bukan diam karena loading otak lemot, tapi diam karena sadar memilih untuk nggak memilih. Memilih untuk nggak merasa FOMO saat orang lain pamer pencapaian “30 Under 30” atau “Resolusi Saldo 1 Miliar Pertama”. Mungkin ada satu role model yang bakal saya pilih yaitu batu kali. Belajar dari batu di sungai. Air, alias masalah hidup, mengalir deras, tapi batu tetap di situ. Basah? Iya. Hanyut? Nggak. Paling cuma menggelinding dikit kalau arus lagi ngamuk. Selebihnya? Dia chill. Dia diam, kuat, dan ya sudah, jadi batu saja.
Di zaman sekarang, menjadi “biasa saja” adalah tindakan pemberontakan yang radikal. Coba perhatikan para pemangku kebijakan atau CEO startup yang sering muncul di timeline. Mereka teriak-teriak soal “Inovasi 5.0”, “Agile Mindset”, dan “Disrupsi Global”. Padahal, syarat lowongan kerja yang mereka buat makin hari makin mirip naskah film horor: “Dicari: fresh graduate, pengalaman 5 tahun, bisa desain, coding, akuntansi, sekaligus merangkap pawang hujan. Gaji: UMR (nego tipis).”
Saya pernah diskusi dengan seorang teman. Ia mengutip kalimat yang cukup terkenal: “Nggak salah kamu terlahir miskin, tapi kalau kamu mati miskin, itu yang salah.” Saya bilang, kalimat itu nggak sepenuhnya tepat. Di negara konoha, banyak orang dimiskinkan secara struktural. Rumah dan tanah dirampas, diganti deretan pohon sawit, sementara hutan tumbang dan rakyat jelata jadi yang pertama kali menjerit ketika alam membalas.
Sistem menuntut kita terus bergerak, menghasilkan data, mengklik iklan, dan menjadi konsumen yang patuh. Maka, bengong adalah perlawanan. Saat kita diam dan nggak melakukan apa-apa, kita nggak menghasilkan data bagi algoritma. Kita menjadi glitch dalam matriks. Kita menjadi nggak berguna bagi kapitalisme, dan di situlah letak kemerdekaan sejatinya.
Tahun 2026 nanti, saya nggak ingin resolusi yang muluk-muluk seperti “Gaya Hidup Berkelanjutan” atau “Kemudahan Digital”. Itu terlalu bising. Saya hanya ingin punya waktu di sore hari, duduk di teras, minum teh tawar hangat, dan menatap wajah doi yang mulai tumbuh dewasa tanpa ada notifikasi berisik di saku celana. Saya ingin merasakan kembali bahwa saya adalah manusia, bukan sekadar akun pengguna dengan sekumpulan data perilaku.
Karena pada akhirnya, saat napas kita mulai tersendat-sendat nanti, yang akan kita ingat bukan seberapa banyak deadline yang kita selesaikan atau seberapa banyak pujian yang kita dapat. Yang kita ingat adalah momen-momen hening saat kita benar-benar hadir untuk diri sendiri dan orang-orang yang kita sayang. Jadi, resolusi 2026 saya sederhana: berhenti menjadi Human Doing, dan kembali menjadi Human Being. Semoga kita punya keberanian untuk sesekali nggak melakukan apa-apa. Siapa tahu, kita justru menemukan segalanya di sana.






