,MEDAN – Malam itu, di sebuah rumah sederhana, Kecamatan Belawan Sicanang, Medan Belawan, Romanda Siregar (33) dan anaknya Asmi Anggraini (4) sedang bersiap-siap berkunjung ke rumah kerabatnya.
Romanda mengenakan celana jeans, kaus dalam berwarna biru dongker, dibalut jaket jeans biru muda.
Sedangkan Asmi Anggraini, mengenakan setelan kaus berwarna merah kartun Angry Bird.
Dengan suasana hati yang gembira, mereka bersiap hendak merayakan tahun baru dan silaturahmi di rumah kerabat sang suami.
Namun, sebelum ke rumah rekan suaminya, mereka harus menjemput sang suami terlebih dahulu di sekitar pajak baru, Belawan.
Tak ada firasat apapun yang dirasakan Romanda malam itu.
Cuaca cerah, angin malam berhembus seperti biasanya di wilayah pesisir tersebut.
Pada Senin malam 5 Januari 2026, sekira pukul 19:30 WIB, Romanda dan anaknya, Asmi Anggraini berangkat dari rumah menumpangi becak motor untuk menjemput suaminya yang bekerja sebagai nelayan terlebih dahulu.
Dalam perjalanan menembus malam di Kecamatan paling ujung Kota Medan, tepatnya di depan kantor Pos Belawan, Jalan Medan – Belawan, laju becak motor terhenti.
Rupanya, sedang ada sekelompok orang sedang tawuran menggunakan senjata tajam saling serang.
Lantas, mereka terpaksa menunggu sampai tawuran mereda, karena khawatir menjadi sasaran.
Tak ada aba-aba ataupun peringatan, tiba-tiba peluru melesat menembus kulit mata sebelah kanan anaknya, Asmi Anggraini yang duduk di dalam becak.
Seketika, Asmi memegang mata sebelah kanannya sambil meringis kesakitan.
Begitu dilihat, darah mengucur deras dari mata kanan anak keempat tersebut ke bajunya.
Melihat kondisi Asmi, Romanda panik, detak jantungnya berdetak kencang.
Ia spontan langsung memeluknya dan berupaya mencari pertolongan.
Ibu rumah tangga ini pun meminta sopir becak melaju ke RS Prima Husada Cipta Medan, karena yang paling dekat.
Rupanya, jalan menuju ke lokasi ditutup akibat tawuran.
Lantas mereka beralih ke sebuah klinik tak jauh dari lokasi.
Sesampainya di klinik, ternyata pihak klinik tak mampu menangani karena posisi luka berada di tempurung mata.
“Karena klinik pun gak berani dan disarankan ke rumah sakit.”
Mendengar pernyataan pihak klinik, Romanda bersama tukang becak langsung bergegas menuju ke rumah sakit Prima Husada Cipta Medan, dengan harapan jalan sudah dibuka, dan tawuran sudah mereda.
Begitu sampai di persimpangan jalan, ternyata tawuran masih berlangsung, dan jalan ke rumah sakit tak bisa dilalui kendaraan.
Sebagai ibu, Romanda spontan langsung turun dari becak, dan menggendong Asmi dengan kondisi bercucuran darah, lalu berjalan kaki ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, kekecewaan kembali dirasakan Romanda.
Ternyata dokter mata sedang tidak ada jadwal hari itu.
Pihak rumah sakit pun menyarankan ke rumah sakit lainnya untuk penanganan.
“Kami turun, gendong anak bawa ke rumah sakit. Sampai ke RS PHC gak ada dokter mata,”ungkapnya.
“Kalaupun ada, 2 Minggu sekali,”sambungnya.
Rasa takut, khawatir bercampur aduk di dalam pikiran dan hati Romanda.
Kemudian, ia pun pergi ke pinggir jalan berulang kali menyetop mobil agar diantar ke Rumah Sakit Pirngadi Medan.
Sampai akhirnya, ada sebuah mobil yang bersedia mengantar mereka ke RS Pirngadi Medan.
Sesampainya di rumah sakit sekira pukul 21:00 WIB, Asmi langsung ditangani mulai dari pemeriksaan dan di scan bagian matanya.
Disinilah baru diketahui, peluru bersarang di bagian mata kanan dan hampir menembus otaknya.
“Posisi peluru di tempurung mata. Hampir kena otak.”
Saat ditemui di RS Pirngadi Medan, Romanda Siregar duduk di samping kanan Asmi Anggraini diatas ranjang rumah sakit.
Keduanya masih mengenakan pakaian yang sama, sejak kemarin.
Bahkan, di bagian dada sebelah kiri jaket jeans yang dikenakan Romanda, bercak darah yang sudah mengering masih terlihat jelas.
Sedangkan Asmi Anggraini, mengenakan kaus berwarna merah, dengan kondisi mata kanan anak tak berdosa ini terlihat ditutup perban.
Sesekali, ia seperti menahan rasa sakit akibat luka tembak yang dialaminya.
Kulitnya tampak pucat, dengan posisi selang infus melekat di tangan sebelah kirinya.
Sambil bergetar menahan air mata, Romanda mengkhawatirkan kondisi anaknya.
Sebab, meski sudah ditangani, peluru masih bersarang di mata kanan Asmi Anggraini sampai sekarang.
Di RSUD Pirngadi, tidak memiliki dokter spesialis mata.
Sedangkan di rumah sakit lainnya, seperti RS USU ruangan penuh dan RSUP Adam Malik dokter spesialis sedang tidak ada.
Ia pun khawatir kondisi anaknya kian memburuk akibat peluru belum diangkat dari kulit matanya.
“Jadi kita bertanya-tanya kapan mau dioperasi, dirujuk.”
Pikiran Romanda bertambah kacau karena mengetahui biaya rumah sakit anaknya tidak bisa ditanggung Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) karena kecelakaan.
Namun ia mendapat keringanan dari RS Pirngadi Medan, setelah mengurus surat miskin dan melengkapi administrasi lainnya.
Akan tetapi, pembayaran harus tetap dilakukan karena tercatat sebagai pasien umum.
Belum lagi kalau nantinya Asmi dirujuk ke rumah sakit lainnya, karena biayanya berbeda lagi dengan biaya di RS Pirngadi Medan.
Sebagai ibu rumah tangga dan suami yang bekerja sebagai nelayan, ia merasa tak sanggup membayar tagihan rumah sakit.
Ia berharap kepada pemerintah, maupun donatur yang bisa meringankan bebannya.
Selain keselamatan anaknya yang menjadi hal utama, biaya rumah sakit juga ia dan suaminya pikirkan.
“Saya khawatir sekali bagaimana caranya supaya peluru bisa diangkat,”keluhnya.
“Kalau untuk bayar, kita orang gak mampu. Mengharapkan BPJS katanya gak menanggung,”sambungnya.
(Cr25/)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan







