Isi Artikel
- 1 Kebiasaan yang merusak tangki septik rumah
- 1.1 1. Tidak menguras rutin
- 1.2 2. Penggunaan air yang berlebihan
- 1.3 3. Membuang benda padat ke dalam wastafel
- 1.4 4. Membuang obat-obatan melalui saluran pembuangan
- 1.5 5. Menanam pohon terlalu dekat dengan bak penampung limbah
- 1.6 6. Membuang benda buatan sintetis ke dalam toilet
- 1.7 7. Melakukan perbaikan sendiri tanpa memiliki keahlian yang memadai
- 1.8 8. Membuat struktur di atas tangki septik
- 1.9 9. Mengabaikan tanda-tanda kerusakan
- 1.10 10. Membuang lemak dan minyak ke saluran pembuangan
Pengolahan limbah di rumah tangga tidak dapat lepas dari peran tangki septik. Fungsi utamanya adalah menyimpan dan memproses sampah sebelum dibuang ke tanah.
Sayangnya, masih banyak pemilik rumah yang tidak menyadari kesalahan kebiasaan mereka, sehingga menyebabkan tangki septik cepat rusak, tersumbat, bahkan meluap.
Kerusakan pada septic tank tidak hanya menghasilkan bau yang tidak sedap, tetapi juga berpotensi mencemari lingkungan serta membahayakan kesehatan.
Kebiasaan yang merusak tangki septik rumah
Berikut beberapa hal yang telah terbukti merusak sistem septic tank dan sebaiknya dihindari, menurut laporan dariTri County Pump:.
1. Tidak menguras rutin
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah tidak melakukan pengosongan atau pemompaan tangki septik secara rutin. Padahal, di dalam tangki akan terjadi penumpukan limbah padat yang akhirnya berubah menjadi lumpur yang keras.
Jika tidak segera ditangani, endapan tersebut dapat menghambat saluran dan menyebabkan tangki penuh hingga akhirnya meluap. Sebaiknya, tangki septik dipompa setiap dua hingga empat tahun, tergantung pada kapasitas serta jumlah penghuni rumah.
2. Penggunaan air yang berlebihan
Septik tank memang dibuat untuk menyimpan air limbah, namun terdapat batas kapasitas yang tidak boleh dilanggar. Kebiasaan menggunakan toilet secara berlebihan, meninggalkan keran terbuka dalam waktu lama, atau penggunaan air yang berlebihan dapat membuat tangki cepat penuh.
Jika tingkat air terlalu tinggi, proses penguraian limbah tidak berjalan secara efisien. Oleh karena itu, gunakan air dengan bijak dan lakukan pemeriksaan pada bak penampung limbah setidaknya setiap dua sampai tiga tahun untuk memastikan kondisinya tetap terkendali.
3. Membuang benda padat ke dalam wastafel
Toilet bukan dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah. Namun, masih banyak orang yang membuang pembalut, tisu basah, popok, kain, serta barang kebersihan lainnya ke dalam toilet.
Benda-benda tersebut sulit terurai dan berisiko menyumbat saluran pembuangan serta bak penampung limbah. Akibatnya, air limbah dapat meluap dan merusak sistem pengolahan. Seluruh benda padat yang tidak organik sebaiknya dibuang ke tempat sampah, bukan ke toilet.
4. Membuang obat-obatan melalui saluran pembuangan
Obat yang sudah kedaluwarsa sering kali dibuang ke dalam toilet karena dianggap lebih mudah. Padahal, zat kimia yang terkandung dalam obat bisa merusak bakteri alami yang ada di dalam septic tank rumah.
Meskipun bakteri tersebut memiliki peran penting dalam memecah limbah, jika bakteri tersebut mati, proses pengolahan limbah akan terganggu dan sistem septic tidak berjalan secara efisien. Gunakan metode pembuangan obat yang lebih aman dan ramah lingkungan.
5. Menanam pohon terlalu dekat dengan bak penampung limbah
Kehadiran pohon atau semak di sekitar bak septik juga berbahaya. Akar tanaman bisa tumbuh tidak terkendali dan menembus saluran maupun dinding tangki, termasuk beton.
Kerusakan yang disebabkan oleh akar tanaman sulit diperbaiki dan dapat menyebabkan kebocoran parah. Oleh karena itu, sebaiknya menanam pohon dengan jarak yang cukup jauh dari lokasi septik tank dan saluran pipa.
6. Membuang benda buatan sintetis ke dalam toilet
Bahan-bahan sintetis seperti beberapa jenis pembersih kimia, pewangi toilet dalam bentuk bubuk, atau bahan lainnya tidak mampu mengalami penguraian secara alami.
Zat-zat tersebut akan terendap di dasar tangki dan menjadi penyebab tersumbat. Jika ingin membersihkan saluran pembuangan, gunakan metode alami seperti air panas, jeruk lemon, atau baking soda yang lebih aman untuk sistem septic.
7. Melakukan perbaikan sendiri tanpa memiliki keahlian yang memadai
Pemeliharaan mandiri memang mungkin dilakukan, namun tidak cocok untuk sistem septik tank. Tanpa pengetahuan dan peralatan yang cukup, perbaikan justru dapat memperburuk kerusakan.
Masalah kecil dapat berkembang menjadi kerusakan yang lebih parah dan memerlukan biaya yang lebih tinggi. Dalam hal sistem septic tank, lebih baik serahkan kepada ahli yang memiliki pengalaman.
8. Membuat struktur di atas tangki septik
Membangun gudang, dek, atau struktur lain di atas septic tank atau area penyerapan dapat merusak saluran pipa dan struktur tangki.
Selain itu, tangki septik memerlukan akses yang mudah untuk pemeriksaan dan pembuangan berkala. Jika tertutup oleh bangunan, perawatan akan menjadi sulit. Pastikan area tangki septik tidak terhalang oleh konstruksi tetap.
9. Mengabaikan tanda-tanda kerusakan
Sistem tangki septik rumah umumnya menunjukkan gejala ketika mengalami masalah, seperti genangan air, bau yang menyengat, saluran tersumbat, atau tanaman tumbuh lebih baik di area tertentu.
Mengabaikan gejala ini hanya akan memperburuk keadaan. Semakin cepat masalah ditangani, semakin rendah kemungkinan kerusakan parah.
10. Membuang lemak dan minyak ke saluran pembuangan
Minyak, lemak, dan sisa makanan yang berminyak hampir tidak bisa larut dalam air. Bila dibuang ke dalam toilet atau saluran pembuangan, bahan-bahan tersebut akan menumpuk dan menyebabkan kerusakan pada saluran pipa serta tangki septik rumah.
Lemak sebaiknya dikumpulkan dan dibuang dengan cara yang tepat, bukan dibuang ke sistem saluran pembuangan rumah.







