Jamaah Umrah Kediri Berharap Rute Langsung Dhoho-Jeddah Segera Dibuka

Bandara Dhoho Kediri: Harapan Baru bagi Jamaah Umrah

Bandara Dhoho Kediri di Jawa Timur kembali menjadi sorotan setelah resmi beroperasi dengan penerbangan komersial perdana pada November 2025. Kehadiran bandara yang digadang-gadang sebagai salah satu proyek strategis nasional ini menumbuhkan harapan besar bagi masyarakat, khususnya jamaah umrah, agar segera tersedia rute langsung menuju Jeddah, Arab Saudi. Harapan itu muncul dari berbagai pihak, mulai dari penyelenggara perjalanan ibadah hingga jamaah yang selama ini harus menempuh perjalanan panjang melalui Surabaya atau Jakarta.

Pimpinan PT Madinah Wisata Muslim Kediri, Ahmad Nurudin, menuturkan bahwa keberadaan Bandara Dhoho Kediri sangat membantu jamaah umrah di wilayah Kediri dan sekitarnya. Menurutnya, selama ini jamaah harus transit di Jakarta setelah berangkat dari Surabaya. Dengan adanya bandara baru ini, ia berharap rute langsung Kediri–Jeddah bisa segera terealisasi sehingga perjalanan menjadi lebih singkat dan efisien. “Ke depan kami harapkan Bandara Dhoho Kediri mampu menyediakan maskapai dari Kediri ke Jeddah. Untuk sementara ini, kami masih transit di Jakarta,” ujarnya saat ditemui di bandara, Jumat (12/12/2025).

Ahmad menambahkan, keberangkatan dari Bandara Dhoho Kediri memberikan keuntungan besar bagi jamaah. Selain lebih dekat, biaya transportasi menuju bandara juga lebih hemat dibanding harus ke Bandara Juanda Surabaya. “Dengan ini, kami bangga karena bisa berangkat dari Kediri. Kalau ke Bandara Juanda menambah ongkos transport domestik, kalau lewat Bandara Dhoho bisa menekan biaya,” katanya. Ia mengingatkan bahwa sebelumnya pernah ada pemberangkatan jamaah umrah dari Kediri, namun sempat terhenti karena operasional bandara tidak berlanjut. Kini, dengan kembali beroperasinya Bandara Dhoho, pihaknya merasa lebih terbantu.

Dalam pemberangkatan kali ini, PT Madinah Wisata Muslim Kediri membawa 50 jamaah dari berbagai desa di Kabupaten Kediri. Mereka dijadwalkan berangkat dari Bandara Dhoho menuju Bandara Soekarno-Hatta Jakarta sebelum melanjutkan perjalanan ke Tanah Suci. Rangkaian ibadah umrah tersebut berlangsung selama sembilan hari. Selain rombongan dari Kediri, ada pula jamaah dari Blitar yang ikut berangkat bersama-sama melalui Bandara Dhoho. Kehadiran bandara ini dinilai membuka akses baru bagi masyarakat di wilayah selatan Jawa Timur yang selama ini harus menempuh perjalanan panjang ke Surabaya.

Salah seorang jamaah, Suyanto, mengaku bersyukur bisa berangkat umrah tahun ini dan merasa senang karena keberangkatan dilakukan dari Bandara Dhoho Kediri. “Senang sekali bisa umrah dan berangkatnya dari Bandara Dhoho Kediri. Saya belum pernah ke bandara sini, dengan keberangkatan ini jadi tahu,” ujarnya. Ia berharap nantinya semakin banyak jamaah yang bisa berangkat, bahkan untuk ibadah haji, sehingga keberadaan bandara ini benar-benar memberi manfaat besar bagi masyarakat sekaligus memperkuat perekonomian daerah.

Bandara Dhoho Kediri sendiri mulai beroperasi dengan penerbangan maskapai Super Air Jet yang membuka rute Kediri–Jakarta sejak 10 November 2025. Direktur PT Surya Dhoho Investama (SDHI), Maksin Arisandi, menegaskan bahwa bandara ini sudah mengantongi sertifikat sebagai bandara internasional. Menurutnya, fokus utama saat ini adalah merealisasikan penerbangan umrah dari Kediri. “Fokus utama kami umrah bisa terealisasi. Hari ini kami sedang bekerja keras tanpa lelah bagaimana supaya umrah bisa terealisasi dari Bandara Kediri. Target kami semoga dalam waktu dekat bisa. Kalau bisa dalam musim haji dan umrah ada ketetapan juga,” katanya.

Dukungan terhadap Bandara Dhoho Kediri juga datang dari pemerintah pusat. Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, menyampaikan bahwa Bandara Juanda Surabaya saat ini sudah melampaui kapasitas optimal sehingga diperlukan alternatif baru untuk pergerakan jamaah umrah dari Jawa Timur. “Bandara Dhoho memiliki potensi besar untuk menjadi hub penting bagi pasar umrah Jawa Timur yang terus tumbuh. Ini peluang besar untuk menghadirkan layanan keberangkatan yang lebih dekat, mudah, dan efisien bagi masyarakat,” ujarnya saat melakukan peninjauan langsung ke Kediri.

Menurut Irfan, dengan infrastruktur modern dan runway yang mampu menampung pesawat berbadan lebar, Bandara Dhoho memiliki nilai ekonomis sekaligus fleksibilitas operasional bagi maskapai. Ia menegaskan bahwa pemerintah akan terus mendorong agar bandara ini bisa menjadi salah satu pintu utama keberangkatan jamaah umrah dan haji dari Jawa Timur. Kehadiran kementerian yang khusus menangani urusan haji dan umrah, lanjutnya, merupakan amanat besar dari Presiden untuk memastikan jamaah memperoleh pelayanan terbaik. “Kehadiran kementerian ini adalah amanat besar untuk memastikan jamaah kita memperoleh pelayanan terbaik, mulai dari hulu hingga hilir,” katanya.

Harapan besar masyarakat terhadap Bandara Dhoho Kediri tidak hanya sebatas kemudahan perjalanan ibadah, tetapi juga menyangkut dampak ekonomi yang lebih luas. Dengan adanya bandara internasional di Kediri, peluang investasi dan pertumbuhan ekonomi daerah diyakini akan semakin terbuka. Transportasi yang lebih mudah akan mendorong mobilitas masyarakat, memperkuat sektor pariwisata, dan membuka lapangan kerja baru. Bagi jamaah umrah, keberangkatan dari Kediri tentu menjadi kebanggaan tersendiri karena bisa berangkat dari daerah sendiri tanpa harus menempuh perjalanan panjang ke kota lain.

Kini, masyarakat menunggu langkah konkret dari pemerintah dan pihak pengelola bandara untuk merealisasikan rute langsung Kediri–Jeddah. Jika hal itu terwujud, Bandara Dhoho Kediri akan menjadi salah satu bandara strategis yang mampu mengurangi beban Bandara Juanda Surabaya sekaligus memberikan layanan lebih dekat bagi jamaah umrah dan haji. Harapan itu terus bergema dari berbagai pihak, dengan keyakinan bahwa dalam waktu dekat, jamaah dari Kediri dan sekitarnya bisa menikmati penerbangan langsung menuju Tanah Suci.


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *