“EPIPHANEIA” TUHAN & POTRET WAJAH MANUSIA
Rm. Fidel Wotan, SMM
OPINI– Pada hari ini Gereja Katolik merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan atau sering disebut dalam bahasa Yunani “Epiphaneia”. Biasanya perayaan Epifani dalam konteks keagamaan Kristen jatuh pada 6 Januari. Epifani berarti Manifestasi, Penampakan atau Theophany. Gereja Kudus melembagakan pesta ini sejatinya untuk memperingati tiga manifestasi Yesus: pertama, sebagai Tuhan, Ia mau membiarkan diri-Nya disembah oleh para Sarjana dari Timur (para Majus). Kedua, sebagai seorang manusia, Ia menerima baptisan dari Yohanes; ketiga, sebagai seorang pembuat mukjizat, Ia mengubah air menjadi anggur pada Pesta Pernikahan di Kana (lih. Yoh 2:1-11).
Pada hari ini, Liturgi Gereja mengingatkan dengan cara yang sangat istimewa pada “manifestasi pertama”, yakni Yesus tampil sebagai Tuhan dan tindakan penyembahan (adorasi) dari para Majus. Senada dengan manifestasi dari Tuhan ini, sebetulnya Nabi Yesaya pun telah berkata: “Bangkitlah, menjadi teranglah sebab terangmu datang dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu” (Yes 60:1). Lalu dikatakan lebih lanjut bahwa dalam terang-Nya, bangsa-bangsa dan raja-raja akan berduyun-duyun datang kepada terang-Nya dan raja-raja menyongsong cahaya yang terbit dari-Nya (bdk. Yes 60:3). Lalu, dikatakan pula di sana: “Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling! Mereka semua datang berhimpun kepadamu: anak-anakmu laki-laki datang dari jauh dan anak-anakmu Perempuan digendong. Melihat itu engkau akan heran dan berseri-seri … dan berbesar hati sebab kelimpahan dari Seberang laut akan beralih kepadamu, dan kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepadamu. Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu … Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyur Tuhan” (Yes 60:5-6).
“Epiphaneia” dan Potret Wajah Manusia
Injil pada Hari Raya Penampakan Tuhan menampilkan dua potret manusia yang berbeda satu dengan yang lain. Gambaran manusia yang pertama ialah orang-orang yang berhati tulus mencari Allah seperti para Majus dari Timur. Para Majus ini kadangkala disebut para Raja dari Timur/para Sarjana, Ahli astrologi /perbintangan dari Timur. Gambaran wajah manusia yang kedua ialah orang yang berhati jahat yang kurang beriman atau tidak percaya kepada Allah dan tak menyambut atau menerima, mengakui karya-Nya. Tipe manusia seperti ini nyata dalam diri Raja Herodes di mana Ia berpura-pura baik (bermulut manis) mau menyembah Sang Bayi Yesus yang baru lahir, tetapi sebetulnya dari dalam lubuk hatinya muncul suatu niat buruk, jahat terhadap-Nya.
Dipandang dari posisi mereka, para Majus ini bukanlah golongan biasa dan sederhana, karena mereka adalah orang besar, Raja ahli (Sarjana dari Timur, astrolog dari Timur). Mereka juga sering dijuluki sebagai orang pintar dan pandai, kaum profesional. Namun demikian, sejatinya mereka adalah “orang yang tulus hati dan jujur”. Lihatlah, betapa orang pintar, para Raja ahli dari Timur ini mau berjalan jauh di mana mereka rela meninggalkan negeri asalnya hanya untuk mencari Tuhan. “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia” (Mat 2:2). Pencarian para sarjana dari Timur ini sebetulnya harus dikatakan lebih berkenan di hadapan Tuhan, sehingga Ia pun mau menampakkan diri kepada mereka melalui petunjuk bintang-Nya dan perjumpaan langsung di Betlehem, tempat kelahiran Tuhan sendiri.
Warta kelahiran Tuhan Yesus disampaikan bukan hanya kepada para gembala, melainkan pula kepada para Majus dari Timur. Di mana persisnya tempat mereka tidak dikatakan dalam Injil Matius, tetapi menurut para ahli, “Timur” di sini bisa saja menunjuk tempat di mana ada banyak orang bijak berada. Mereka mengetahui kelahiran Raja orang Yahudi itu karena melihat “bintang-Nya muncul di langit” (ay 2). Memang “sebuah bintang akan terbit dari Yakub dan tongkat kerajaan dari Israel”, demikian nubuat Bileam seorang penenung yang juga berasal dari Timur (Bil 24:17). Bintang ini muncul waktu Yesus dilahirkan, hanya mereka tidak tahu di mana persisnya Raja baru itu dilahirkan. Itulah sebabnya, mereka pergi ke Yerusalem untuk menanyakan peristiwa itu. Mereka memang datang hanya untuk menyembah-Nya, namun pertanyaannya apakah mereka sendiri rela dan mau menjadi bawahan-Nya? Injil tidak menjelaskan apa-apa mengenai hal tersebut.
Raja Herodes seperti yang diwartakan Injil Mat 2:3 sangat terkejut mendengar berita itu, dan menurut para ahli bahkan seluruh “Yerusalem” artinya “segenap kekuasaan pusat menjadi gempar”. Bagaimana mungkin ada Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan di tengah-tengah wilayah pemerintahan atau kekuasaannya? Tentu saja Herodes sang penguasa saat itu merasa sangat heran, barangkali ia pun diliputi perasaan takut karena ternyata ada seorang Raja baru yang telah lahir di Betlehem. Oleh karena itu, untuk meyakinkan dirinya, ia memanggil para ahli Kitab dan bertanya di manakah Mesias itu dilahirkan. Namun pertanyaan yang patut diajukan di sini, mengapa para ahli kitab yang dipanggil dan bukan para maestro lainnya? Bukankah ini perkara politik? Memang ini merupakan political problem bahwa itu benar demikian, akan tetapi hal ini memiliki teologinya sendiri, lagi pula Raja kaum Yahudi yang baru lahir ini bukanlah sembarang Raja. Dia bukanlah raja kelas bawah, melainkan Raja hebat yang dinanti-nantikan umat. Itulah sebabnya mengapa para ahli kitab yang dipanggil oleh Herodes dan bukan para ahli di bidang yang lain (politik, ekonomi, sosial, budaya, dll).
Yang Kurang Berpengalaman dalam “Memimpin” (Berkuasa), Patut Waspada
Hati Herodes tidak lagi sabar untuk segera mengetahui identitas Sang Raja baru itu. Jadi, pada hakikatnya ia sangat penasaran dan barangkali juga diliputi rasa takut yang luar biasa mendengar secara langsung berita yang disampaikan para Majus kepadanya. Ia benar-benar dibuat pusing dan heran, seakan-akan tak percaya akan berita yang menggemparkan dirinya dan juga seisi istana serta “seluruh Yerusalem”. Atas dasar inilah maka secara diam-diam Herodes memanggil para sarjana dari Timur dan menyuruh mereka supaya mencari Anak itu dengan saksama. Jikalau mereka telah menjumpai-Nya, dia sendiri berpesan agar ia pun diberitahu supaya ia datang menyembah-Nya. Padahal sebagaimana yang dinyatakan dalam Injil Matius, Herodes sudah berniat jahat terhadap Bayi itu; dia ingin membunuh-Nya (bdk. Mat 2:9). Sering dikatakan demikian bahwa setiap orang yang kurang berpengalaman dalam memimpin atau orang yang memiliki sedikit kekuasaan pasti harus waspada. Selanjutnya, para Majus pergi mengikuti petunjuk “bintang” tersebut. Kini arah dan tujuan para Sarjana dari Timur ini sudah sangat jelas, mereka tidak perlu Kompas yang lain. Para Majus ini tidak hanya datang mau menyembah-Nya, tetapi juga sebagai orang yang terpandang (Sarjana/Ahli), mereka pun mempersembahkan segala yang dimiliki. Tentu saja persembahan yang mereka berikan adalah yang “terbaik, termahal, dan barangkali yang terindah” dari segala yang mereka miliki. Itulah sebabnya mengapa mereka mempersembahkan emas, dupa dan mur. “Emas” menandakan bahwa Yesus adalah Raja, sementara “dupa” menyatakan ke-Allahan-Nya. Kemudian “mur” secara teologis menyatakan kematian-Nya yang menyelamatkan (karena ini dipakai untuk merempahi tubuh Yesus, bdk. Mrk 16:1; Yoh 19:40). Kemudian, mereka pulang ke negeri mereka melalui jalan lain sesuai petunjuk yang diterima dalam mimpi.
“Epiphaneia”: Natalnya para Bangsa
Pada hari Raya Epifani ini, sekali lagi kita pun merayakan Natal, tetapi Natal yang dirayakan hari ini adalah Natalnya para bangsa. Para bangsa pun turut bersukacita, karena mereka pun diberi anugerah untuk datang menyembah Yesus di Betlehem. Berkenaan dengan ini, A. Berthold Pareira menerangkan: “sebelum suku-suku bangsa kita menjadi Kristen, Allah telah berbicara kepada kita melalui bimbingan bintang, tetapi di mana Yesus berada kita belum tahu. Kita adalah orang Majus. Sekarang kita pun diberitahu bahwa Yesus dilahirkan di Betlehem, Dia menjadi Raja kita, dan Dialah yang memenuhi segala kerinduan, dambaan hati kita.” Akan tetapi, kita pun tidak dapat mengingkari bahwa masih ada banyak orang yang tidak mau menyembah-Nya dan merasa bahwa kedudukan ataupun statusnya terancam oleh kehadiran-Nya, lihat saja para ahli kitab Taurat, kaum Farisi dan Herodes sendiri, apakah mereka beriman pada Allah, apakah mereka mau mengakui, dan percaya serta datang menyembah Yesu. Itu samasekali tidak terjadi. Raja Herodes justru mau membunuh Anak itu, karena kehadiran-Nya dianggap sangat mengganggu stabilitas pemerintahan-Nya. Baginya, kelahiran Raja baru ini merupakan ancaman serius terhadap kuasa yang dimilikinya.
Barangkali situasi serupa masih terulang pula di zaman kita. Ingatlah bagaimana ketika umat Kristen merayakan Natal pada waktu-waktu lalu khususnya di Jawa, sumatera, dll. Ada saja kelompok warga atau masyarakat tertentu yang berusaha mengganggu perayaan Natal dan bahkan beberapa kali menghancurkan gereja atau rumah ibadat umat Kristen di saat perayaan Natal sedang berlangsung. Dulu memang masih sering terjadi hal itu, tetapi belakangan ini sudah mulai berkurang.
Pesta Epifani yang dirayakan pada hari ini mestinya meneguhkan iman kita sebagai orang Kristen agar seperti para Majus, kita pun berani berjalan jauh mencari dan menyembah-Nya, seperti seorang peziarah yang rela bepergian jauh meninggalkan tanah asalnya demi sesuatu yang dicari dan dirindukannya. Itulah sebabnya, hidup kita di dunia saat ini adalah sebuah “ziarah” menuju Dia yang kini telah lahir bagi kita, Sang Raja baru itu, Yesus Kristus. Dengan bintang-Nya, Dia akan menuntun kita sampai pada-Nya, dan di sana kita pun seperti para Majus mau menyembah dan mempersembahkan segala sesuatu yang dimiliki untuk diberikan pada-Nya.
Manusia, Insan Peziarah yang Terus Mencari Tuhan?
Sebagai manusia, selama kita masih berziarah di bumi, kita pun adalah orang-orang yang sedang berada dalam suatu upaya untuk mencari sesuatu dalam hidup kita (makan, pekerjaan, jodoh, kepastian hidup, dll). Samaseperti para Majus, mereka pun berjalan jauh mencari Tuhan dan mau menyembah-Nya. Kita pun, dalam hidup ini, perlu terus belajar mencari Tuhan, tidak hanya sekali, dua kali, tetapi setiap detik, setiap waktu. Pertanyaannya, sebagai orang Kristen sejati, apakah kita mau mencari dan menemukan Tuhan dalam hidup kita? Jikalau sekedar mencari, Herodes pun telah mencari-Nya. Para Majus mencari Yesus untuk menyembah-Nya, tetapi itu tidak terjadi pada Herodes. Dia memang ingin mencari dan menemukan Yesus, Raja baru itu, tetapi pencariannya itu adalah sebuah kamuflase, suatu kepura-puraan belaka. Justru ia mencari Yesus bukan untuk memuji dan menyembah-Nya, melainkan untuk membunuh-Nya.
Kita perlu belajar banyak dari sikap para Majus yang mencari Tuhan yang baru lahir itu. Mereka adalah orang besar, orang pintar sebagaimana di tengah-tengah kita ada orang besar yang memiliki kuasa dalam pemerintahan. Ada banyak orang yang memiliki pendidikan tinggi dan bergelar, namun tidak semuanya mereka memiliki hati dan sikap yang tulus seperti para Ahli, para Sarjana dari Timur itu. Para Majus adalah orang hebat, pintar yang berhati jujur dan tulus. Mereka adalah orang-orang yang rendah hati karena tidak pernah menggunakan kekuasaan dan kepintaran mereka untuk memperdaya orang lain. Kehebatan mereka justru terletak dalam kerendahan hati, di mana mereka tidak menjadi angkuh dan sombong. Ringkasnya, mereka tidak memakai status, jabatan, kedudukan atau kepintarannya untuk memengaruhi masyarakat ke arah yang buruk, memprovokasi orang untuk melakukan tindakan anarkis atau tindakan ketidakadilan. Mereka juga bukanlah bilangan orang yang berhati pahit, jahat seperti Herodes.
Catatan Akhir
Sikap tulus dan jujur seperti para Sarjana dari Timur itu kiranya tertanam juga di dalam hati kita. Siapapun boleh berkuasa, memerintah, memimpin dan pintar, namun jika hatinya selalu angkuh, sombong dan tidak pernah rendah hati, jujur dan tulus, maka itu suatu kesia-siaan belaka. Justru itu menampakkan spirit keangkuhan seperti Herodes. Hati yang jujur dan tulus itulah hati yang sangat dirindukan Tuhan. Hati yang demikian tentunya akan menyenangkan-Nya, sehingga Dia juga mau menampakkan diri-Nya kepada siapapun. Hati yang kotor dan jahat seperti Herodes sejatinya akan tertutup bagi Tuhan. Memang seperti yang dikatakan Matius, Herodes bermulut manis “pergilah dan selidikilah dengan saksama hal-hal mengenai Anak itu …” (Mat 2:8), tetapi dalam hatinya timbul niat jahat untuk membunuh Anak itu. Tentang ini, A. Parera menulis: “Mulut manis belum tentu berhati manis dan mulia, lebih baik mulut pahit daripada hati pahit. Mulut pahit dapat dirubah oleh hati yang manis, namun hati yang pahit sulit diubah oleh mulut yang manis.” Seperti para Sarjana dari Timur, kita pun diajak untuk berhati tulus mencari Tuhan dan mau merendahkan diri (menyembah) di hadapan-Nya.
Akhirnya, harus dicatat pula bahwa “ada banyak orang Majus di zaman kita” yang ingin menyembah Yesus, tetapi belum tahu di mana Dia dilahirkan. Tantangan yang harus mereka hadapi amatlah besar. Maka berhadapan dengan orang-orang yang demikian, kita juga dipanggil untuk mendoakan mereka agar mereka pun mau digerakkan hatinya dalam mencari dan menyembah Yesus. Dialah Raja itu, yang telah lahir bagi kita dan hari ini menampakan Diri-Nya kepada para bangsa, dan juga kepada kita sekalian di tempat di mana Dia datang dan tinggal di tengah-tengah kita.***







