Gelombang AI dan Robotik Ubah Dunia Kerja, Inggris Waspadai Pengangguran Massal

– Gelombang kecerdasan buatan (AI)artificial intelligencePerkembangan kecerdasan buatan dan robotika semakin memperkuat perubahan struktural di dunia kerja global. Pemerintah Inggris menganggap teknologi ini memiliki potensi untuk meningkatkan produktivitas dan keterampilan manusia, tetapi secara bersamaan menimbulkan kekhawatiran besar terhadap hilangnya jutaan pekerjaan jika tidak dihadapi dengan kebijakan yang tepat.

Patrick Vallance, Menteri Negara untuk Sains Inggris atau menteri negara di bidang sains menyatakan bahwa kemajuan teknologi kini tidak lagi berlangsung secara bertahap, tetapi memasuki tahap transformasional, terutama melalui penggabungan antara kecerdasan buatan dan robotika. Perkembangan ini, menurutnya, akan mengubah cara manusia bekerja, bukan hanya menggantikan tenaga kerja.

Bacaan Lainnya

Dilansir dari The Guardian, Senin (19/1/2026), Vallance mengatakan bahwa penggabungan antara kecerdasan buatan dan robotik telah menciptakan peluang kerja baru bagi mesin, khususnya melalui perkembangan robot berbentuk manusia.

“Yang benar-benar berubah saat ini adalah gabungan antara kecerdasan buatan dan teknologi robotik. Kombinasi ini menciptakan peluang kerja yang sepenuhnya baru, khususnya dalam pembuatan robot berbentuk manusia. Akibatnya akan meningkatkan efisiensi dan pada akhirnya mengubah karakteristik pekerjaan manusia,” kata Vallance.

Ia menjelaskan bahwa dampak awal dari penerapan kecerdasan buatan dan robotika akan paling terasa di industri manufaktur serta logistik, yang selama ini menjadi wilayah utama dalam penerapan otomasi.

Aktivitas yang memerlukan gerakan berulang di gudang dan pabrik, atau pekerjaan yang secara teknis bisa diotomatisasi, pada banyak situasi akan dialihkan ke sistem robotik. Perubahan ini akhirnya akan mengubah sifat pekerjaan tersebut. Itulah gelombang pertama transformasi,” kata Vallance.

Namun, harapan pemerintah pusat tersebut bertentangan dengan peringatan tajam dari Wali Kota London, Sadiq Khan. Dalam pidato tahunannya di Mansion House, Khan memperingatkan bahwa AI berpotensi “membawa era baru pengangguran massal” jika pemerintah tidak secara serius dan menyeluruh mempersiapkan transisi tenaga kerja.

Menurut Khan, ancaman yang ditimbulkan oleh AI tidak hanya terbatas pada pekerjaan manual atau yang bersifat fisik. Sektor jasa profesional, mulai dari bidang keuangan, hukum, pemasaran, hingga industri kreatif juga menghadapi tekanan signifikan. Ia melihat bahwa posisi pemula dan level junior menjadi kelompok yang paling rentan digantikan oleh sistem otomatis dan algoritma canggih.

Sebagai tanggapan, Pemerintah Kota London membentuk tim khusus AI dan masa depan pekerjaan yang melibatkan pemerintah, pelaku bisnis, serta sektor teknologi. Inisiatif ini juga mencakup program pelatihan gratis berbasis AI bagi penduduk London untuk meningkatkan kesiapan keterampilan di tengah perubahan pasar kerja.

Di sisi lain, Vallance juga menekankan bahwa kecerdasan buatan dan robotika tidak selalu berarti menghilangkan peran manusia. Ia memberikan contoh penggunaan robot di bidang kesehatan.

“Kemajuan teknologi robotika tidak sepenuhnya menggantikan para dokter bedah, tetapi secara signifikan meningkatkan efisiensi dan akurasi pekerjaan mereka,” katanya.

Pemerintah Inggris memperluas wewenang Regulatory Innovation Office (RIO) agar dapat mengurangi hambatan regulasi bagi perusahaan robotika dan industri pertahanan berbasis riset, seperti sistem otonom dan pesawat tanpa awak. Pemerintah juga menyalurkan dana sebesar 52 juta poundsterling, atau kira-kira Rp 1,18 triliun dengan nilai tukar Rp 22.650 per poundsterling, untuk mempercepat penerapan robotika di berbagai sektor bisnis.

Langkah pengurangan regulasi ini bertujuan untuk mempercepat penerapan teknologi, termasuk sistem tanpa awak seperti drone mandiri, yang sebelumnya harus melalui proses izin lintas sektor yang rumit dan memakan waktu selama beberapa bulan.

Beberapa pakar menganggap dampak kecerdasan buatan terhadap tenaga kerja bersifat kontradiktif. Laporan dari Institute Tony Blair menyatakan bahwa AI berpotensi mengurangi antara satu hingga tiga juta posisi pekerjaan di sektor swasta Inggris, namun pada saat yang sama menciptakan kesempatan baru melalui peningkatan efisiensi dan permintaan akan keterampilan khusus.

Pada akhirnya, arus perkembangan AI dan robotika membawa dunia ke titik penting: antara memaksimalkan manfaat dari kemajuan teknologi atau menghadapi ancaman ketimpangan serta pengangguran yang besar. Solusinya terletak pada kebijakan peralihan tenaga kerja, pendidikan dan pelatihan ulang, serta kesiapan negara dalam memahami arah perubahan dunia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *