Menemukan Makna di Balik Layar dan Kegelapan EO

Indikator lampu pada alat komunikasi itu berkedip merah, disertai suara dengung lembut yang meminta konfirmasi laporan lapangan. Pada saat yang sama, kursor di layar laptop di sudut meja masih berkedip sabar, menunggu satu kata penutup untuk esai yang telah saya susun sejak pagi hari.

Dua dunia ini—keributan pengelolaan acara dan ketenangan ruang menulis—merupakan gambaran kehidupan saya saat ini.

Bacaan Lainnya

Sebagai seseorang yang hampir menginjak usia enam puluh tahun, saya tidak lagi mendengar suara mesin absen atau melihat tumpukan map disposisi. Namun, anehnya, saya merasa jauh lebih “sibuk” sekaligus jauh lebih “hidup”.

Banyak orang bertanya, mengapa masih memikirkan urusan logistik acara yang melelahkan atau terus-menerus berpikir di depan layar? Jawabannya singkat: saya sedang mengikuti arah jarum kompas.

Jika kehidupan diibaratkan sebagai peta, maka Ikigai adalah daya tarik yang memastikan setiap langkah yang saya ambil tidak hanya berputar tanpa arah.

Tetap “Menghirup Udara” Melalui Acara dan Tulisan

Di usia yang sudah tidak muda lagi, saya tidak ingin hanya duduk diam di rumah tanpa aktivitas. Menjadi EO dan menyalurkan ide melalui tulisan membuat hidup saya terasa lebih hidup. Bahkan salah satu tujuan saya pada tahun 2026 adalah menulis setidaknya satu artikel setiap hari.

Menariknya, apa yang saya lakukan sebagai EO dan penulis ini selaras dengan kampanye’Healthy Ageing’ dari WHO.

Menurut mereka, menjaga kemampuan fisik dan mental tetap terjaga pada usia mendekati 60 tahun merupakan kunci agar kita tidak hanya hidup lama, tetapi juga tetap bisa berfungsi dan mandiri.

Bekerja dengan tim yang jauh lebih muda di lapangan membantu saya tetap up-to-date dan saling berbagi semangat.

Namun, WHO juga memberikan peringatan penting: tetap produktif tidak berarti bekerja tanpa batas. Keseimbangan menjadi kunci, agar semangat untuk berkarya tidak justru memberatkan hati kita.

Memilih Memberi Makna, Bukan Hanya Bertahan Hidup

Bagian mana dalam karier ini yang paling menghidupkan? Bukan saat uang dari faktur masuk, melainkan ketika melihat kerumunan orang tertawa bahagia di acara yang saya susun. Saat peserta menikmati momen selama perhelatan berlangsung.

Kebahagiaan juga muncul ketika seorang pembaca memberikan komentar, ‘Tulisan ini menggambarkan perasaan saya.’ Di situlah Irigai saya berdetak kuat.

Dulunya, karier mungkin terasa seperti kereta api yang harus mengikuti jalur perusahaan. Kini, melalui menulis dan EO, karier saya seperti sebuah kompas.

Ia tidak memaksa saya untuk pergi, tetapi menunjukkan jalan agar saya tidak kehilangan arah di tengah kekosongan masa purnatugas. Terjadi satu perubahan besar yang saya alami. Pekerjaan bukan lagi tentang bertahan hidup, melainkan tentang memberikan makna.

Saat ini, bagi saya, setiap apresiasi yang diberikan oleh klien EO merupakan bentuk pengakuan terhadap profesionalisme. Setiap komentar di artikel mengenai hubungan antara tulisan saya dengan pembaca terasa seperti suntikan energi.

WHO juga mengenalkan ‘Ageing is Living’—seni menikmati setiap tahap kehidupan yang muncul seiring bertambahnya usia.

Meningkatkan kesehatan secara seimbang bukan hanya tentang keadaan tubuh, tetapi juga pilihan untuk tetap mampu dan terlibat aktif dalam masyarakat sesuai kemampuan yang kita miliki.

Kompas Menuju Kebermanfaatan

Kemana arah kompas ini bergerak? Ia mengarah ke ‘kebermanfaatan’. Saya tidak lagi mengejar puncak piramida, melainkan luasnya dampak. Selama jari masih mampu mengetik dan pikiran masih bisa berorganisasi, saya tetap ingin terus berjalan ke arah tersebut.

Bagi saya, menjadi EO dan penulis pada usia yang dianggap ‘jenampu’ merupakan wujud Ikigai—pertemuan antara passion dan manfaat.

WHO menggambarkannya sebagai ‘Healthy Ageing’, sementara masyarakat Jepang menyebutnya sebagai kunci umur panjang yang bahagia. Kedua istilah ini mengarah pada pesan yang sama: terus berkarya selama hal itu memberi kita alasan untuk tersenyum setiap pagi.

Hanya perubahan status di dalam kartu identitas yang membuat seseorang menjadi jenampu, namun semangat Ikigai berkaitan dengan menjaga api di dalam identitas itu sendiri. Kompas saya sudah lurus, bagaimana dengan kompas kalian?

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *